12/01/2005
SIKAT GIGI IDEAL BUAT ANAK
SIKAT GIGI IDEAL BUAT ANAK
Kini banyak beredar aneka bentuk sikat gigi untuk anak-anak.
Sebenarnya, yang paling bagus yang mana, sih?
Sikat gigi, siapa yang tak kenal dengan benda ini. Setelah bangun tidur
dan sebelum pergi tidur, benda bergagang dan berbulu ini akan setia
"menyapu" kotoran yang menempel di gigi dan rongga mulut. Karena fungsinya
yang sangat penting inilah, kita semua membutuhkannya. Para produsen,
bahkan
berlomba-lomba menciptakan sikat gigi yang baik buat anak. Ada yang
menciptakan sikat dengan gagang melengkung, ada juga yang dengan bulu sikat
berbentuk zigzag, atau naik turun seperti gergaji. Kepala sikatnya pun
bermacam-macam, ada yang mengecil, membundar, dan ada yang datar. Bahkan
ada
juga yang kepala sikatnya memang berbentuk bulat agar bisa dioperasikan
dengan tenaga elektrik.
Semua bentuk inovasi dan modifikasi dalam sikat gigi ini, menurut drg.
Widijanto Sudhana, M.Kes., patut dihargai. Itu menandakan kepedulian
para produsen sikat gigi terhadap kualitas barang yang diproduksinya.
"Dengan produk yang menarik dan berkualitas, diharapkan masyarakat,
termasuk anak-anak, bisa terpacu untuk memelihara kesehatan gigi dan
gusinya."
Sikat gigi elektrik misalnya, yang kini sedang dipromosikan secara
luas, sebenarnya sudah diciptakan mulai tahun 70-an di Eropa dan Amerika.
Hanya saja saat itu promosi dan penggunaannya masih terbatas, karena
harganya yang mahal dan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Salah
satunya,
bulu sikatnya yang masih terasa kasar. Seiring dengan perkembangan
teknologi, kualitas sikat gigi ini pun semakin meningkat. Begitu juga
tingkat ekonomi masyarakat, tak heran bila kini sikat gigi tersebut banyak
"dilirik" konsumen.
MEMILIH SIKAT GIGI
Sikat gigi dikatakan ideal bila memenuhi beberapa syarat, yaitu:
* Ukuran sikat harus mampu menelusuri bagian-bagian dalam mulut sampai
gigi bagian belakang. Untuk anak, karena ukuran rongga mulutnya
sangatlah kecil, maka sebaiknya bentuk kepala sikatnya juga kecil dan
pipih,
sehingga bisa menjangkau lorong gigi anak yang sangat sempit.
Kemudian, bulu sikat hendaknya lembut, tapi kuat. Bila ada anggapan
bahwa bulu sikat yang kasar atau kaku dianggap lebih efektif membersihkan
kotoran dan plak ketimbang bulu sikat yang halus, itu tidak benar.
* Bulu sikat gigi yang kasar bisa menyebabkan kerusakan gusi, terutama
gusi yang berbatasan langsung dengan gigi atau yang lazim disebut
dengan leher gigi. "Leher gigi ini sangat sensitif terhadap gesekan-gesekan
mekanis. Jadi, jika gigi disikat terlalu kasar, bisa jadi leher gigi anak
cepat rusak. Dampaknya, bisa menyebabkan infeksi dan kelainan gusi." Gusi
yang rusak membuat umur gigi tidak berumur panjang. Gigi akan mudah goyang
dan akhirnya satu per-satu akan tanggal terkena infeksi. Gusi ibarat
pondasi
sebuah bangunan. Sementara gigi adalah bangunannya. Jadi, meski bangunan
tersebut dibuat dari bahan yang kuat dan berkualitas, tidak akan ada
artinya
jika pondasinya sendiri keropos.
Pondasi yang kuat juga akan sia-sia jika bangunan yang dibuat tidak
kokoh. Jadi, baik gigi maupun gusi harus sama-sama saling menguatkan.
