« 2005-12 | HomePage | 2006-02 »
01/30/2006
Nikmat Mana Lagi ?
Saat itu kami; aku, bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo, mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak.
Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan. Tampak si anak sangat menikmatinya, kehausan barangkali. Setelah si anak puas, ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit, mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya, sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu.. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati.
Dadaku terasa sesak, bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu, "Nak, udah deh, ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Ayo.. cepetan, Bapak sudah menunggu di mobil." Betapa bodohnya aku yang malah mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Astagfirullah.
Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi saya memaknainya lain. Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Syukur Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya.
Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh, Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya, Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu.. Namun.dari banyak nikmat yang ada, sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya.
Nikmat.. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. Ya Allah.. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu... (Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar Rahman: 1-13)
by : Bunda Shafiya
07:35 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this
01/26/2006
Sahabat Sejati
KotaSantri.com : "Barangsiapa yang salah memilih tukang cukur, ia akan menyesal sebulan. Barangsiapa yang keliru memilih teman hidup, ia akan menyesal di dunia. Dan barangsiapa yang salah memilih agama, maka ia akan menyesal dunia akhirat."
Itulah untaian kata-kata yang masih terus terngiang dalam benak kita. Mutiara hikmah yang dipesankan leluhur, orang tua, dan guru ngaji di waktu kecil, agar kita lebih jeli dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, agar kita mantap menatap masa depan.
Kehadiran sahabat sejati menjadi dambaan setiap kita. Ia adalah pelita penerang dalam kehidupan. Ia bak bintang yang menemani sang rembulan di langit malam, bersama menghiasi panorama kegelapan. Ia selalu membawa keteduhan dan kesejukan dimana pun ia berada. Tak heran bila kepergiannya pun akan meninggalkan sejuta kenangan. Hari-hari kebersamaan dengannya selalu sulit untuk dilupakan, selamanya.
Ikatan ukhuwah bagi sahabat semacam ini tak akan putus diterjang badai kepentingan duniawi bernama materi, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Jarak yang jauh, perbedaan waktu dan ruang juga bukan menjadi penghalang, karena pancaran kasih sayangnya timbul dari lubuk hati yang dalam. Bukan dari lisan yang suka berbohong. Bukan pula dari titah nafsu yang penuh noda.
Dia mungkin tak sempat sekolah ke luar negeri, jangankan ke luar negeri melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi tidak mampu. Tidak dapat ke sana-ke mari sebebas kita-kita juga. Kehidupan dunianya pun kadang masih 'Senin - Kamis'. Tapi di tengah kondisi yang seperti itu ia masih sempat untuk selalu melemparkan senyum keakraban saat berpapasan. Ia masih punya waktu untuk menyediakan sapa mesra saat bertemu.
Tausyiahnya begitu menyentuh. Kata-katanya memberikan tetes embun kesejukan. Kondisi yang ada menjadikannya begitu tawadhu' dengan segala keagungan yang dimilikinya. Subhanallaah, kesabarannya membuat semua kekurangan yang dipunyainya menjadi nikmat yang tak terkira, menjadi pesona yang tak ternilai.
Ia memang tidak harus selalu mengiyakan semua tingkah laku kita. Ia tidak mesti selalu sependapat dan melulu memuji. Tidak pula harus selalu tampak sejalan dengan pikiran kita. Tapi ada kalanya ia laksana obat, pahit namun mampu mengusir penyakit yang mungkin hinggap di tubuh sahabatnya. Ia berani mengkritik bijak setiap kesalahan kita. Ia takut kekurangan dan kesalahan itu akan membuat sahabatnya tercela di mata orang lain. Baginya, biarlah ucapannya terasa pahit di depan sang sahabat, ketimbang sang sahabat cacat di mata Allah, di mata agamanya, di mata orang lain.
Ia juga setia mengingatkan di saat sang sahabat lalai. Ia memang tak hanya piawai membuat kita ceria dibuai hiburan dan pujian tulusnya, tapi juga mahir membuat kita menangisi kekeliruan, menyadari segenap kesalahan, menginsyafi segala kelalaian. Lalu ia membimbing dengan ikhlas, mengajak berjalan bersama, berjuang bersama. Dan yang terpenting, ia selalu mendukung, mengarahkan, dan memberi gagasan-gagasan cerdas untuk mengarungi kehidupan ini menuju muara cinta-Nya yang hakiki.
