« Majelis Manasik | HomePage | Hikmah Pengharaman Darah & Babi »
01/20/2006
Please Welcome, Playboy Indonesia...
|
| ||
|
|
| |
| Siapa yang tak kenal majalah Playboy? Rasanya orang yang paling alim sekali pun telah mengenalnya. Minimal pernah mendengar namanya. Walau belum beredar secara resmi di Indonesia, banyak masyarakat kita yang bisa mendapatkannya lewat "jalur tidak resmi". Bahkan, di internet pun kita bebas menikmatinya. Lantas, tersiar kabar bahwa bulan Maret 2006 nanti majalah porno terlaris di dunia ini akan hadir secara resmi di Indonesia. Sebelum Playboy, selama ini sebenarnya sudah banyak media cetak di Indonesia yang mengambil tema seputar eksploitasi fisik wanita. Mulai dari yang kelas bawah nan vulgar, hingga yang dikemas se-elegan mungkin sehingga terkesan elit dan berkelas. Kita harus akui, ini adalah salah satu fenomena atau dampak dari kebebasan pers yang mulai bergulir sejak masa reformasi tahun 1998. Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang menjadi "hantu" paling menakutkan di dunia pers kita pada masa Orde Baru, pun ditiadakan. Setiap orang kemudian bebas menerbitkan media apa saja, tanpa harus meminta ijin ke mana pun. Dari segi kebebasan berekspresi, ini memang kondisi yang sangat bagus. Kita tahu, kini masyarakat kita lebih bebas menyatakan pendapat. Tak ada lagi rasa takut jika ada yang mengkritik Pemerintah. Media massa yang bersuara keras dalam melakukan kontrol sosial pun merasa percaya diri dengan konsep jurnalistik mereka yang amat kritis. Ini memang "surga kebebasan berekspresi" yang amat patut kita syukuri. Namun di sisi lain, kondisi ini juga memberikan kesempatan yang sangat luas terhadap lahirnya media-media yang tidak mengindahkan aspek-aspek moral. Selama delapan tahun menghirup angin kebebasan di era reformasi, kita tentu sudah menyaksikan demikian banyak media yang berciri seperti itu. Media yang hanya berfokus pada pencapaian laba maksimal tanpa mempedulikan moral bangsa kita yang makin rusak. Dan Playboy Indonesia boleh dibilang hanya salah satu gelombang di antara gelombang-gelombang lain yang ikut berperan dalam menggoyahkan tatanan nilai yang seharusnya kita pelihara. Pertanyaannya sekarang, kenapa kita begitu ribut membicarakan Playboy Indonesia? Kenapa keributan yang sama tidak terjadi ketika media-media serupa telah duluan lahir? Mungkin, ini disebabkan oleh faktor "nama" majalah Playboy itu sendiri, yang selama ini sudah terlanjur dicap sebagai simbol media porno terpopuler di dunia. Memang, kita harus akui, Playboy adalah majalah porno yang paling berkelas dan paling legendaris. Begitu banyak media yang berusaha menandinginya, tapi tak satu pun yang berhasil. Walau porno, Playboy dianggap sebagai media yang paling bergengsi. Buktinya, para artis papan atas dunia merasa bangga ketika tubuh mereka yang tanpa busana dipajang di media ini. Adalah sebuah kehormatan besar ketika seseorang bisa tampil telanjang di majalah Playboy. Sepertinya, inilah alasan utama dari keributan tersebut. Menurut hemat penulis, bukan "media porno"nya yang menjadi faktor utama timbulnya pro dan kontra, melainkan simbol, citra dan gaya hidup yang ikut dibawa di balik nama Playboy. Ketika majalah ini secara resmi terbit di Indonesia, ada semacam kekhawatiran bahwa masyarakat kita akan semakin permisif terhadal hal-hal yang berbau pornografi. Masyarakat kita akan makin terbiasa melihat fenomena hancurnya tatanan nilai moral yang justru harus kita pertahankan. * * * Memang, dari sejumlah wacana yang berkembang, ada kemungkinan Playboy Indonesia akan tampil dengan kemasan yang beda. Maksudnya, tidak sevulgar edisi luar negeri. Ide seperti ini antara lain dilontarkan oleh Yoyoh Yusroh, anggota Komisi VIII DPR RI. "Jika desain Plaboy di Indonesia seperti yang ada di Amerika Serikat, saya tidak setuju. Dan saya akan menggalang protes bersama dengan kawan-kawan," ujar Yoyoh, sebagaimana disampaikan kepada detikcom, Kamis (12/1/2006). Di sejumlah mailing list pun, beredar info bahwa Playboy Indonesia akan dikemas secara lebih elegan sehingga tidak terkesan porno. Namun terlepas dari apapun, sebenarnya kemasan dan pornografi adalah dua hal yang berbeda. Dikemas see-elit apapun, pornografi tetaplah pornografi. Para pria normal tetap bergairah ketika melihat foto wanita telanjang, walau dikemas dengan cita rasa seni yang paling indah dan paling elegan sekali pun. Menurut hemat penulis, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi "perasaan bersalah" yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi. * * * Belum Apa-Apa Sudah Ribut? Ada pihak yang menyayangkan, kita terjebak pada kebiasaan berkasak-kusuk. Kita ribut sebelum melihat fakta yang sebenarnya. Majalahnya belum terbit, tapi kita sudah ramai berpolemik. Memang, pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu vulgar. Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra atau Sabili. Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana. Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya belum terbit? * * * Munafik Sejumlah kalangan yang cenderung pro terhadap fenomena pornografi, kerap kali melontarkan pendapat bahwa para pemrotes pornografi adalah orang-orang munafik dan hipokrit. "Masyarakat Indonesia ini sebenarnya hipokrit juga. Mereka membelinya dengan sembunyi-sembunyi, tapi tidak berani menyatakan persetujuannya, malah bicaranya menolak," cetus pengamat media Veven SP Wardhana, sebagaimana disampaikan oleh Detikcom (13/1). Memang kita akui, ada sejumlah masyarakat yang seperti itu. Tapi apakah memang semuanya demikian? Rasanya tidak. Kita tak dapat mengelak dari fakta objektif, bahwa jumlah orang yang sudah amat muak terhadap pornografi pun sangat banyak. Mereka merasa prihatin terhadap kerusakan moral bangsa. Tapi entah kenapa, pihak yang pro seolah-olah tidak peduli terhadap fenomena ini. Mereka sepertinya menganggap bahwa semua orang itu sama. Semua orang senang dengan pornografi. Maka, ketika ada orang yang menolak pornografi, segera dicap sebagai orang munafik dan hiprokrit. Memang, jika memperturutkan hawa nafsu, tentu semua orang senang pada pornografi. Tapi kita juga tidak dapat menutup mata, bahwa masih banyak orang yang mencoba mengendalikan diri, tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Sebab mereka masih peduli terhadap keutuhan sistem nilai dan moral yang seharusnya kita pertahankan. Jadi, ketika Playboy Indonesia benar-benar hadir secara resmi di tengah-tengah kita pada bulan Maret 2006 nanti, mari kita ramai-ramai mengucapkan selamat tinggal pada sistem nilai dan moral yang selama ini kita jaga dengan baik. -Jonru- | ||
02:22 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (4) | Email this
Comments
wah...rupanya Anda sebegitu yakinnya bahwa PLAYBOY INDONESIA akan merusak moralitas bangsa......hmmm,kalo sampai PLAYBOY INDONESIA terbukti tidak melakukan hal yang Anda tuduhkan???? So.....???????
Kalau sempat silahkan baca kajian yang saya tulis terutama tentang konten majalah yang sudah terlebih dulu lahir sebelum PLAYBOY
Posted by: dewi | 01/21/2006
sesungguhnya adalah benar kehadiran playboy akan menambah degradasi moral bangsa, karena walaupun majalah yang serupa yang lebih dahulu ada, majalah tersebut tidak menimbulkan impact yang terlalu besar dibandingkan playboy yang telah memiliki nama besar dan sorotan publik yang sedemikian rupa [yang otomatis hal tersebut akan menimbulkan minat dan rasa penasaran publik terhadap isi majalah itu dan akhirnya menjadi konsumen]. semoga masyarakat dari bangsa ini masih diberi kekuatan untuk mempertahankan nilai moral yang sudah mulai rapuh ini....
Posted by: SALWA | 01/22/2006
Jelas dong, Devi. Dari namanya saja ketahuan, Playboy. Anda tahu sendiri kan artinya ? Terlebih masyarakat Indonesia yang tidak memiliki imunitas yang kuat, self kontrol yang memadai, dsb, dst...kalau majalah sejenis ini dipaksakan masuk, apalah jadinya generasi bangsa...makin hancur hingga ke titik nadir. Anda sendiri sudah siap jika keluarga Anda, anak, istri/suami menjadi penikmat Playboy yang mengumbar aurat walau dikemas sedemikian ? Mana bukti kalo kita merupakan masyarakat religius yang mengagungkan nilai moral ??? Kebanyakan dari kita kan merasa 'aman' jika bukan dirinya sendiri yang 'kena'. Semoga ini cukup dipahami ya...jadi mari kita tolak pornografi apapun bentuknya. Yess.
Posted by: shaheed | 01/23/2006
Benar sekali, Salwa...mari kita jaga diri, keluarga juga masyarakat umunya dari pengaruh-pengaruh buruk, apapun bentuknya. Self imunitas itu sangat penting...keimanan, pengetahuan yang memadai, wawasan religi, dsb...mari kita mulai untuk membina dan mendidik generasi penerus menjadi lebih baik. Bukan semakin rusak dan tidak bermoral...
Posted by: peduli | 01/23/2006