"Itulah mengapa, penggunaan sikat gigi yang benar berkaitan dengan
pencegahan kerusakan gigi dalam jangka panjang."
Tidak hanya itu, email gigi yang terletak di leher gigi pun bakalan
ikut rusak. Penipisan email gigi ini akan menyebabkan gigi kerap mengalami
gangguan, seperti ngilu dan nyeri. Hal ini terjadi karena rusaknya email
turut merusak pelindung syaraf gigi. Jika tidak ditangani secara serius,
lambat laun gigi akan membusuk dan tanggal. Menurut staf pengajar di
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini, masalahnya
kebiasaan menggunakan sikat gigi berbulu kaku itu akan terbawa pula hingga
anak dewasa.
* Sikat gigi harus mampu memijat gusi. Gusi merupakan jaringan lunak
yang harus dijaga kekuatan dan kebersihannya. Itulah mengapa, kita
sebaiknya menjaga peredaran darah di gusi tetap lancar. Caranya, dengan
melakukan pemijatan di areal gusi lewat sikat berbulu lembut tadi. "Dengan
pemijatan teratur setiap hari, maka otot-otot dan peredaran darah di gusi
menjadi semakin lancar. Gusi pun menjadi kuat," tambah kandidat doktor di
Universitas Airlangga Surabaya ini.
* Sikat gigi standar yang banyak beredar di pasaran dengan bulu yang
rata, tangkai yang lurus, dan kepala yang lancip juga mampu berperan
optimal dalam membersihkan kotoran dan plak di dalam gigi. Bentuk seperti
ini juga mudah digunakan dan dikendalikan saat menyikat.
Yang terpenting, lanjut Widijanto, ukuran dan bulu sikat sesuai
standar. "Namun, bentuk kepala sikat, tangkai, maupun bulunya, tidak akan
berarti jika kita tidak tahu cara menggosok gigi yang baik dan benar."
KAPAN GANTI SIKAT GIGI
Sikat gigi harus diganti di antaranya bila bulu sikat rontok, rusak
atau melebar sehingga tidak nyaman atau tidak efektif lagi digunakan
sebagai sikat gigi. Jika pemakaiannya dilakukan dengan baik, tidak kasar,
maka umur sikat gigi biasanya bisa panjang. Tapi jika penggunaannya
sembarangan, umurnya pun biasanya relatif pendek.
Ada beberapa sikat gigi dengan merek tertentu menggunakan helm sebagai
pelindung kepala sikatnya. Hal ini jelas cukup berdampak positif,
karena dengan helm tersebut, kebersihan sikat gigi bisa lebih terjamin.
"Namun kalau tak pakai helm pun tak apa. Jika kita ragu pada kebersihan
sikat gigi, kita bisa mencucinya terlebih dahulu dengan menggunakan air
yang bersih."
Selain itu, usahakan agar setiap anak memiliki sikat gigi
masing-masing. Jangan pernah memakai sikat gigi orang lain. "Karena
pemakaian sikat bersama bisa menyebabkan penularan penyakit, seperti flu,
hepatitis, TBC."
KEUNGGULAN SIKAT GIGI ELEKTRIK
1. Gerakan sikat yang memutar
Gerakan sikat yang otomatis memutar efektif dalam membersihkan kotoran
dan plak pada gigi. Jika pengguna meletakkan sikat tersebut dengan
benar, tidak hanya gigi saja yang dibuat bersih, getaran-getaran
(vibration) yang diakibatkan oleh sikat juga membuat gusi ikut terpijat
olehnya.
2. Bentuk kepala sikat yang kecil
Bentuk kepala sikat seperti ini membuat kotoran yang berada di rongga
mulut yang sempit dan sulit dijangkau bisa dibersihkan.
3. Adanya semprotan air
Semprotan air ini juga sangat membantu untuk mengeluarkan
kotoran-kotoran yang tidak terjangkau oleh sikat gigi.
4. Tidak perlu tenaga banyak
Dengan bantuan tenaga baterai, sikat gigi ini jelas lebih nyaman
digunakan karena tidak memerlukan tenaga yang cukup banyak kala menyikat
gigi.