Ia akan mencintai kita sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Merasa gembira dengan kegembiraan kita, turut bersedih kala duka menyapa kita. Ia hafal benar bunyi hadits : "Tidak sempurna iman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri." Ia juga selalu ingat sabda Rasul SAW : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
"Islam hanya akan bisa bangkit kembali dengan cara seperti ini. Bukankah Rasulullah SAW telah mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin hingga persaudaraan mereka sampai melebihi saudara kandung?" Begitu jawabnya setiap ditanya tentang urgensi persaudaraan.
Ia pun sering membacakan hadits tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Ia juga tidak pernah bosan melantunkan hadits tentang syarat merasakan manisnya iman. Saling mencintai demi keridaan Allah, itulah prinsip hidup pegangannya. "Engkau membutuhkan sesuatu dariku dan aku bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu," kata-katanya yang selalu menghiasi lisannya yang sederhana.
Merekalah yang digambarkan Rasulullah SAW sebagai sekelompok hamba Allah di akhirat. Mereka bukan dari golongan nabi dan syuhada, akan tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat mulia, bahkan cahaya benderang dari wajah mereka membuat para nabi dan syuhada merasa iri. Mereka tidak merasa takut ketika orang lain merasa takut, dan mereka tidak merasa khawatir ketika orang lain dilanda kekhawatiran.
Sosok seperti inilah yang mampu menjadikan persahabatan sebagai jembatan menuju ridha Ilahi. Berbahagialah mereka yang sempat mendapatkan makhluk yang satu ini. Merasakan keindahan hakiki ditemani sosok mulia ini, sang pujaan hati, sahabat sejati. (Nur Sidi)
08:23 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (1) | Email this
01/24/2006
Hujan Deras Semalam
Musim hujan begini...mestinya menjadi berkah. Karena apa ? tidak usah banyak berdebat, turunnya hujan justru merupakan rejeki dan berkah tak terkira dari Allah karena dampak ikutannya yang sangat besar. Bagaimana tidak, jika dengan turunnya hujan tanah-tanah menjadi subur karena dialiri lagi dengan air yang deras, tumbuhan dan bunga-bunga juga kerap merekah di musim penghujan ini karena selalu basah oleh air. Lebih jauh lagi, persediaan air tanah juga akan meningkat karena curah hujan yang tinggi setiap hari sehingga kita tidak khawatir jika tiba-tiba mesin air mati tidak mampu menyedot air karena persediaan air tanah sudah habis.
Tapi sekarang segala hal yang ideal itu telah berubah. Turunnya hujan seolah menjadi bencana bagi sementara orang. Banjir terjadi dimana-mana, di kota juga di desa. Hal ini tak lain karena alam sudah kehilangan keseimbangannya. Hutan-hutan yang dulunya rindang sekarang sudah habis digunduli hingga tak mampu lagi menyerap dan menahan lajunya air hujan. Begitu juga lahan-lahan hijau di perkotaan nyaris tak bersisa hingga menyebabkan turunnya hujan sebentar saja banjir sudah menghadang. Banyak lagi jika mau disebut satu per satu. Turunnya hujan semestinya menjadi berkah...tapi karena keserakahan manusia untuk terus mengeksploitasi alam, jadinya ya seperti ini. Alam murka, manusia sengsara.
Tak terkecuali dengan pengalamanku semalam. Sehabis hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur kota Jakarta hampir satu hari penuh, pohon-pohon bertumbangan dimana-mana. Alhasil jalan-jalan protokol menjadi macet luar biasa. Sungguh menyebalkan. Perjalanan pulang kantor menjadi sangat tidak nyaman. Memang sih, jika dibandingkan tahun-tahun lalu, menurutku kondisi Jakarta tahun ini tidak begitu parah. Tapi yang namanya antisipasi dan siaga tetap perlu dong.
