02/28/2006

Agar Cinta Tak Bertepuk Sebelah Tangan

Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima
ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima
pimpinan dan tidak begitu setiakawan

Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban,
tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi
pemimpin agar pengikut menjadi agak segan

Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan
tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup
engkau luangkan

Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau
tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang
engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan

Engkau ingin berjuang, tapi para tamu engkau abaikan,
anak isteri engkau lupakan dan ilmu berjuang engkau
tinggalkan

Engkau ingin berjuang, tapi pandangan engkau tidak
diselaraskan, rasa bertuhan engkau abaikan dan iman
taqwa engkau lupakan

- Qathrunnada -


Hudzaifah.org - Benarkah engkau seorang pejuang?
Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah,
sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak
mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid,
namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala sindir di dalam Al Qur'an, "Apakah
kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan 'kami
beriman' sedang mereka tidak di uji lagi?" (QS. Al
Ankaabut: 2-3)

Sang Pejuang Sejati

Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah
kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di
jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan
dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi
tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa. "Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabar." (QS. 3:142).

Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan
yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan
hukum ekonomi kapitalis, "Mendapatkan output yang
sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input
yang seminimal mungkin."

Aduhai., sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara
yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan
bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW
bersabda, "Generasi awal sukses karena zuhud dan
teguhnya keyakinan,sedang ummat terakhir hancur karena
kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah."

Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di
dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang.
Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada
dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya
lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang
nyata. Demi Allah., keimanan bukanlah dilihat dari
yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari
yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan
bukan pula dari yang
paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat
Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang
paling banyak simbol-simbol keagamaannya.
Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya
keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan
sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar
menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi
Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur'an.
Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal
akhir, surga.

Pengorbanan

Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda'wah,
sudah menganggap diri telah melakukan totalitas
perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan
da'wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana
dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5, "....Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang
dan malam." Pun dalam surat Al Muzzamil, "Hai orang
yang berkemul, bangunlah
lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah."
Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu
siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang
ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk
menegakkan Al Haq.

Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik
makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian.
Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton
sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar
lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak
tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap
mendapatkan syurga? Sangatlah jauh. bagaikan punduk
merindukan rembulan.
Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah
saw, Abu Bakar, Umar, Mush'ab bin Umair dan para
sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan
hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup.
Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela
menikmati dunia yang melalaikan.

Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan
dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah
lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan
yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga
dan neraka.
Ada amanah da'wah yang besar di pundaknya, lantas
bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak
bercanda?
Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan "keseriusan"
atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10
wasiatnya.

Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak
pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan.

Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa
jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah-
jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir.
Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak
ketika Al Qur'an dibacakan di dalam pembukaan ta'lim.
Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak
mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur'an itu
baru sampai di tenggorokan saja. "Akan tiba suatu masa
dalam ummat ketika orang
membaca Al Qur'an, namun hanya sebatas tenggorokannya
saja (tidak masuk ke dalam hatinya)." (HR. Muslim).
Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi.,
ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.

Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang
pergerakan dan
mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa
dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor
penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.

20 Muwashofat Sang Pejuang

Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki
pejuang, yang disarikan dari
Al Qur'an dan hadits, yaitu :
1. Aqidahnya bersih (saliimul 'aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I'baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun 'alal
kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun 'alal
waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi'un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar
(Ba'iidun 'anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul
lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun
filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara
kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul
'afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq,
Al-amanah-wasyja'ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun
fil'amal)
17. Rendah hati (Tawadhu')
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru
wal-bina')
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun
lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
(Asysyidda'u 'alal kuffar)

Penutup

Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita
belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria
(muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita
terkena hadits ini, "Akan datang suatu masa untuk
ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur'an
kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali
namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka
dengan nama ini
meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya."
(Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).

Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata
kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai
pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa
Ta'ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama
kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya
bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk
sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah
mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak,
maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu.
Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di
dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang
kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita
mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita. "Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka
dan merekapun mencintai-Nya.." (QS. Al Maidah : 54 -
56). []

by : Ayat Al- Akrash ( hudzaifah.org )

04:34 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this

02/24/2006

Berbisnis dengan Cinta


Kamis, 19 Januari 06 - oleh : admin

Cinta Sang Nabi

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan
terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan
dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada dibalik
sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia bicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan
mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang
memporak-porakan petamanan
……………

(Kahril Gibran)

Cinta. Satu kata yang begitu bermakna. Cinta membuat orang bodoh menjadi pintar, orang lemah menjadi kuat, orang pelit menjadi dermawan. Setiap makhluk hidup membutuhkan cinta. Kehidupan membutuhkan cinta. Semua yang ada di bumi ini membutuhkan cinta. Ada satu lirik lagu marawis yang kalau tidak salah syairnya begini...,”Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, aduhai begitulah kata para pujangga, tanpa sedap tanpa bunga.” Tidak dapat dibayangkan bila dunia tanpa cinta. Hidup akan terasa hampa, hambar, tidak bersemangat, tidak bergairah. Kalau diibaratkan masakan tidak ada rasanya; tidak asin, tidak manis, tidak pedas, tidak asam, yah tawar, tidak nikmat dimakan.
Ada berbagai macam cinta yaitu cinta pada Allah SWT, cinta pada Rasul, cinta pada malaikat cinta pada orang tua, cinta pada anak dan istri, cinta pada lawan jenis, dsb. Pernahkah terlintas pada pikiran kita untuk menggunakan kekuatan cinta dalam bisnis? Tertarik salah satu bab dalam buku Berbisnis dengan Hati hasil duet Aa’ Gym dan Hermawan Kartajaya yang berjudul ‘Berbisnis dengan cinta’, saya ingin menggali lebih dalam rahasia The power of love dalam berbisnis.
Ingatkah saat anda jatuh cinta? Merasakan letupan kegairahan dalam setiap tarikan nafas. Keindahan hidup bagai surga dunia. Bagaimana dengan cinta pertama? Kata orang cinta pertama itu murni dan polos. Tidak berlandaskan apapun Cinta membuat orang menjadi tulus. Cinta menuntut pengorbanan. Melakukan apapun untuk pujaan hati tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang diberikan. Bak kata penyair…,”Hujan badai akan kulewati hanya untuk dirimu.” Jadilah pecinta dalam berbisnis, niscaya hambatan-hambatan tidak terasa berat dihadapi, ketakutan akan sirna, dan langkah-langkah ke depan akan terasa ringan. Kekuatan kita akan berlipat ganda dalam mencapai kesuksesan.
Bisnis mempunyai resiko, itu sudah pasti. Tapi ada hal dalam bisnis yang terkadang dilupakan, yaitu bahwa bisnis merupakan permainan. Pahami aturan-aturan mainnya, maka kita dapat meminimalkan resiko dan memenangkan permainan. Hermawan Kartajaya mengatakan pemenang permainan bisnis adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan-aturan permainan secara baik. Bos Primagama, Purdie Chandra mempopulerkan jurus jitu dalam berbisnis dengan konsep BODOL, BOTOL, BOBOL. Ia tahu betul aturan-aturan main dalam bisnis yang terkadang dibilang nyeleneh, dan ia sukses. Hanya tidak ada yang dapat mengukur seberapa besar rasa cinta yang dicurahkan oleh Purdie dalam bisnis kecuali oleh Purdie sendiri dan orang-orang sekitarnya.
Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!, dalam buku Love is The Killer App, mengemukakan apa yang disebut dengan ‘Lovecat’. ‘Lovecat’ adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Seorang ‘Lovecat’ akan terus menambah pengetahuannya (knowledge), mengembangkan relasi dengan semua orang (network) , menunjukkan rasa empati dan tidak segan untuk membantu jika diperlukan (compassion).
Cinta bagai tanaman yang harus dipelihara dan dirawat, bila tidak maka akan mati dan layu. Kadang kita melihat atau mendengar pernikahan yang bak dongeng, pangeran tampan berkuda putih menikah dengan putri yang cantik jelita tapi ternyata hanya seumur jagung karena cinta yang ada diantara mereka telah hilang. Dalam berbisnis, menumbuhkan cinta itu perlu, merawat cinta itu penting. Steven Covey dalam buku Seven Habits of Effective People, mengemukakan bahwa.orang yang proaktif membuat cinta sebagai kata kerja. Cintai. Sayangi. Kasihi. Hormati. Cinta itu adalah segala sesuatu yang anda lakukan; pengorbanan yang anda buat, pemberian diri anda, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Marilah belajar untuk mencintai pelanggan, mencintai pesaing, mencintai bawahan, mencintai produk. mencintai profesi kita sebagai pengusaha.
Bagaimana bila kita sudah menggunakan kekuatan cinta dengan segenap daya dan upaya ternyata bisnis tidak memberikan hasil yang seperti yang diharapkan? Bagaimana bila usaha sudah maksimal tapi kegagalan ternyata ada di depan mata? Mungkinkah kita akan menangis meraung-raung, meratap, menyesali diri atau sampai bunuh diri?! Jawabannya mungkin, bila kita melupakan satu cinta yang tertinggi, cinta yang teragung yaitu cinta kepada Allah SWT. Dengan mencintai Allah SWT kita yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berdoa dan ikhtiar maksimal. “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman,” (QS Az-zumar[39:52). Cinta kita dalam berbisnis hendaknya bukan karena silau akan gemerlap dunia. Ingin menjadi orang kaya yang sibuk pamer sana-sini, tapi karena ingin membangun perekonomian umat Islam dan mendapat ridho Allah SWT. Manusia berusaha, Allah SWT yang menentukan. Akan ada saat dimana malam berganti pagi, gelap berganti terang. Berbisnis itu ibadah. Bila segala sesuatu diniatkan karena Allah SWT semata maka akan diganti dengan pahala. Wallahu’alam bisshowab.
Saudaraku, berbisnislah dengan satu kata…….., CINTA!!


