02/24/2006

Berbisnis dengan Cinta


Kamis, 19 Januari 06 - oleh : admin

Cinta Sang Nabi

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan
terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan
dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada dibalik
sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia bicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan
mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang
memporak-porakan petamanan
……………

(Kahril Gibran)

Cinta. Satu kata yang begitu bermakna. Cinta membuat orang bodoh menjadi pintar, orang lemah menjadi kuat, orang pelit menjadi dermawan. Setiap makhluk hidup membutuhkan cinta. Kehidupan membutuhkan cinta. Semua yang ada di bumi ini membutuhkan cinta. Ada satu lirik lagu marawis yang kalau tidak salah syairnya begini...,”Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, aduhai begitulah kata para pujangga, tanpa sedap tanpa bunga.” Tidak dapat dibayangkan bila dunia tanpa cinta. Hidup akan terasa hampa, hambar, tidak bersemangat, tidak bergairah. Kalau diibaratkan masakan tidak ada rasanya; tidak asin, tidak manis, tidak pedas, tidak asam, yah tawar, tidak nikmat dimakan.
Ada berbagai macam cinta yaitu cinta pada Allah SWT, cinta pada Rasul, cinta pada malaikat cinta pada orang tua, cinta pada anak dan istri, cinta pada lawan jenis, dsb. Pernahkah terlintas pada pikiran kita untuk menggunakan kekuatan cinta dalam bisnis? Tertarik salah satu bab dalam buku Berbisnis dengan Hati hasil duet Aa’ Gym dan Hermawan Kartajaya yang berjudul ‘Berbisnis dengan cinta’, saya ingin menggali lebih dalam rahasia The power of love dalam berbisnis.
Ingatkah saat anda jatuh cinta? Merasakan letupan kegairahan dalam setiap tarikan nafas. Keindahan hidup bagai surga dunia. Bagaimana dengan cinta pertama? Kata orang cinta pertama itu murni dan polos. Tidak berlandaskan apapun Cinta membuat orang menjadi tulus. Cinta menuntut pengorbanan. Melakukan apapun untuk pujaan hati tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang diberikan. Bak kata penyair…,”Hujan badai akan kulewati hanya untuk dirimu.” Jadilah pecinta dalam berbisnis, niscaya hambatan-hambatan tidak terasa berat dihadapi, ketakutan akan sirna, dan langkah-langkah ke depan akan terasa ringan. Kekuatan kita akan berlipat ganda dalam mencapai kesuksesan.
Bisnis mempunyai resiko, itu sudah pasti. Tapi ada hal dalam bisnis yang terkadang dilupakan, yaitu bahwa bisnis merupakan permainan. Pahami aturan-aturan mainnya, maka kita dapat meminimalkan resiko dan memenangkan permainan. Hermawan Kartajaya mengatakan pemenang permainan bisnis adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan-aturan permainan secara baik. Bos Primagama, Purdie Chandra mempopulerkan jurus jitu dalam berbisnis dengan konsep BODOL, BOTOL, BOBOL. Ia tahu betul aturan-aturan main dalam bisnis yang terkadang dibilang nyeleneh, dan ia sukses. Hanya tidak ada yang dapat mengukur seberapa besar rasa cinta yang dicurahkan oleh Purdie dalam bisnis kecuali oleh Purdie sendiri dan orang-orang sekitarnya.
Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!, dalam buku Love is The Killer App, mengemukakan apa yang disebut dengan ‘Lovecat’. ‘Lovecat’ adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Seorang ‘Lovecat’ akan terus menambah pengetahuannya (knowledge), mengembangkan relasi dengan semua orang (network) , menunjukkan rasa empati dan tidak segan untuk membantu jika diperlukan (compassion).
Cinta bagai tanaman yang harus dipelihara dan dirawat, bila tidak maka akan mati dan layu. Kadang kita melihat atau mendengar pernikahan yang bak dongeng, pangeran tampan berkuda putih menikah dengan putri yang cantik jelita tapi ternyata hanya seumur jagung karena cinta yang ada diantara mereka telah hilang. Dalam berbisnis, menumbuhkan cinta itu perlu, merawat cinta itu penting. Steven Covey dalam buku Seven Habits of Effective People, mengemukakan bahwa.orang yang proaktif membuat cinta sebagai kata kerja. Cintai. Sayangi. Kasihi. Hormati. Cinta itu adalah segala sesuatu yang anda lakukan; pengorbanan yang anda buat, pemberian diri anda, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Marilah belajar untuk mencintai pelanggan, mencintai pesaing, mencintai bawahan, mencintai produk. mencintai profesi kita sebagai pengusaha.
Bagaimana bila kita sudah menggunakan kekuatan cinta dengan segenap daya dan upaya ternyata bisnis tidak memberikan hasil yang seperti yang diharapkan? Bagaimana bila usaha sudah maksimal tapi kegagalan ternyata ada di depan mata? Mungkinkah kita akan menangis meraung-raung, meratap, menyesali diri atau sampai bunuh diri?! Jawabannya mungkin, bila kita melupakan satu cinta yang tertinggi, cinta yang teragung yaitu cinta kepada Allah SWT. Dengan mencintai Allah SWT kita yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berdoa dan ikhtiar maksimal. “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman,” (QS Az-zumar[39:52). Cinta kita dalam berbisnis hendaknya bukan karena silau akan gemerlap dunia. Ingin menjadi orang kaya yang sibuk pamer sana-sini, tapi karena ingin membangun perekonomian umat Islam dan mendapat ridho Allah SWT. Manusia berusaha, Allah SWT yang menentukan. Akan ada saat dimana malam berganti pagi, gelap berganti terang. Berbisnis itu ibadah. Bila segala sesuatu diniatkan karena Allah SWT semata maka akan diganti dengan pahala. Wallahu’alam bisshowab.
Saudaraku, berbisnislah dengan satu kata…….., CINTA!!


(Dikutip dari berbagai sumber)

The comments are closed.