Persoalan banjir dan macet memang klise dan klasik. Mungkin sama tuanya dengan perjalanan kota ini. Tapi ya itu tadi, turunnya hujan mestinya membawa berkah dan kesejukan, bukan malah melahirkan makian dan kekecewaan karena macet yang mengular.
07:35 Posted in Curahan Hati | Permalink | Comments (0) | Email this
01/20/2006
Hikmah Pengharaman Darah & Babi
Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam,
diulas
dari sudut pandang
logika dan ilmu kesehatan. Semoga bermanfaat.
Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan
mengenai kata-kata "Halal"
dan "Haram"; apa arti dari kata-kata tersebut?
Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan
apa-apa
yang tak diperbolehkan
diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur'an lah yang menggambarkan
perbedaan
antara keduanya.
Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?
Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan
sependapat
bahwa analisis kimia dari
darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam
urat?),
suatu senyawa kimia
yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.
Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh
manusia,
senyawa ini
dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diber i
tahu bahwa
98% dari uric acid
dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang
keluar
tubuh melalui air seni.
Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur
khusus dalam
penyembelihan hewan
dalam Islam.
Bob: Apa maksud anda?
Yunus: Begini... seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang
Maha
Kuasa, membuat irisan
memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan
organ-organ lainnya utuh.
Bob: Oh begitu... Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena
kehabisan
darah dari tubuh,
bukannya karena cedera pada organ vitalnya.
Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak
dirusak, hewan tersebut dapat
meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya
dan
akhirnya mencemari daging.
Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid,
sehingga menjadikannya
beracun; hanya pada masa kini lah, para ahli makanan baru menyadar i
akan
hal ini.
Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para
Muslim
melarang pengkonsumsian
daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dengan babi?
Yunus: Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur'an dalam
pengkonsumsian
babi, bacon; pada
kenyataannya dalam Bible juga, pada Leviticus bab 11, ayat 8,
mengenai
babi, dikatakan, "Dari
daging mereka (dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian
makan,
dan dari bangkai
mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu."
Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat
disembelih di
leher karena mereka tidak
memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan
kalau
babi memang harus
disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan
merancang hewan ini dengan
memiliki leher.
Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek
berbahaya dari komsumsi
babi, dalam bentuk apapun, ba ik itu pork chops, ham, atau bacon.
Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak
macam
penyakit. Babi diketahui
sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.
Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan
mengenai
kandungan uric acid dalam
darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry
babi
mengeluarkan hanya 2% dari
seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam
tubuhnya.
02:40 Posted in Info Sehat | Permalink | Comments (0) | Email this
Please Welcome, Playboy Indonesia...
|
| ||
|
|
| |
