« Berbisnis dengan Cinta | HomePage | Bukan Sekedar Memberi »
02/28/2006
Agar Cinta Tak Bertepuk Sebelah Tangan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima
ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima
pimpinan dan tidak begitu setiakawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban,
tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi
pemimpin agar pengikut menjadi agak segan
Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan
tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup
engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau
tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang
engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, tapi para tamu engkau abaikan,
anak isteri engkau lupakan dan ilmu berjuang engkau
tinggalkan
Engkau ingin berjuang, tapi pandangan engkau tidak
diselaraskan, rasa bertuhan engkau abaikan dan iman
taqwa engkau lupakan
- Qathrunnada -
Hudzaifah.org - Benarkah engkau seorang pejuang?
Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah,
sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak
mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid,
namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala sindir di dalam Al Qur'an, "Apakah
kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan 'kami
beriman' sedang mereka tidak di uji lagi?" (QS. Al
Ankaabut: 2-3)
Sang Pejuang Sejati
Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah
kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di
jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan
dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi
tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa. "Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabar." (QS. 3:142).
Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan
yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan
hukum ekonomi kapitalis, "Mendapatkan output yang
sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input
yang seminimal mungkin."
Aduhai., sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara
yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan
bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW
bersabda, "Generasi awal sukses karena zuhud dan
teguhnya keyakinan,sedang ummat terakhir hancur karena
kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah."
Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di
dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang.
Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada
dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya
lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang
nyata. Demi Allah., keimanan bukanlah dilihat dari
yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari
yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan
bukan pula dari yang
paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat
Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang
paling banyak simbol-simbol keagamaannya.
Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya
keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan
sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar
menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi
Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur'an.
Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal
akhir, surga.
Pengorbanan
Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda'wah,
sudah menganggap diri telah melakukan totalitas
perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan
da'wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana
dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5, "....Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang
dan malam." Pun dalam surat Al Muzzamil, "Hai orang
yang berkemul, bangunlah
lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah."
Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu
siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang
ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk
menegakkan Al Haq.
Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik
makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian.
Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton
sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar
lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak
tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap
mendapatkan syurga? Sangatlah jauh. bagaikan punduk
merindukan rembulan.
Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah
saw, Abu Bakar, Umar, Mush'ab bin Umair dan para
sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan
hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup.
Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela
menikmati dunia yang melalaikan.
Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan
dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah
lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan
yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga
dan neraka.
Ada amanah da'wah yang besar di pundaknya, lantas
bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak
bercanda?
Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan "keseriusan"
atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10
wasiatnya.
Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak
pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan.
Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa
jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah-
jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir.
Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak
ketika Al Qur'an dibacakan di dalam pembukaan ta'lim.
Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak
mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur'an itu
baru sampai di tenggorokan saja. "Akan tiba suatu masa
dalam ummat ketika orang
membaca Al Qur'an, namun hanya sebatas tenggorokannya
saja (tidak masuk ke dalam hatinya)." (HR. Muslim).
Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi.,
ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.
Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang
pergerakan dan
mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa
dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor
penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.
20 Muwashofat Sang Pejuang
Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki
pejuang, yang disarikan dari
Al Qur'an dan hadits, yaitu :
1. Aqidahnya bersih (saliimul 'aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I'baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun 'alal
kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun 'alal
waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi'un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar
(Ba'iidun 'anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul
lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun
filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara
kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul
'afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq,
Al-amanah-wasyja'ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun
fil'amal)
17. Rendah hati (Tawadhu')
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru
wal-bina')
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun
lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
(Asysyidda'u 'alal kuffar)
Penutup
Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita
belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria
(muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita
terkena hadits ini, "Akan datang suatu masa untuk
ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur'an
kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali
namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka
dengan nama ini
meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya."
(Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).
Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata
kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai
pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa
Ta'ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama
kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya
bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk
sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah
mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak,
maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu.
Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di
dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang
kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita
mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita. "Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka
dan merekapun mencintai-Nya.." (QS. Al Maidah : 54 -
56). []
by : Ayat Al- Akrash ( hudzaifah.org )
04:34 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this


