09/04/2006

Surat Amphibi

Surat seorang Amphibi di awal metamorfosisnya

(Saudara-saudaraku TDB…
Ketika Anda berniat untuk melompat menjadi TDA, bersiaplah untuk mengakrabi berbagai tantangan. Salah satu tantangan itu biasanya berasal dari orang yang paling dekat dengan Anda, yaitu pasangan (istri/suami) Anda sendiri. Mengapa...?. Karena dialah yang pertama akan menerima segala dampak yang muncul akibat keputusan Anda itu.
Sebagai pengalaman pribadi, untuk meneguhkan keyakinan Istri, berikut ini saya menulis surat padanya ketika awal-awal menjadi TDA...
Semoga bermanfaat...)


Istriku terkasih…
Maafkan Abi atas kekacaubalauan pikiran dan keadaan akhir-akhir ini…
Abi menyadari bahwa untuk kesekiankalinya lagi-lagi engkau jadi korban pertama keputusan-keputusan Abi.
Lagi-lagi Abi mohon pengertian dan permakluman Umi.
Untuk kesekian kalinya, Abi mohon diberi kesempatan
Untuk mencoba merubah keadaan yang bisa dikendalikan
Abi ingin mengoptimalkan kesempatan yang diberikan Allah
Dengan mengandalkan segala anugrah yang diberikan Allah pada diri Abi
Ijinkan Abi untuk memberi referensi yang berbeda bagi anak-anak kita
Agar mereka tumbuh dan berkembang dengan kesadaran keluasan anugerah Allah, kesadaran untuk berani mengambil risiko, kesadaran untuk berani mengambil keputusan dengan berfihak pada diri sendiri, kesadaran untuk berani mencoba, kesadaran untuk berani menghadapi ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpastian.
Ijinkan Abi untuk menciptakan dunia kita sendiri, sekemampuan kita, sebesar harapan kita.
Tak ada janji yang dapat Abi berikan
Hanya saja, pengalaman-pengalaman kita selama ini telah membuktikan bahwa selama kita berani mengambil keputusan, selalu saja kita dapati hasil yang berbeda, hasil yang lebih baik. Meski selama menjalaninya kita harus bersusah payah, berkeluh kesah, melelahkan, menyita perhatian dan memerlukan pengorbanan.
Begitu banyak lembar-lembar kehidupan kita terisi dengan kesulitan, kesedihan, penderitaan dan kekurangan.
Tapi kita berhasil melaluinya, kemudian menjadikan semuanya sebagai kenangan manis sejarah kehidupan kita.

Istriku terkasih…
Abi sadar benar bahwa perjuangan ini begitu berat dan mempertaruhkan segala daya tahan Abi,
Namun keberadaanmu, sungguh jadi bagian besar dari keberanian Abi,
Daya dukungmu adalah tameng Abi melawan segala ketakutan dan kekhawatiran.

Istriku…
Hidup ini terlalu pendek untuk disia-siakan
Ijinkan Abi untuk mengisinya dengan hal-hal yang lebih baik, lebih besar dan lebih optimal.
Ijinkan Abi merangkai mimpi-mimpi dan harapan
Dan ijinkan Abi tuk menggapainya…


Jagorawi, 18 Pebruari 2006

 

02/24/2006

Berbisnis dengan Cinta


Kamis, 19 Januari 06 - oleh : admin

Cinta Sang Nabi

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan
terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan
dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada dibalik
sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia bicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan
mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang
memporak-porakan petamanan
……………

(Kahril Gibran)