| Siapa yang tak kenal majalah Playboy? Rasanya orang yang paling alim sekali pun telah mengenalnya. Minimal pernah mendengar namanya. Walau belum beredar secara resmi di Indonesia, banyak masyarakat kita yang bisa mendapatkannya lewat "jalur tidak resmi". Bahkan, di internet pun kita bebas menikmatinya. Lantas, tersiar kabar bahwa bulan Maret 2006 nanti majalah porno terlaris di dunia ini akan hadir secara resmi di Indonesia. Sebelum Playboy, selama ini sebenarnya sudah banyak media cetak di Indonesia yang mengambil tema seputar eksploitasi fisik wanita. Mulai dari yang kelas bawah nan vulgar, hingga yang dikemas se-elegan mungkin sehingga terkesan elit dan berkelas. Kita harus akui, ini adalah salah satu fenomena atau dampak dari kebebasan pers yang mulai bergulir sejak masa reformasi tahun 1998. Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang menjadi "hantu" paling menakutkan di dunia pers kita pada masa Orde Baru, pun ditiadakan. Setiap orang kemudian bebas menerbitkan media apa saja, tanpa harus meminta ijin ke mana pun. Dari segi kebebasan berekspresi, ini memang kondisi yang sangat bagus. Kita tahu, kini masyarakat kita lebih bebas menyatakan pendapat. Tak ada lagi rasa takut jika ada yang mengkritik Pemerintah. Media massa yang bersuara keras dalam melakukan kontrol sosial pun merasa percaya diri dengan konsep jurnalistik mereka yang amat kritis. Ini memang "surga kebebasan berekspresi" yang amat patut kita syukuri. Namun di sisi lain, kondisi ini juga memberikan kesempatan yang sangat luas terhadap lahirnya media-media yang tidak mengindahkan aspek-aspek moral. Selama delapan tahun menghirup angin kebebasan di era reformasi, kita tentu sudah menyaksikan demikian banyak media yang berciri seperti itu. Media yang hanya berfokus pada pencapaian laba maksimal tanpa mempedulikan moral bangsa kita yang makin rusak. Dan Playboy Indonesia boleh dibilang hanya salah satu gelombang di antara gelombang-gelombang lain yang ikut berperan dalam menggoyahkan tatanan nilai yang seharusnya kita pelihara. Pertanyaannya sekarang, kenapa kita begitu ribut membicarakan Playboy Indonesia? Kenapa keributan yang sama tidak terjadi ketika media-media serupa telah duluan lahir? Mungkin, ini disebabkan oleh faktor "nama" majalah Playboy itu sendiri, yang selama ini sudah terlanjur dicap sebagai simbol media porno terpopuler di dunia. Memang, kita harus akui, Playboy adalah majalah porno yang paling berkelas dan paling legendaris. Begitu banyak media yang berusaha menandinginya, tapi tak satu pun yang berhasil. Walau porno, Playboy dianggap sebagai media yang paling bergengsi. Buktinya, para artis papan atas dunia merasa bangga ketika tubuh mereka yang tanpa busana dipajang di media ini. Adalah sebuah kehormatan besar ketika seseorang bisa tampil telanjang di majalah Playboy. Sepertinya, inilah alasan utama dari keributan tersebut. Menurut hemat penulis, bukan "media porno"nya yang menjadi faktor utama timbulnya pro dan kontra, melainkan simbol, citra dan gaya hidup yang ikut dibawa di balik nama Playboy. Ketika majalah ini secara resmi terbit di Indonesia, ada semacam kekhawatiran bahwa masyarakat kita akan semakin permisif terhadal hal-hal yang berbau pornografi. Masyarakat kita akan makin terbiasa melihat fenomena hancurnya tatanan nilai moral yang justru harus kita pertahankan. * * * Memang, dari sejumlah wacana yang berkembang, ada kemungkinan Playboy Indonesia akan tampil dengan kemasan yang beda. Maksudnya, tidak sevulgar edisi luar negeri. Ide seperti ini antara lain dilontarkan oleh Yoyoh Yusroh, anggota Komisi VIII DPR RI. "Jika desain Plaboy di Indonesia seperti yang ada di Amerika Serikat, saya tidak setuju. Dan saya akan menggalang protes bersama dengan kawan-kawan," ujar Yoyoh, sebagaimana disampaikan kepada detikcom, Kamis (12/1/2006). Di sejumlah mailing list pun, beredar info bahwa Playboy Indonesia akan dikemas secara lebih elegan sehingga tidak terkesan porno. Namun terlepas dari apapun, sebenarnya kemasan dan pornografi adalah dua hal yang berbeda. Dikemas see-elit apapun, pornografi tetaplah pornografi. Para pria normal tetap bergairah ketika melihat foto wanita telanjang, walau dikemas dengan cita rasa seni yang paling indah dan paling elegan sekali pun. Menurut hemat penulis, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi "perasaan bersalah" yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi. * * * Belum Apa-Apa Sudah Ribut? Ada pihak yang menyayangkan, kita terjebak pada kebiasaan berkasak-kusuk. Kita ribut sebelum melihat fakta yang sebenarnya. Majalahnya belum terbit, tapi kita sudah ramai berpolemik. Memang, pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu vulgar. Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra atau Sabili. Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana. Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya belum terbit? * * * Munafik Sejumlah kalangan yang cenderung pro terhadap fenomena pornografi, kerap kali melontarkan pendapat bahwa para pemrotes pornografi adalah orang-orang munafik dan hipokrit. "Masyarakat Indonesia ini sebenarnya hipokrit juga. Mereka membelinya dengan sembunyi-sembunyi, tapi tidak berani menyatakan persetujuannya, malah bicaranya menolak," cetus pengamat media Veven SP Wardhana, sebagaimana disampaikan oleh Detikcom (13/1). Memang kita akui, ada sejumlah masyarakat yang seperti itu. Tapi apakah memang semuanya demikian? Rasanya tidak. Kita tak dapat mengelak dari fakta objektif, bahwa jumlah orang yang sudah amat muak terhadap pornografi pun sangat banyak. Mereka merasa prihatin terhadap kerusakan moral bangsa. Tapi entah kenapa, pihak yang pro seolah-olah tidak peduli terhadap fenomena ini. Mereka sepertinya menganggap bahwa semua orang itu sama. Semua orang senang dengan pornografi. Maka, ketika ada orang yang menolak pornografi, segera dicap sebagai orang munafik dan hiprokrit. Memang, jika memperturutkan hawa nafsu, tentu semua orang senang pada pornografi. Tapi kita juga tidak dapat menutup mata, bahwa masih banyak orang yang mencoba mengendalikan diri, tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Sebab mereka masih peduli terhadap keutuhan sistem nilai dan moral yang seharusnya kita pertahankan. Jadi, ketika Playboy Indonesia benar-benar hadir secara resmi di tengah-tengah kita pada bulan Maret 2006 nanti, mari kita ramai-ramai mengucapkan selamat tinggal pada sistem nilai dan moral yang selama ini kita jaga dengan baik. -Jonru- | ||
02:22 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (4) | Email this
01/19/2006
Majelis Manasik
Berikut adalah kumpulan materi manasik yang didapat dari SMS Manasik Haji. Point-point yang tercatat antara lain :
1. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Haji hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijma'.
2. Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka datang padamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh. ( QS. 22:27 )
3. Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah... ( QS. 2:196 )
4. Islam didirikan atas lima dasar yaitu bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikan shalat, Menunaikan puasa ramadhan, Menunaikan zakat dan berhaji. ( hadits )
5. Bersegeralah kalian melaksanakan haji, karena sesungguhnya seseorang tidak ada yang tahu sesuatu yang menghalanginya. ( HR. Ahmad ).
6. Rasulullah SAW ditanyakan tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab iman kepada Allah dan rasul-Nya, jihad di jalan Allah, dan haji yang mabrur.
7. Jihad orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan wanita adalah berhaji. ( HR. An-Nasa'i ).
8. Aisyah ra bertanya tentang mengapa wanita tidak boleh berjihad. Nabi SAW menjawab " Bagi kamu wanita ada jihad yang paling utama, yaitu haji mabrur."
9. Aisyah ra. bertanya apakah wanita punya kewajiban jihad. Beliau SAW menjawab, " Ya. Bagi mereka ada kewajiban jihad tanpa perang yaitu haji dan umrah. " ( hadits ).
10. Barangsiapa mengerjakan haji tapi tidak rafats ( berbuat/berkata cabul ) dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan ibunya. ( hadits ).
11. Mereka yang haji dan umrah adalah duta Allah. Bila mereka berdoa pasti dikabulkan dan bila mohon ampun pasti diampuni. ( Hadits ).
12. Anak-anak yang berhaji lalu mencapai usia balig, maka wajib berhaji lagi. Demikian pula budak yang berhaji lalu ia merdeka maka wajib berhaji lagi. ( Hadits ).
13. Seorang wanita bertanya apakah ia boleh menghajikan yang sudah tua hingga ia tak sanggup lagi berkendaraan. Nabi SAW menjawab, " Boleh.". ( Hadits ).
14. Ditanyakan kepada Nabi SAW tentang orang yang belum pernah haji, apakah boleh berhutang untuk berhaji. Beliau menjawab, " Tidak boleh.". ( Hadits ).
15. Orang yang telah mampu untuk berhaji tapi ia enggan melaksanakannya, maka janganlah orang tersebut mati seperti matinya orang Yahudi atau Nasrani. ( Imam Ali ).
04:40 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this
01/06/2006
Saatnya Peduli
Saatnya Peduli
Musibah Dimana-mana
Di kota juga di desa
Tua Muda
Kaya Miskin
Saatnya Peduli
Peringatan dari Allah
Telah datang
Sudahkah kita mempersiapkan
Bekal kita pulang ?