(Dikutip dari berbagai sumber)

02/17/2006

Membangun Masa Depan

Hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Orang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan, modal termahal dalam hidup adalah waktu. Dalam QS Al-'Asher [103] ayat 1-3, Allah SWT berfirman bahwa untung ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada di luar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ketiga.

Seburuk apa pun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan. Demikian pula dengan masa datang. Maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita tapi tidak melakukan apa pun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Belajar Menghitung

Saudaraku, kita harus mulai menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah sebuah jaminan. Kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Uang yang kita dapatkan sekarang adalah tabungan masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara tidak halal, niscaya aibnya akan segera kita rasakan.

Karena itu, terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran dan hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap. Tapi kalau kita bicara sepuasnya, berpikir sebebasnya, tak usah heran bila saat kematian menjadi saat paling menakutkan.

Menyongsong Masa Depan Cerah

Ada tiga cara agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari kita menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.

Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Di mana pun kita berada lakukan yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak dilihat kita jalan terus.

Ketiga, terus melatih diri agar mampu menasihati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, dan terus melatih diri untuk mampu menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Kita akan mampu memberi nasihat, kalau kita senang diberi nasihat. Wallahu a'lam.

 

Penulis : Aa Gym ( KH. Abdullah Gymnastiar )

Sumber : http://republika.co.id

10:42 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (1) | Email this

02/15/2006

Something to ponder about...

Tuhan yang Mahabaik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk
mendapatkannya.
Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak
akan pernah mulai.
Mulailah sekarang, mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi
sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak
memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan
mata kamu setengah terpejam sesudahnya.
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama
seperti membeli rumah karena lapisan catnya.
Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah....
hati seorang wanita .

Begitu juga Persahabatan,
Persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga. Persahabatan sejati layaknya
kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.
Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan
menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.
Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.
Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah
menyesal untuk bertemu dengan orang lain...tapi menyesal-lah jika orang itu
menyesal bertemu dengan kamu.
Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala
kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah   .
Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan
seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa
melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa
melihat keduanya.

Begitu juga Kebijakan,
Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak  pada penerapan yang
benar.
Orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal.
Sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.
Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga
berdasarkan pada perasaan dan fakta.
Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti
salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita
adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu....tetapi dapat menghancurkan masa kini
dengan mengkhawatirkan masa depan.
Bila Kamu mengisi hati kamu dengan penyesalan untuk masa lalu dan
kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri
.
Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok
tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju
sukses.

02/14/2006

Alunan Musik Sopir Angkot

Sungguh aneh tapi nyata...tak kan terlupa...kisah kasih di sekolah...dengan si dia....tiada masa paling indah masa masa di sekolah, tiada kisah paling indah kisah kasih di sekolah....

Deghhh...lagi bete-betenya bermacet-macet di jalanan Cinere Depok yang rusak, tau-tau ada alunan musik merdu terdengar dari tape mobil angkot yang kutumpangi. Hehe...keren juga nih sopir, mau nyetel lagu begituan. Soft gitu lho...biasanya kan dang-doet dan konco-konconya. :-). Lumayan lama juga lagu itu mengalun...sampai tak sadar aku ikut menggumam mengikuti iramanya. Pikiranku pun sedikit menerawang ke masa lalu...

Suatu siang di sebuah SMA di kota Surabaya...ada dua makhluk berseragam abu-abu sedang duduk berdua di pojokan sekolah. Keduanya tampak asyik seolah dunia hanya milik mereka berdua. Padahal suasana sekolah cukup ramai karena habis bubaran. Yah...namanya juga cintrong, semua apapun jadi terasa indah. Hingga kemudian mereka berpisah karena harus melanjutkan studinya di kota yang berbeda...

 

--------------

hehe...garing ya ? pls comment.

 

Selamat Pagi

14 Peb 2006 07:54 WIB

Ada tiga penghuni di rumah kami saat ini: saya, suami dan anak pertama kami berusia 2 tahun. Dari ketiganya, yang terbiasa menyambut pagi dengan semangat tinggi (kecuali jika sedang sakit). Adalah anak kami, usianya baru 2 tahun, tapi semangat menyambut pagi yang ditunjukkannya perlu jadi teladan. Begitu bangun, dia segera bangun dan bergerak. Pergi ke tempat mainannya biasa diletakkan, atau pergi ke tempat lain di mana ada orang lain yang sudah melakukan aktivitas.

Saya dan suami punya kebiasaan yang lain lagi dalam menyambut pagi. Saya biasanya dilanda kebingungan akan menu makanan yang akan saya masak hari ini, khususnya jika daftar menu lupa saya susun sebelumnya. Tidak jarang, melihat tumpukan baju kotor yang harus dicuci, juga tumpukan peralatan makan di dapur, rasanya badan ini malas bergerak. Apalagi musim hujan nan dingin seperti sekarang. Tak perlu melihat tumpukan cucian pun, pagi hari biasa disambut dengan bermalas-malasan. Ingin rasanya kembali ke balik selimut, menunggu matahari yang masih malu-malu muncul. Suami saya, seringkali lebih semangat menyambut hari baru di pagi hari, tapi juga tidak jarang bermalas-malasan di pagi hari yang dingin.

Jika melihat anak pertama kami sudah bangun dan melakukan aktivitasnya sendiri dengan semangat, rasanya malu juga. Seharusnya saya memberi contoh yang lebih baik. Bukannya memilih bermalas-malasan daripada segera melakukan aktivitas yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi seringnya, malu itu dikalahkan rasa malas. Padahal, dalam pagi hari ada keberkahan. Seperti pepatah di kalangan orang Arab yang menyebutkan bahwa berkah itu ada di waktu pagi, albarakatu fi bukuriha.

Waktu pagi, memang menyimpan banyak keutamaan. Salah satunya adalah keutamaan zikir pagi yang dianjurkan untuk memperoleh banyak rahmat Allah SWT. “Dan sebarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaan-Nya” (Al-Kahfi; 28).

Waktu pagi adalah waktu pergantian tugas malaikat malam dan siang. Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya bahwa waktu shubuh adalah masa di mana para malaikat malam naik ke langit digantikan dengan malaikat siang. Sungguh terasa indah jika saat-saat pergantian malaikat itu, kita sedang berada dalam kondisi taat kepada Allah swt.

Namun apa yang terjadi? Biasanya saya lebih memilih untuk bermalas-malasan. Menjalankan sholat shubuh dengan terkantuk-kantuk kemudian bermalas-malasan menunggu matahari muncul adalah hal yang tidak jarang saya lakukan. Astaghfirullahaladziim..

Waktu-waktu shubuh di pagi hari adalah waktu yang oleh para ulama dianggap sebagai waktu terbaik untuk mendalami suatu ilmu. Suasana pagi yang tenang membuat konsentrasi dan kemampuan memahami meningkat. Ibnu Jarir Ath Thabari, yang mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari selama empat puluh tahun terakhir masa usianya, melakukan murajaah akan ilmu dan ide-ide yang akan dituangkan dalam tulisannya di awal-awal shubuh. Lukman Al-Hakim pun mengingatkan anaknya tentang kemuliaan pagi dan mudahnya akal menyerap ilmu dengan mengatakan, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.”

Lihatlah! Pagi tak pernah bosan menyapa kita kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain. Suasana pagi tetaplah penuh dengan kesegaran dan kesejukan. Suasana pagi selalu membawa harapan bagi diri. Selamat pagi! Saya ingin selalu menyapa pagi dan menjadikannya momen yang baik untuk memperbaiki diri. Mudah-mudahan..

Wallahu’alam bishshowab

02/06/2006

Hidup Hanya Sebentar

Hidup itu hanya sebentar

Sebentar marah, sebentar sedih

Sebentar senang, sebentar susah

Sebentar sibuk, sebentar luang

Sebentar kaya, sebentar miskin

Sebentar muda, sebentar tua

Sebentar dan hanya sebentar

Jadi nikmati dan syukuri

Setiap episode perjalanan

Dalam hidup kita

Karena tidak ada yang abadi

Dalam dunia ini...

Kebahagiaan

Ini bercerita tentang tokoh asal timur tengah, Nasrudin. Suatu hari, nasrudin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. tetapi selama sejam mereka mencari jarum itu tak ketemu juga.

 Tetangganya bertanya  " Jarumnya jatuh dimana ?"
 " Jarumnya jatuh didalam" Jawab nasrudin
 " kalau Jarumnya jatuh didalam, kenapa mencari diluar ?" Tanya tetangganya
 Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasrudin menjawab, "karena didalam gelap, diluar terang"

 Begitulah perjalanan kita mencari kebahagiaan.
 seringkali kita mencarinya di luar dan tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagian dan keindahan, sebenarnya adalah daerah didalam diri. justru letak 'sumur" kebahagiaan yang tak pernah kering, berada didalam, tak perlu mencarinya jauh-jauh, karena "sumur" itu berada di dalam semua orang.

 Sayangnya, karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu diluar, Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau rumah indah. tetapi kenyataannya setiap pencarian di luar tersebut  akan berujung pada bukan apa-apa,  karena semua itu tidak akan berlangsung lama, kulit misalnya, akan keriput karena termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model baru, jabatan juga akan hilang karena pensiun.

 Setiap perjalanan mencari kebahagian diluar akan selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap  kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan & kebahagian, berangkat dari mencarinya diluar.

  Untuk mencapai tingkatan Kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan sesorang harus melalui lima buah "pintu" yang menuju k e tempat tersebut.

 Pintu Pertama adalah STOP COMPARING,  START FLOWING.
 " Stop membandingkan dengan yang lain, seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain, karena setiap perbandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagian di luar"

 Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, di mulai dari membandingkan.
  Contoh, Micahel  Jakson, sebagai orang yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain. " Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan yang lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang Michael Jackson, Leads you nowhere."

 Karena itu saya mengajak pembaca ke sebuah titik mengalir ( Flowing) menuju ke kehidupan paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri, apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja. kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita. ketika kita mulai belajar menerimanya, Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.
 " tidak ada kehidupan yang paling indah dengan menjadi diri sendiri, itulah keindahan yang sebenar-benarnya "

 Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagian adalah MEMBERI.
 Sebab utama kita berada di bumi ini kata Gede Prama adalah untuk memberi " Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak, Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan , I intend good, I do good and I am good.
 Saya berniat baik, saya melakukan yang baik, kemudian saya menjadi orang baik.

 "Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada  yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi, muka orang itu keringnya minta ampun. orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya, apa rahasia kehidupan yang penting  yang bisa saya bagi kedia, Saya bilang " Sleep well, eat well." artinya memang, ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. hanya saja orang sering memperumit hal yang sudah rumit, kalau kita sederhanakan sleep well, eat well akan menjadi lebih mudah jika diikuti kegiatan memberi " tak perlu khawatir, setiap pemberian itu ada yang mencatat, jika atasan anda dikantor, tidak mencatat pemberian anda, ada " Atasan Tertinggi" yang mencatatnya, mirip dengan petani, orang-orang yang suka memberi akan memanen hasil-hasil yang diharapkan"

 Cahaya didalam pintu ketiga menuju kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup anda, semakin terang cahaya Anda didalam.
 Perhatikan bintang dimalam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap, sedangkan lilin disebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangan nya gelap.

