« 2006-02 | HomePage | 2006-08 »

04/27/2006

Saya adalah Ibu Rumah Tangga


Oleh: Lizsa Anggraeny

21 Apr 2006 06:48 WIB

Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order,
meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,
saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu
rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda
biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar
belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke
pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier;
sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua
saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan
rumah.

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja
dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan
rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan
keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya
hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja,
ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya
wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus
pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai
semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur
yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah
tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui.
Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi
wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah
benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya
berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak
sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat
kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk
mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak
berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan,
meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang
berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk
mengayomi rumah tangga.

Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat
mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah
dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah
tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.

Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi
tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen
saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan
diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan
perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi
berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas
dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt.
Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.

Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru
dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam
mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus
Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah
berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat
mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu
rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum
kepenulisan.

Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra.,
seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang
suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya
begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah
ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun
membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu
karena sering menyapu.

Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,
"Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum
untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh
buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir
rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan
baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang
lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan
mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk
suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit
(malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan
sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang."

Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang
tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri - ibu rumah tangga.
Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang
bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, "Saya
adalah ibu rumah tangga."

Renungan diri, aishliz et yahoo.com.sg, FLP Jepang

04/25/2006

Go to Resign ?

Entah kenapa, semenjak ikutan milis TDA - Tangan Di Atas -- gejolak untuk segera take action berbisnis itu selalu menggelegak. Apalagi jika melihat teman-teman yang sudah sukses lebih dulu...terus memutuskan resign dari pekerjaannya yang sekarang. Rasanya pengen dehhh...

Memang sih dunia bisnis itu ibarat kita memasuki hutan belantara. Jika tidak pandai-pandai membaca situasi bisa-bisa tersesat, apalagi kalo cuma sekedar ikut-ikutan trend. Jadi nyasar gak tentu arah. Bener, ini pengalamanku juga beberapa waktu lalu. Bahkan mungkin traumanya masih membekas sampai sekarang. Sempat down banget waktu itu, gak tahu lagi mau ngapain. Beruntung, masih ada pekerjaan yang setia menemani. Yah, mungkin dulu itu aku kurang menggali informasi dari orang lain terutama yang telah pengalaman berbisnis, cenderung jalan aja sendiri...ya sudahlah. tokh itu pengalaman yang berharga untuk menentukan langkah kedepan.

Sekarang aku cenderung lebih berhati-hari dalam mengambil keputusan terutama masalah dana, gak ada deh ceritanya lagi pinjam modal dulu ambil dari kartu kredit. Sudah kapok. Bisnisnya belum jalan, eh tagihan sudah segunung. Panik kan ? mendingan slowly but sure, sambil ngatur strategi. Gak usah pusing pontang-panting cari pinjaman modal...hubungi saja rekanan yang bisa dipercaya dan sudi meminjamkan produknya, pelan-pelan bangun aset. insyaAllah.

Tempo hari aku memutuskan ikutan join di sebuah bazaar. Hasilnya ? alhamdulilah, cukup sukses, at least menutupi operational cost-lah. Profit lumayan...walau masih belum ada yang bisa ditabung, setidaknya ada repeat order dikit-dikit. Doakan saja semoga ini berlanjut. Aku juga akan intens menghubungi produsen-produsen garment atau apalah yang sekiranya bisa menghasilkan. Semua ini kulakukan hanya dengan satu niat, " mencari rejeki halal di jalan Allah dan membuka pintu manfaat seluas-luasnya bagi orang lain...". amin.

Bener kata orang, silaturahmi akan mendatangkan banyak rejeki. Banyak yang kuperoleh semenjak bergabung dengan komunitas ini. Setidaknya motivasi untuk selalu berubah dan berubah kearah yang lebih baik akan selalu terjaga, insyaAllah. Apalagi aku senantiasa mendapati lingkungan yang senantiasa membuatku berpikir positif dan selalu mengingat Allah hingga kondisi apapun terasa lebih tenteram. "..Amin ya Allah atas nikmat-Mu yang terbesar ini, jangan jadikan hamba termasuk orang yang berputus asa karena kesulitan hidup yang kian menghimpit..."