11:14 Posted in Kumpulan Puisi | Permalink | Comments (0) | Email this
Hujan Di Sore Hari
Hujan di Sore Hari
Aku gak jadi pulang
Terkatung-katung
Aku di kantor
Hujan di sore hari...
11:03 Posted in Kumpulan Puisi | Permalink | Comments (1) | Email this
01/04/2006
Lulus Ujian Akhir ? Bidadari Menantimu...
Oleh : Ayat Al Akrash
Hudzaifah.org - Hidup penuh ujian. Allah SWT berfirman bahwa Ia memberi ujian agar mengetahui siapakah yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagimu, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka terbaik perbuatannya." (QS. al-Kahfi: 17)
Sesungguhnya ritme ujian hidup tak ubahnya seperti ujian akhir yang dihadapi para mahasiswa. Sebelum ujian tiba, mahasiswa harus mengikuti perkuliahan reguler dengan tekun dan menyimak apa yang diajarkan dosen agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan lulus ujian. Mahasiswa yang terbaik persiapan belajarnya, maka niscaya akan mampu menghadapi ujian itu dengan baik pula. Suka atau tidak, mahasiswa harus menghadapinya, sehingga wajib baginya untuk menyiapkan perbekalannya, sebelum, menjelang, saat dan sesudah ujian. Demikian pula seorang muslim, ia harus menyiapkan bekal untuk menghadapi ujian hidup agar sukses memasuki surga.
Sebelum Ujian Tiba
Setidaknya ada 5 hal yang harus disiapkan seorang muslim sebelum menghadapi ujian hidupnya, yaitu :
1. Kenali sang pemberi ujian, Allah SWT.
Sebagai mahasiswa, kita harus mengenali tipe dosen yang mengajar dan mengetahui cara mengajarnya, pun dalam memberikan nilai. Apa yang dinilai dan bagaimana ia menilai. Seorang dosen tentu memiliki bobot penilaian sekian persen untuk nilai uts, uas, kehadiran, quiz dan tugas.
Allah SWT memiliki 99 asmaul husna. Rasulullah SAW bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu).” (HR. Bukhari). Ia Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi jangan lupa, Ia juga Maha Keras Siksanya.
2. Simak apa yang diajarkan sang pemberi ujian
Dosen biasanya memberi kisi-kisi ketika mendekati ujian, bahkan jauh hari, saat tengah mengajar, dengan kata-katanya, “Catat ini, karena biasanya akan keluar dalam soal ujian.” Kisi-kisi ujian itu difirmankan Allah SWT, “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar ". (QS. Al Baqarah : 153 )
3. Banyak latihan
Mahasiswa harus berlatih dengan mengerjakan soal-soal dan banyak membaca. Ini akan memudahkan ketika menghadapi ujian.
Seorang muslim pun demikian, ia harus menempa dirinya dengan ibadah harian, dan tidak memanjakan diri dengan kesenangan duniawi. Orang beriman, mereka telah dilatih oleh-Nya untuk hanya bergantung pada-Nya melalui shalat, doa dan zikir. Mereka dilatih untuk hidup Zuhud (dunia ditangannya namun tidak di hati) melalui zakat, infaq dan shodaqoh. Mereka dilatih untuk bersabar, menahan hawa nafsu melalui puasa. Mereka dilatih untuk bersatu antar sesamanya, kaum mu'minin, melalui haji. Semua itu adalah bekal untuk mempersiapkan pejuang sejati.
4. Jangan absen untuk menghadap-Nya.
Mahasiswa absen lebih dari 4 kali di kelas? Dapat dipastikan, tidak akan bisa mengikuti ujian akhir.
Shalat wajib Anda tinggalkan? Maka kesempatan untuk berkompetisi hilang sudah. Shalat adalah tiang agama. “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi.” (HR. Annasa’i dan Attirmidzi)
5. Kerjakan tugas-tugas dari Allah SWT.
Dosen memberi tugas? Kerjakan, karena jika tidak, kita tidak akan bisa mendapat nilai A.