 artinya semakin anda berhadapan dengan masalah dan cobaan hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam.  Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan & kebahagiaan, biasanya telah lulus dari universitas  kesulitan, semakin banyak kesulitan yang kita hadapi semakin diri kita bercahaya dari dalam. Mengutip perkataan Jalaludin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan " Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang  jelek juga berguna. Gunanya adalah karena ada orang jelek, orang cantik, terlihat jadi tambah cantik. jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya2 beauty & happines"

 Pintu keempat adalah surga yang bukanlah suatu tempat melainkan rangkaian sikap.
 " Bila anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan, maka neraka tidak ketemu sesudah mati, neraka sudah ketemu sekarang, sedangkan anda akan ketemu surga, jika hasil dari rangkain sikap yang benar.

 Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatu, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be allright.

 Pintu Kelima  menuju keindahan & kebahagiaan yakni kita tahu diri kita dan kita tahu kehidupan.
Ada cerita tentang kumpulan binatang yang hendak bikin sekolah karena mereka tidak mau kalah dengan manusia, semua binatang mengikuti kursus berlari, berneng dan terbang, tetapi 11 tahun kemudian , binatang2 tersebut merasa lelah sekali.

 Burung hanya tetap bisa terbang, ikan tetap hanya bisa berenang dan srigala tetap hanya bisa berlari, akhirnya mereka sampai pada kesimpulan , bahwa mereka harus tahu diri, ikan mesti tau diri hanya bisa berenang, burung mesti tau diri hanya bisa terbang sedangkan srigala harus tau diri hanya bisa berlari.

 Ada sebuah kalimat bijak :
 "Sumur kehidupan yang tak pernah kering berada didalam, Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri". Seandainya diri sendiri telah ditemukan , maka artinya kita kemudian mengetahui kehidupan.

 -Sumber unknown-

02/03/2006

Silaturahmi Itu...

Hujan di bulan Januari benar-benar telah menjadi hujan sehari-hari. Seperti hari itu, sebuah ahad dengan langit yang pekat. Mendung menggantung di setiap ujung langit, menghias segala lintas cakrawala. Sepanjang waktu ia menumpahkan bebannya. Beberapa saat merintik, kemudian menderas dan kadang mengguyur. Namun laki-laki itu tetap tak jeri. Tenang dan mantap dia mengendarai motornya, dengan kecepatan rata-rata, meski sesekali digebernya juga. Sesosok perempuan yang menggelendot di punggungnya tak sekalipun membuatnya mengeluh pegal dan sejenisnya. Istrinya. Ini adalah perjalanan berikutnya, setelah sebelumnya mereka menyusuri jalanan Jakarta nyaris 1,5 jam lamanya. Ini adalah perjalanan ke tujuan selanjutnya, setelah sebelumnya bercengkerama selama hampir dua jam bersama sebuah keluarga salah satu kerabatnya.

Hujan di bulan Januari sungguh memang berarti hujan sehari-hari. Seperti siang itu, sebuah siang dengan mendung gelap. Genangan air meriak di sepanjang jalan. Angin basah berkesiur, menebarkan hawa dingin menggigilkan. Suasana yang membuat nyaris semua orang enggan meninggalkan rumah. Namun laki-laki itu tak merasa perlu untuk membatalkan perjalanan selanjutnya. Sejak matahari belum lagi sepenggalah, mereka telah meninggalkan rumah. Di rumah keluarga pertama, mereka telah sekalian beristirahat sejenak sambil mengeringkan badan serta shalat dzuhur dan makan siang. Maka kini tiba saatnya mereka menuju tempat berikutnya, 45 menit lamanya naik motor dengan kecepatan rata-rata.

Perempuan di boncengan motor itu termenung. Betapa adil Allah yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki ini. Di masa lajangnya, ia amat jarang bertandang ke kaum kerabatnya. Bukan, bukan karena ia tak punya kerabat di Jakarta, namun aktifitasnya yang sangat padat telah membuatnya nyaris tak punya waktu untuk bersilaturahmi, bahkan untuk dirinya sendiri. “Kapan terakhir kali kau berkunjung ke rumah bude-mu (sepupu ibunya) di Tebet?” pernah suaminya bertanya. “Hmm, mungkin dua atau tiga tahun lalu,” jawab perempuan itu ragu. “Kalau begitu, bude-mu mendapat jatah giliran silaturahmi pertama, oke?” saran sang suami.