"Jadi, tidaklah salah jika mereka mengklaim bisa membersihkan kotoran
dan plak hingga 80%. Namun harganya juga tak murah," komentar Widijanto.
AJARKAN SIKAT GIGI SEJAK DINI
Yang jelas, seperti dikatakan Widijanto, anak harus dikenalkan pada
sikat gigi sejak gigi susunya mulai tumbuh. "Meski masa tumbuh gigi pada
setiap anak bervariasi, tapi biasanya saat usianya menginjak 2,5 atau 3
tahun, gigi susunya yang berjumlah 20 sudah tumbuh lengkap. Saat itulah
anak
sudah bisa diperkenalkan dengan sikat gigi mini yang lembut dan cocok
baginya."
Namun sebuah riset mengatakan, mengajarkan anak menggosok gigi sama
halnya dengan mengajarkan mandi. Sejak bayi dilahirkan, ia harus mandi
secara rutin dan teratur. Jadi, menggosok gigi juga harus sudah dimulai
saat bayi keluar dari rahim sang ibu. "Meskipun saat itu bayi belum
mengonsumsi makanan padat, tapi setelah menyusui, tetap saja gusinya harus
dibersihkan."
Memang, membersihkan gusi di usia bayi berbeda dengan orang dewasa.
Membersihkan gusi pada bayi cukup dengan kain kasa bersih yang sudah
dicelupkan ke air yang matang, lalu digosokkan pada gusi sang bayi. Akhiri
dengan proses pembilasan lewat pemberian air mineral pada sang bayi.
Jika tindakan tersebut dilakukan secara terus-menerus, maka tindakan
tersebut akan menetap dan menjadi kebiasaan. "Kebiasaan itulah yang
menyebabkan anak terkondisikan agar giginya senantiasa bersih. Yang
terpenting adalah instingnya yang kita asah. Dengan cara ini, secara
naluriah anak akan merasa tidak enak jika sesudah bangun pagi atau sebelum
tidur tidak menggosok gigi." Rutinitas ini juga akan membantu anak untuk
bisa menyikat gigi dengan baik dan benar, yaitu gigi bersih dan bebas dari
kotoran serta plak. Disamping itu, proses pembersihannya tidak merusak gusi
atau email gigi.
Kemampuan anak untuk menyikat dengan baik dan benar sangatlah relatif,
tergantung bagaimana peran orang tua ataupun guru dalam mengajarkannya.
"Jadi, orang dewasa pun harus tahu terlebih dahulu bagaimana menyikat
gigi yang baik dan benar tersebut."
Penting diperhatikan, hingga anak berusia lima tahun, orang tua harus
tetap mengawasi aktivitasnya saat menyikat gigi. Sebabnya, hingga usia
ini anak belum bisa melakukannya dengan baik dan benar. "Namun, bukan
berarti orang tua mesti membantu menggosok gigi anaknya terus-menerus.
Biarkan anak menggosok gigi sendiri sembari diawasi orang tua."
AGAR ANAK SUKA MENGGOSOK GIGI
Berikut tips dari Widijanto agar anak suka menyikat gigi:
1. Libatkan anak saat membeli sikat dan pasta gigi kesukaannya.
Sesuaikan ukuran sikat dengan ukuran rongga mulut anak.
2. Carilah pasta gigi yang aman buat anak. Banyak pasta gigi dengan
rasa buah-buahan, yang mengandung bahan yang aman jika tertelan si kecil.
3. Agar anak bisa melihat dirinya saat menggosok gigi, pasang cermin di
kamar mandi.
4. Siapkan segelas air hangat untuk berkumur-kumur. Ada beberapa anak
yang cepat merasa ngilu dengan air dingin. Menurut Widijanto, sebenarnya
fenomena berkumur selepas sikat gigi masih menjadi kontroversi. Pihak yang
yang tidak setuju beralasan, jika setelah menyikat gigi cepat-cepat
berkumur
maka efektivitas fluor menjadi berkurang. Pasalnya, kandungan fluor yang
terdapat pada pasta gigi dan menempel pada gigi saat disikat, akan mudah
tersapu kembali oleh air saat berkumur. "Saya berpendapat, sebaiknya anak
hanya berkumur sekali saja, tidak usah berkali-kali agar fluor masih bisa
menempel di gigi."
Obat kumur sebenarnya hanya menjadi pelengkap setelah bersikat gigi
sebagai alternatif penyegar mulut. Jadi, membersihkan gigi tidak bisa
digantikan dengan obat kumur.
5. Sediakan handuk yang dapat digunakan untuk membersihkan bibir
setelah menyikat gigi.
6. Berikan pujian padanya setelah "menyelesaikan tugas tersebut". Hal
ini akan membuatnya ingin melakukan kegiatan sikat gigi.
CARA MEMBERSIHKAN GIGI YANG BENAR
Inilah langkah-langkah yang diberikan Widijanto:
1. Usahakan air yang digunakan untuk menggosok gigi benar-benar bersih.
2. Gerakan yang benar saat menggosok adalah dengan rumus FRTW (From Red
To White). Artinya, gerakan menyikat mulai dari gusi yang berwarna
merah ke gigi yang berwarna putih. Gerakan diusahakan bergerak ke satu
arah, dari atas ke bawah untuk gigi atas atau sebaliknya untuk gigi bagian
bawah. Gerakan dua arah menyebabkan kotoran yang tersapu akan balik
kembali.
3. Buatlah gerakan seolah-olah mengeluarkan kotoran dari sela-sela
gigi. Gosoklah semua permukaan gigi, mulai dari gigi bagian luar, tengah,
dan bagian dalam.
4. Jangan lupa, gosok pula gusi secara lembut dengan sikat.
5. Gunakan cermin sebagai alat bantu saat menggosok gigi. Jika hanya
mengandalkan perasaan dan kebiasaan saja, sulit untuk mencapai hasil yang
optimal.
6. Lidah tidak perlu dibersihkan oleh sikat. Lidah memiliki mekanisme
pembersihan tersendiri. Secara otomatis, jaringan-jaringan lunak yang
ada di lidah akan berganti setiap harinya. Ibarat kulit manusia yang
selalu mengalami pergantian dalam waktu tertentu.
Lidah juga bukan tempat bersarangnya plak atau kuman. Kecuali jika
lidah tersebut terluka, kuman dan bakteri bisa masuk ke dalamnya. "Jika pun
ada bintil-bintil putih di lidah, itu bukanlah kotoran, melainkan warna
lidah memang seperti itu."
DENTAL FLOSS (DF) TAK COCOK BUAT ANAK
Tidak semua bagian gigi bisa tersapu bersih oleh sikat gigi, karena itu
pemakaian DF juga amat penting untuk membersihkan daerah2 yang sulit
dijangkau oleh sikat gigi, terutama daerah-daerah antara gigi
(interdental) juga gigi-gigi yang berjejal.
DF merupakan benang gigi yang dirancang khusus. Dibuat dari serat nylon
yang dilapisi lilin sehingga kuat, elastis, dan tidak mudah rusak. Juga
tidak akan merusak gusi jika digunakan secara benar.
Nah, meski penting, Widijanto tidak menganjurkan penggunaan DF ini
untuk anak-anak. Bagaimanapun letak antar gigi anak masih jarang, sehingga
penggunaan DF tidak efektif. Dengan sikat gigi biasa pun gigi anak sudah
bisa dibersihkan. "Selain itu, pemakaian DF pun tidak bisa
sembarangan, karena jika sembrono gusi juga bisa rusak."
DF baru bisa dikenalkan pada anak-anak remaja atau praremaja, karena
selain susunan gigi mereka sudah rapat, mereka juga sudah bisa
menggunakan DF secara baik dan benar.
Saeful Imam. Foto: Vitri/nakita
11:28 Posted in Info Sehat | Permalink | Comments (0) | Email this


The comments are closed.