Apa yang ditugaskan Allah SWT pada kita?
“Dan hendaklah ada diantara kamu orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, dan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Naml : 120)
6. Bertanya jika ada yang tidak diketahui.
Mahasiswa belajar sendiri, mungkin bisa saja dilakukan, namun belum tentu sempurna hasilnya karena terkadang ada catatan yang tak lengkap atau ada ilmu yang diketahui teman, tetapi tak diketahui oleh kita. Bertanya, adalah kunci pembuka ilmu.
Seorang muslim dapat saja belajar sendiri dengan membaca buku-buku Islam, tetapi ia tetap harus bertanya pada teman yang lebih paham ataupun kepada para ulama. " Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(QS.16 : 43)
Menjelang Ujian
Waktu ujian tengah semester maupun akhir semester, telah ditetapkan waktunya. Dalam hidup, tidak bisa tidak, cepat atau lambat, ujian pasti terjadi. Ada 4 hal yang harus dipersiapkan ketika ujian semakin dekat, yaitu :
1. Persiapkan ilmu, analisa ujian
Analisa ujian yang dihadapi, jangan reaktif. Siapkan jurus-jurus untuk menghadapi ujian, karena setiap soal berbeda bobotnya.
Bekal ilmu untuk menghadapi ujian hidup, sangat penting. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana jalan yang diridhai-Nya dan mana yang tidak. “Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri.” (HR. Athabrani).
2. Belajar dari soal-soal sebelumnya
Mahasiswa harus rajin mencari foto kopi soal di semester sebelumnya, karena soal ujian biasanya mirip.
Pelajarilah ujian yang dihadapi para nabi, ambil hikmah dari setiap ujian. Bagaimana ending penderitaan yang dialami para nabi? Semuanya ada di dalam Al Qur’an. "Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. al-Baqarah: 214)
3. Belajar dari buku wajib dan buku tambahan
Ada buku wajib kampus dan buku tambahan.
Buku wajib seorang muslim adalah Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk buku tambahan adalah buku-buku Islam kontemporer agar wawasan bertambah. “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah saw.” (HR. Muslim).
4. Berdoa
Berdoalah kepada Allah SWT semoga Ia memudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian.
Senjata orang-orang beriman adalah doa. “Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Abu Ya’la)
Saat Ujian
1. Hadapi dengan tenang dan sabar.
Saat memasuki ruang ujian, hadapilah dengan tenang dan sabar, jangan tergesa-gesa.
Pun di dalam menghadapi ujian hidup, wajib sabar ketika ujian itu datang. Rasulullah SAW bersabda, ”Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah.” (HR. Al Bukhari)
2. Konsentrasi pada soal ujian, jangan curang.
Soal telah dibagikan. Konsentrasilah pada soal ujian dan jangan coba-coba menyontek!
Saat ujian datang, seorang muslim jangan justru lari dari-Nya dengan cara bermaksiat kepada-Nya. Berapa banyak kita saksikan manusia yang ditimpa ujian dan cobaan, bukannya mendekat kepada-Nya, tetapi justru bermaksiat dengan lari dari jalan da’wah ataupun memisahkan diri dari barisan. "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (QS. 48:11)
3. Selesaikan yang mudah dahulu.
Menghadapi ujian dari dosen, membutuhkan strategi, jangan mengerjakan soal-soal yang sulit dahulu, tetapi kerjakan yang mudah.
Jangan memasuki bidang ujian yang kita tidak mampu memasukinya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.”(HR. Ahmad dan Attirmidzi)
4. Jangan mengeluh bila soalnya sulit.
Ujian kita sangat sulit? Jangan mengeluh. Karena percuma saja, toh ujian tak akan selesai dengan keluhan.
Seorang muslim janganlah sampai mengeluh ketika ujian menimpa, karena Rasulullah SAW bersabda, “Ada 3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).” (HR. Athabrani).
Sesudah Ujian
1. Evaluasi
Apakah ujian itu dapat kita lalui dengan baik? Ucapkan hamdalah bila berhasil melaluinya. Seorang muslim ketika telah melewati ujian berupa penderitaan dan kesedihan, hendaknya tetap istiqomah di jalan-Nya. Dari Abu Hurairah ra katanya, sabda Rasulullah saw, “Tidak disengat seseorang mukmin itu dua kali dalam satu lubang.”