Air kembali tumpah saat mereka tiba di sebuah komplek perumahan yang cukup elit. Sepasang anak kembar berceloteh riang menyambut mereka, bahkan kemudian menantang sang suami bermain catur. Seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu, bercengkerama dan bercanda gembira. Kadang-kadang, cengkerama itu diselingi diskusi seru tentang pekerjaan dan kondisi Indonesia kontemporer. Selesai shalat ‘asar, mereka kembali memacu kendaraan ke tujuan ketiga. Lagi-lagi, rintik hujan kembali menghalangi pandangan mata. Kali ini, tak sampai tiga puluh menit mereka telah sampai di tujuan. Sayang, sang tuan rumah sedang jalan-jalan ke mall. “Kita tunggu saja, paling sebentar lagi pulang!” demikian simpul si laki-laki. Sang istri tak terkejut. Ini bukan yang pertama kali. Beberapa pekan sebelumnya mereka pernah mengunjungi seorang kerabat di Pasar Rebo yang jauhnya lebih dari dua puluh kilo meter dari rumah mereka. Sayang sekali, rumah yang mereka kunjungi tak berpenghuni. Mereka kembali pulang dalam gerimis, setelah menitip pesan ke tetangga. Pekan depannya, laki-laki itu kembali mengajak sang istri untuk mengunjungi keluarga itu. ‘Kemarin kan kita belum ketemu mereka?” demikian alasannya. Meski merasa aneh, sang istri hanya mengangguk saja. Ini adalah pelajaran untuk sebuah ketulusan, demikian batinnya.

Air bagai dicurahkan dari langit ketika keluarga yang dikunjungi tiba di rumah. Sesosok balita laki-laki menghambur ke pelukan istri pria itu dan berceloteh riang, ”Tante, tadi aku ke Ramayana!” Hingga setelah shalat magrib dan hujan tak lagi mengguyur, mereka kembali menyusuri jalanan, menempuh jarak nyaris 40km. Pulang. Namun belum jauh mereka meninggalkan rumah yang dikunjungi, laki-laki itu membelokkan motornya ke jalan yang berlawanan arah dengan jalan menuju rumah. “Kita mampir sebentar ke kost-an temenku. Sudah lama dia tak berkabar dan belum juga memenuhi janjinya berkunjung ke rumah kita,” tanpa ditanya, dia menjelaskan kepada istrinya.

Malam telah cukup jauh beranjak saat mereka tiba kembali di istana mungil mereka. Masih dengan kostum lengkap, sang istri langsung merebahkan diri di pembaringan. “Aku meluruskan badan sebentar, ya. Punggungku pegal sekali dan pantatku panas,” seringainya lucu. Dia bertanya-tanya jika ia yang hanya membonceng di belakang saja secapek itu, seperti apa lelah suaminya yang menyetir di depan dengan beban dirinya di punggung, plus terpaan angin dan hujan dari depan? Tapi laki-laki itu hanya tersenyum, mengusap keningnya dan berkata,”Pekan depan kita ke rumah Bulik Nur di Tambun, yuk, Dek?”

Dalam deraan penat dan dengan mata tertutup, perempuan itu mengangguk mantap. Di benaknya terbayang sambutan hangat kaum kerabat dan sahabat-sahabat suaminya saat ia dan suaminya mengunjungi mereka. Di telinganya terngiang kembali komentar beberapa kerabat lain,”Suamimu itu dari dulu terkenal kenceng silaturahminya, makanya dia disayang oleh saudara-saudaranya.” Dia membuka mata saat sang suami menyentuh lengannya. “Kita sudah seminggu lebih nggak main ke rumah Mbak Nik, ya Dek?” tanya suaminya retoris. “Besok malam, insyaAllah,” jawabnya pendek. Padatnya pekerjaan telah melewatkan jadwal mingguan mereka berkunjung ke salah satu kerabat yang rumahnya hanya terpisah jarak dua gang dari rumah mereka itu. Perempuan itu kembali mengatupkan kelopak matanya. Di benaknya kini terlintas kata bijak para ulama, silaturahmi itu memanjangkan umur dan melapangkan rizki. Di benaknya kini terlintas sabda rasul agar setiap anak menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tuanya. (@Azimah Rahayu)

# Lt. 8, hujan sore-sore, 26/01/06

All the posts