Go to resign ? Ini dia...insyaAllah jika timingnya sudah tepat arahnya akan kesana. Tapi saat ini terus terang masih belum berani buat timetable-nya, khawatir tidak tercapai coz masih ada 'tanggungan' di kantor. Tau kan...:-). Pokoknya, aku berazzam dalam hati, semoga dengan usaha dan ikhtiar maksimal sambil terus memohon pada Sang Khalik...suatu saat aku harus menjadi seorang yang Tangan Diatas. Memberi dan selalu memberi manfaat sekecil apapun bagi orang lain. " Ya Allah kabulkanlah hajatku ini..."

Wallahu'alam Bisshowab.

04/07/2006

Bukan Sekedar Memberi

Kita sesungguhnya patut bersyukur jika di tengah semakin tingginya individualisme masyarakat, di tengah gencarnya arus hedonisme dunia, ternyata “memberi” masih berada dalam daftar aktivitas kita sehari-hari. Entah sekedar memberikan salam atau memberikan sebagian harta benda. Akan tetapi, mungkin kita tak pernah mengukur bagaimana derajat pemberian kita. Dengan kata lain, mungkin kita terlupa bahwa ternyata kita seringkali hanya sekedar memberi, memberikan apa yang sudah tidak lagi kita inginkan, memberikan apa yang sudah tak lagi kita butuhkan. Sungguh terpaut jauh dengan kualitas pemberian oleh para sahabat pendahulu Islam.

Dahulu Fatimah r.a rela memberikan kalung yang dimilikinya kepada seorang fakir yang datang kepadanya. Kita tentu juga tidak asing lagi bagaimana QS. Al-Hasyr:9 melukiskan kemuliaan kaum Anshar yang dengan senang hati memberikan pertolongan terbaik kepada kaum muhajirin. Bercermin pada kehidupan para sahabat, betapa kita melihat untaian kisah indah mereka yang bisa menjadi para pemberi kaliber dunia, yang bukan saja bisa memberi di saat senggang dan sempit, tetapi juga bisa memberikan bagian terbaik dari diri mereka.

Sungguh besar kemuliaan yang terpancar dari pemberian mereka. Memberikan yang terbaik adalah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan. Memberikan yang terbaik berarti juga wujud keyakinan kita kepada janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 272 bahwa tak akan pernah dirugikan sedikitpun orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Memberikan yang terbaik pun berarti mensyukuri nikmat Allah SWT serta mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi diri untuk bisa memberikan manfaat buat orang lain. Dan tentu, memberikan yang terbaik adalah bukti nyata cinta seorang muslim kepada saudaranya. Lihatlah, betapa semua keutamaan ini tercermin dalam kualitas pemberian mereka yang begitu tinggi.

Sementara bagi kita agaknya jerat-jerat kehidupan dunia mungkin masih begitu kuat membekap sehingga kita lebih sering memberi sekedarnya, memberikan seperlunya. Sepertinya, logika akhirat para sahabat itu masih di luar rasio kita sehingga teramat susah bagi kita untuk bisa meniru perilaku generasi terbaik itu. Akan tetapi, bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk bisa mengambil sedikit dari keteladanan para sahabat, sehingga kita bisa mempersembahkan setiap hal terbaik yang ada dalam diri kita.

Bukanlah mustahil jika suatu saat kita tak lagi sibuk mencari-cari uang recehan tatkala ada pengemis meminta, sementara berlembar-lembar ribuan masih terselip di dompet kita. Semoga kita bukanlah orang yang sibuk membongkar pakaian usang di pojok lemari ketika banjir melanda saudara kita. semoga kita bukanlah orang yang hanya membagi makanan kepada tetangga saat makanan bersisa. Semoga kita bukan lagi termasuk orang yang menjawab salam seadanya, bukan lagi termasuk orang yang berkata seadanya tanpa hendak berpikir mendalam ketika ada seseorang meminta pendapat kita. Sungguh patut kita renungkan perkataan Fudhail bin Iyadh yang mengatakan sudah selayaknyalah kita bersyukur ketika masih ada seseorang yang meminta kepada kita, ketika kita masih bisa memberikan manfaat buat orang lain. Ataukah memang sesungguhnya kita termasuk orang yang tidak pernah bersyukur?


Bumi Pesagi 2006, ikesari_2304@yahoo.com

All the posts