2. Ambil hikmahnya.
Ada hikmah di setiap kejadian. Karena khasanah kebaikan kembali kepada-Nya. Bahkan ketika tertusuk duri, ada hikmahnya. “Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Al Bukhari)
3. Bersiap menghadapi ujian selanjutnya.
Ujian mahasiswa tentu tidak hanya satu mata kuliah, tetapi ada beberapa macam.
Selama hayat masih dikandung badan, maka bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang beraneka ragam bentuknya. “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)
Untuk Apa Ujian Itu?
Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya?
Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang dengan emas. “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Athabrani)
Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya. “Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (HR. Athabrani).
Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq. Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar. Saad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)
Dalam menghadapi ujian, seorang mu’min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya. “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Attirmidzi).
Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3 : 139).
Penutup
Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati, tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi.
Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja, untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya ada di hari akhir nanti.
Lulus ujian, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya dan tiada lain balasannya adalah ridha-Nya, surga-Nya, dan bidarari yang bermata jeli. Allah SWT berfirman, “Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. Al Waqiah : 22-23). Bidadari menantimu, akh… Selamat ujian. (Ayat al akrash)
Di waktu ujian badai terus melanda
Engkau tetap gigih berjuang
Membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji,
Pastilah Islam gemilang lagi
Ujian bukan batu penghalang
Karena itulah syarat dalam berjuang
Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya
- The Zikr -
10:45 Permalink | Comments (0) | Email this
Reward Lima Ribu
Hari ini terasa segar. hehe...bukan apa-apa. Udah seminggu terakhir ini jalanan terasa lengang karena anak-anak sekolah libur. Perjalanan menuju kantor jadi cepat dan bebas macet. Sip deh.
Sampe kantor jam 7 pagi. Saingan sama satpam ITC nih...hehe. Gak papa, at least masih ada waktu luang dikit buat baca-baca email. Bener aja, pas buka milis kantor -- imxcom -- ketemu subject : dari metro TV kiriman WW. ( sebutan akrab kami untuk big bos, Wimar Witoelar ). Isinya semacam sayembara mencari kesalahan kalimat dari sebuah wawancara di Metro TV. Berhadiah lima ribu rupiah untuk jawaban tercepat dan terbaik. Tanpa pikir panjang, langsung saja reply karena kebetulan jawabannya gampang, gak perlu mikir. Maksudnya gak sampe mengeryitkan dahi untuk nulis jawaban sayembara tersebut. hehe.
Selang beberapa saat kemudian, muncul pengumuman pemenang sayembara via email dan pop up. Ada tiga nama -- Aku, Mbak Widya dan Mas Mansur -- dinyatakan sebagai pemenang. Surprise...lumayan deh buat tambahan lunch. hehe. Tapi pikir-pikir juga, ini jadi semacam reward untuk yang datang pagi. Biasanya kan kalo pagi-pagi ada sayembara via email, jarang yang buka atau ngeh jadinya saingannya dikit. hehe. Tapi mungkin karena faktor luck juga kali ya. Udah rejeki maksudnya.
Soal reward sebenarnya tidak selalu harus terkait dengan materi. Reward bisa saja berupa sebentuk perhatian yang tulus supaya seseorang itu merasa lebih diperhatikan atau dihargai. Reward tidak selalu berkonotasi dengan sejumlah materi. Bisa saja itu berbentuk sebuah penghargaan berupa piala, piagam atas prestasi yang telah diraih. Atau bisa juga reward itu hanya berupa sebuah ucapan selamat atau pujian atas kesuksesannya selama ini. Jadi menurutku, pemberian reward sangat erat kaitannya dengan bentuk perhatian seseorang atas hal yang telah dicapai. Bukan masalah jumlah rupiah atau rupa hadiah yang diterima, tapi sebongkah perhatian yang tulus itulah yang lebih bermakna. Cieee.
Terimakasih untuk WW atas reward lima ribu-nya.
03:15 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this