Cinta. Satu kata yang begitu bermakna. Cinta membuat orang bodoh menjadi pintar, orang lemah menjadi kuat, orang pelit menjadi dermawan. Setiap makhluk hidup membutuhkan cinta. Kehidupan membutuhkan cinta. Semua yang ada di bumi ini membutuhkan cinta. Ada satu lirik lagu marawis yang kalau tidak salah syairnya begini...,”Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, aduhai begitulah kata para pujangga, tanpa sedap tanpa bunga.” Tidak dapat dibayangkan bila dunia tanpa cinta. Hidup akan terasa hampa, hambar, tidak bersemangat, tidak bergairah. Kalau diibaratkan masakan tidak ada rasanya; tidak asin, tidak manis, tidak pedas, tidak asam, yah tawar, tidak nikmat dimakan.
Ada berbagai macam cinta yaitu cinta pada Allah SWT, cinta pada Rasul, cinta pada malaikat cinta pada orang tua, cinta pada anak dan istri, cinta pada lawan jenis, dsb. Pernahkah terlintas pada pikiran kita untuk menggunakan kekuatan cinta dalam bisnis? Tertarik salah satu bab dalam buku Berbisnis dengan Hati hasil duet Aa’ Gym dan Hermawan Kartajaya yang berjudul ‘Berbisnis dengan cinta’, saya ingin menggali lebih dalam rahasia The power of love dalam berbisnis.
Ingatkah saat anda jatuh cinta? Merasakan letupan kegairahan dalam setiap tarikan nafas. Keindahan hidup bagai surga dunia. Bagaimana dengan cinta pertama? Kata orang cinta pertama itu murni dan polos. Tidak berlandaskan apapun Cinta membuat orang menjadi tulus. Cinta menuntut pengorbanan. Melakukan apapun untuk pujaan hati tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang diberikan. Bak kata penyair…,”Hujan badai akan kulewati hanya untuk dirimu.” Jadilah pecinta dalam berbisnis, niscaya hambatan-hambatan tidak terasa berat dihadapi, ketakutan akan sirna, dan langkah-langkah ke depan akan terasa ringan. Kekuatan kita akan berlipat ganda dalam mencapai kesuksesan.
Bisnis mempunyai resiko, itu sudah pasti. Tapi ada hal dalam bisnis yang terkadang dilupakan, yaitu bahwa bisnis merupakan permainan. Pahami aturan-aturan mainnya, maka kita dapat meminimalkan resiko dan memenangkan permainan. Hermawan Kartajaya mengatakan pemenang permainan bisnis adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan-aturan permainan secara baik. Bos Primagama, Purdie Chandra mempopulerkan jurus jitu dalam berbisnis dengan konsep BODOL, BOTOL, BOBOL. Ia tahu betul aturan-aturan main dalam bisnis yang terkadang dibilang nyeleneh, dan ia sukses. Hanya tidak ada yang dapat mengukur seberapa besar rasa cinta yang dicurahkan oleh Purdie dalam bisnis kecuali oleh Purdie sendiri dan orang-orang sekitarnya.
Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!, dalam buku Love is The Killer App, mengemukakan apa yang disebut dengan ‘Lovecat’. ‘Lovecat’ adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Seorang ‘Lovecat’ akan terus menambah pengetahuannya (knowledge), mengembangkan relasi dengan semua orang (network) , menunjukkan rasa empati dan tidak segan untuk membantu jika diperlukan (compassion).
Cinta bagai tanaman yang harus dipelihara dan dirawat, bila tidak maka akan mati dan layu. Kadang kita melihat atau mendengar pernikahan yang bak dongeng, pangeran tampan berkuda putih menikah dengan putri yang cantik jelita tapi ternyata hanya seumur jagung karena cinta yang ada diantara mereka telah hilang. Dalam berbisnis, menumbuhkan cinta itu perlu, merawat cinta itu penting. Steven Covey dalam buku Seven Habits of Effective People, mengemukakan bahwa.orang yang proaktif membuat cinta sebagai kata kerja. Cintai. Sayangi. Kasihi. Hormati. Cinta itu adalah segala sesuatu yang anda lakukan; pengorbanan yang anda buat, pemberian diri anda, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Marilah belajar untuk mencintai pelanggan, mencintai pesaing, mencintai bawahan, mencintai produk. mencintai profesi kita sebagai pengusaha.
Bagaimana bila kita sudah menggunakan kekuatan cinta dengan segenap daya dan upaya ternyata bisnis tidak memberikan hasil yang seperti yang diharapkan? Bagaimana bila usaha sudah maksimal tapi kegagalan ternyata ada di depan mata? Mungkinkah kita akan menangis meraung-raung, meratap, menyesali diri atau sampai bunuh diri?! Jawabannya mungkin, bila kita melupakan satu cinta yang tertinggi, cinta yang teragung yaitu cinta kepada Allah SWT. Dengan mencintai Allah SWT kita yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berdoa dan ikhtiar maksimal. “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman,” (QS Az-zumar[39:52). Cinta kita dalam berbisnis hendaknya bukan karena silau akan gemerlap dunia. Ingin menjadi orang kaya yang sibuk pamer sana-sini, tapi karena ingin membangun perekonomian umat Islam dan mendapat ridho Allah SWT. Manusia berusaha, Allah SWT yang menentukan. Akan ada saat dimana malam berganti pagi, gelap berganti terang. Berbisnis itu ibadah. Bila segala sesuatu diniatkan karena Allah SWT semata maka akan diganti dengan pahala. Wallahu’alam bisshowab.
Saudaraku, berbisnislah dengan satu kata…….., CINTA!!


(Dikutip dari berbagai sumber)

12/22/2005

Bergerak

BERGERAK (Rhenald Kasali)

"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu.


"Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya.
Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.


Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun. Saya ulangi pesan saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ..."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..."
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja..ini kan gara-gara saudara2 Saya tidak mau mengurus saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....".
Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"

"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu,
sedangkan saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang
selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama
dari hari ke hari.....," katanya penuh semangat."
Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari.
Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah,
tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak,
perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak
terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri,
yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.


Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan
orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif,
bergerak, memulai, dan seterusnya.
Get Started.
Get into the game.
Get into the playing field, Now.
Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural,
tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia,
yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.


Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.
Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul,
yang membedakan antara winners dengan losers adalah
"Winners take action! they simply get up and do what has to be done!".
Selamat bergerak!

(Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali)