10/09/2006

Ramadhan, Bulan Berbagi

Yap, benar. ( mestinya ) bulan penuh berkah ini menjadi ajang berbagi simpati dan peduli bagi sesama, lebih dari sekedar latihan menahan lapar dan dahaga. Karena apalah artinya berpuasa, namun masih tetap saja acuh pada lingkungan sekitar… Namun, alhamdulilah, banyak diantara kita yang sudah mulai tumbuh kesadaran untuk saling berbagi simpati. Ramadhan ini menjadi ajang perlombaan dalam berbuat kebaikan – berfastabiqul khairaat – demi mencapai derajat orang bertaqwa. Subhanallah, kita saksikan di setiap kesempatan di bulan ini, segelintir kelompok manusia berpeluh-peluh membagikan sebingkah kebahagiaan berupa pakaian-pakaian bekas, paket sembako, dan lainnya bagi kaum yang kurang beruntung. Merinding menyaksikan betapa masih banyak ( atau semakin banyak ? ) saudara-saudara kita yang malang nasibnya, bahkan untuk kebutuhan makan sekalipun…janda-janda miskin, anak-anak yatim, kaum dhuafa dan fuqara. Sungguh sebuah kenikmatan tersendiri jika bisa berbagi kebahagiaan Ramadhan dengan mereka, menyaksikan binar kebahagiaan terpancar di mata mereka. Yap, inilah sekilas gambaran yang dilakukan oleh tim Komunitas Tangan Diatas yang masih peduli akan penderitaan sesama. Karena itu, saya sedih jika menyaksikan masih ada segelintir kaum berpunya masih acuh dengan lingkungan sekitar, apalagi untuk kaum yang kurang beruntung. Padahal, konon kata seorang ustadz, sedekah membuka pintu rejeki…insyaAllah. Pernah ada kejadian di sutau kantor, giliran ada pengumpulan dana untuk hadiah ulangh tahun, gak sampe lima menit, sudah terkumpul uang hampir 1 juta. Kebalikannya, pas ada seorang rekan ngajuin proposal untuk infaq, sedekah, santunan anak yatim, dijamin pengumpulan dananya bisa makan waktu berminggu-minggu. Jalan sih jalan…Cuma hasil akhirnya tidak seperti kejadian pertama. Yah, begitulah fenomena. Kadang kita justru merasa, dengan bersedekah, harta kita akan berkurang, namun sesungguhnya tidak di mata Allah. Semoga Allah berkenan memberikan hidayah-Nya agar semakin banyak makhluk-Nya yang saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Amin. Ah, dibalik semua itu, tetap saya merasa sangat bersyukur untuk itu. Sungguh, ini belum ada seujung kukunya dibanding dengan segala kenikmatan yang saya peroleh. Nikmat iman, islam, kesehatan, istri dan anak yang sholeh…Saya harus lebih banyak lagi berbagi simpati…Rabbi, ijinkanlah hamba-Mu ini menjadi seorang muzakki, yang diberi keluasan rejeki dan waktu luang agar bisa lebih banyak lagi berkontribusi bagi sesama. Belumlah cukup amal-amal ini tertoreh, lebih banyak benih-benih dosa yang kami taburkan sengaja ataupun tidak. Ya Allah, ampuni kami dan beri maaflah kami…

09/20/2006

TOKO ABINYA

medium_Model_Sepatu_Outlook-1.jpgAlhamdulilah...akhirnya aku jadi buka toko juga. Toko Abinya ? hehe...it sounds nice and different. at least, menurut aku sendiri yang ngasih nama. Belum resmi sih, baru ancang-ancang saja mau dikasih nama apa toko itu. Paling nggak, aku bisa bernapas sedikit lega karena satu tahapan dari rencana jangka panjang telah berhasil kulewati....

Rencana Jangka Panjang ? hehe...kayak pembangunan Indonesia aja. Gpplah, niru-niru dikit, tokh emang pada akhirnya kita mesti menentukan tujuan tertentu kan, mau dijadikan seperti apa kehidupan ekonomi ini nantinya, apa selamanya jadi pegawai kantoran atau pilih berwirausaha mandiri, itu adalah pilihan. Sudahlah, panjang ceritanya kalo membahas hal yangh satu ini. Back to toko Abinya...

Buat yang pengen tahu, toko Abinya itu sebetulnya adalah singkatan dari nama saya, istri dan anak. Yah, dipas-pasin aja deh biar nyambung. Lagian nama itu kan jarang kedengeran. Untuk saat ini, toko Abinya menyediakan aneka produk sepatu dan tas yang dijual secara grosir juga eceran. Karena itu, hari-hari belakangan ini saya disibukkan juga dengan survey ke beberapa produsen sepatu untuk mendapatkan kualitas terbaik dan harga terjangkau.

Beneran, toko Abinya berisi sepatu dan tas berkualitas dengan harga terjangkau. Bisa dibeli grosiran, eceran juga boleh. Bahan dan model bagus-bagus, fashioned banget deh. hehe...jadi promosi gini yah. Gpp kan sekalian, kan di blog sendiri ini...penasaran ? makanya datang ramai-rami ke Pusat Grosir Metro Tanah Abang Lt. LG ( Basement ) No. 78. Pokoke, deket pintu masuk Kebon Kacang I, ada tangga menuju basement, nah ubek-ubek deh toko-toko disitu...

Tapi, kok sepatu dan tas sih ? Bukannya selama ini sudah nyemplung juga ke bazaar dan pameran berbisnis garmen/jilbab ? yap, hanya tekad dan semangat untuk berubah saja yang menentukan mengapa saya ambil keputusan ini. Seperti yang sering saya katakan sebelumnya, bahwa ibarat masuk hutan, kali ini benar-benar gelap gulita dan pekat. Tapi saya tidak ingin menjadikan itu halangan. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan dan strategi lho...kalo yang ini sih tetap penting kan. Ngapain juga nyebur ke jurang ? hehe.. semoga tidak...

Pokoknya begitulah. Biarlah saat ini saya menikmati proses perubahan ini, perubahan pola pikir, perubahan paradigma dan mind set bahwa rejeki Allah itu Maha Luas. Saya percaya saja dengan usaha, doa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, insyaALLAH suatu saat akan ketemu jalannya. Saya tidak ingin selamanya 'stag' seperti saat ini. 'Stag' ? you know that lah...it's my private reason, not for public consume. hehe.

 

09/12/2006

Metro Tanah Abang II

Bikin cerita lagi ah...kali ini masih seputar kios di Metro Tanah Abang. Entah mengapa, akhir-akhir ini pikiranku terfokus pada hal yang satu ini...bukan apa-apa, aku pikir ini harus digarap serius jika ingin segera berproses dan menuju sukses...insyaAllah. Kupikir, ini hanyalah sebagian kecil ikhtiar untuk menjemput rejeki, tokh kita sendiri tidak tahu rejeki kita ada dimana. Yang penting, ikhtiar sambil terus berdoa....subhanallah.

Namun, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Karena ini penawaran spesial -- tidak semua orang bisa mendapatkan akses informasi ada tawaran kios gratis di daerah tanahabang -- maka ada sejumlah 'konsekuensi' tertentu. Mulai dari permodalan, tenaga hingga ke pembukaan kios. Adalah Pak Haji Alay -- yang telah lama dikenal sebagai seorang saudagar kaya yang cukup disegani karena kepiawaiannya berdagang bertahun-tahun ) menawarkan bagi siapa saja dari komunitas TDA yang berminat untuk buka kios di Metro Tanah Abang. Dan kios ini diperuntukkan untuk produk sepatu, untuk awalnya hanya 10 kios dulu...

Tanpa pikir panjang, langsung kusambut tawaran ini dan mulailah aku bergelut dengan sejumlah kegiatan-kegiatan demi terwujudnya pembukaan kios tersebut dalam waktu dekat. Mulai dari pengundian nomor kios hingga survey ke produsen sepatu. Namun tampaknya, hal ini kurang diikuti oleh peserta yang lain. Aku mafhum bahwa sebagian besar dari kita adalah masih bekerja formal, termasuk diri ini -- namun mestinya itu tidak bisa dijadikan ' excuse'. Okelah, masing-masing kita mempunyai jadwal yang sangat padat setiap pekannya, namun tentu semuanya ada skala prioritas. Mana yang bsia digeser, mana yang sebaiknya didahulukan. Dari awal aku sudah berkomitmen dalam diri, bahwa kali ini aku harus bisa...jauh sebelum ini aku sangat merindukan untuk memiliki kios sendiri yang bisa dijadikan sandaran usahaku kelak. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa ini adalah proses yang sangat panjang dan belum tentu sukses dalam perjalanannya. Namun, kukembalikan lagi bahwa semua ini hanyalah ikhtiar untuk menjemput rejeki dan berubah menjadi lebih baik lagi...insyaAllah.

 

08/30/2006

BOSAN

AKU BOSAN...

RUTINITAS YANG KUTEMUI, DEMI SESUAP NASI...

HARI DEMI HARI BERLALU...

BERTAMBAH TERUS UMURKU...

 

SEKETIKA KUTERSADAR...

APA YANG TERJADI SELAMA INI...

TAK PUNYA VISI DAN MISI...

HINGGA BEKERJA PUN HAMPIR TAK BERARTI...

 

TAK ADA KATA LAIN...

BANGKIT DAN TETAP OPTIMIS...

PERJALANAN MASIH PANJANG...

TUK MENUJU TERMNAL TERAKHIR...

PERJUMPAAN DENGAN ILAHI RABBI...

 

KARENANYA, TETAPLAH TERSENYUM...

KARENANYA, TETAPLAH BEKERJA...

KARENANYA, TETAPLAH HIDUP...

 

KARENA MEMANG HIDUP ITU HANYALAH

SEBUAH TEMPAT PERSINGGAHAN YANG FANA

DAN UJIAN DEMI UJIAN PASTILAH

AKAN TERUS MENDERA...

 

 

Jakarta, 30 Agustus 2006

 

08/23/2006

Memiliki dan Menjadi



Oleh: Nur Cholis Huda


Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah
dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga
megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah
satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.

Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru
yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun
Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan
uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang
memiliki villa itu.

Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar
kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan
karena tidak ikut memiliki.

Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Maka
ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu
dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius.
Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan
biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan
terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.

Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di
kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang
lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi
hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.

"Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin
saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang
yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik
buahnya," kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi
karena dapat memberi.

Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan
menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat
memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi
hidup yang berbeda, yaitu orientasi "Memiliki" dan orientasi "Menjadi".

Perbedaan

Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba
memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang
tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya "To Have or
To Be" yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang
lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu
orientasi Memiliki dan Menjadi.

Ciri utama dari orientasi "Memiliki" ialah kecenderungan memperlakukan
setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan
memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau
diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi "Memiliki" tidak bisa
hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang
menjadi miliknya.

Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang.
Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan
lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar
simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka
keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa
kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang
rasa percaya diri.

"Masyarakat yang serakah merupakan basis modus "Memiliki" kata Fromm.

Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be).
Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari
dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang
berguna secara sosial. "Modus Menjadi menuntut agar kita membuang
egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri," kata Fromm.
Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan
berkorban.

Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut
Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu
yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak
melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada
contoh di atas, dia melakukan aktivitas.

Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan
keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak
disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.

Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi
"Memiliki" akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat
menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi
Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan
memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.

Bukan Pemilik

Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan
yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan
apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki
berarti jalan menurun.

Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan.
Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti
ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan
mendaki.

Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun,
maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang
berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya,
jika itu terjadi pada orang-orang "di atas", maka krisis yang ditimbulkan
akan meluas dan mencakup banyak dimensi.

Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita
lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan
segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.

Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa,
karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita.
Dalam kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun", sangat jelas bahwa kita
dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan
akan kembali kepada-Nya.

Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat
kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan
hidup Mendaki. "Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain.
Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain," kata psikolog.

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara
mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan
orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang
lain menjadi korban.

Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi
Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura,
membungkus motif yang sesungguhnya.

Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin
memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik
disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya.
Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat,
bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut
lagi. Manusia pandai berpura-pura.

Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga
daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.

Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari
orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari
jalan mendaki.*

Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur

08/22/2006

Akhirnya...

Hik-hik...untuk kesekian kalinya, aku kehilangan password di blog. Setelah lama tak ditengok karena beberapa kesibukan ( aslinya sih pura-pura sibuk, hehe ), jadilah blog-ku sendiri terbengkalai. Lama tak diisi dengan siraman-siraman yang menyejukkan hati...cieeee.

Entahlah, enaknya nulis apa ya. Banyak sih yang berseliweran di kepala, tapi muter-muter aja...ya udah deh mengalir aja, kalo dipaksain juga jadi jelek nanti hasilnya. Segini dulu kali yaaa...thanks sudah baca tulisan yang tidak berguna ini. hehe.

04/27/2006

Saya adalah Ibu Rumah Tangga


Oleh: Lizsa Anggraeny

21 Apr 2006 06:48 WIB

Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order,
meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,
saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu
rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda
biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar
belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke
pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier;
sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua
saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan
rumah.

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja
dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan
rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan
keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya
hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja,
ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya
wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus
pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai
semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur
yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah
tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui.
Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi
wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah
benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya
berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak
sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat
kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk
mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak
berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan,
meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang
berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk
mengayomi rumah tangga.

Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat
mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah
dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah
tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.

Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi
tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen
saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan
diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan
perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi
berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas
dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt.
Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.

Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru
dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam
mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus
Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah
berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat
mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu
rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum
kepenulisan.

Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra.,
seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang
suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya
begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah
ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun
membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu
karena sering menyapu.

Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,
"Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum
untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh
buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir
rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan
baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang
lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan
mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk
suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit
(malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan
sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang."

Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang
tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri - ibu rumah tangga.
Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang
bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, "Saya
adalah ibu rumah tangga."

Renungan diri, aishliz et yahoo.com.sg, FLP Jepang

04/25/2006

Go to Resign ?

Entah kenapa, semenjak ikutan milis TDA - Tangan Di Atas -- gejolak untuk segera take action berbisnis itu selalu menggelegak. Apalagi jika melihat teman-teman yang sudah sukses lebih dulu...terus memutuskan resign dari pekerjaannya yang sekarang. Rasanya pengen dehhh...

Memang sih dunia bisnis itu ibarat kita memasuki hutan belantara. Jika tidak pandai-pandai membaca situasi bisa-bisa tersesat, apalagi kalo cuma sekedar ikut-ikutan trend. Jadi nyasar gak tentu arah. Bener, ini pengalamanku juga beberapa waktu lalu. Bahkan mungkin traumanya masih membekas sampai sekarang. Sempat down banget waktu itu, gak tahu lagi mau ngapain. Beruntung, masih ada pekerjaan yang setia menemani. Yah, mungkin dulu itu aku kurang menggali informasi dari orang lain terutama yang telah pengalaman berbisnis, cenderung jalan aja sendiri...ya sudahlah. tokh itu pengalaman yang berharga untuk menentukan langkah kedepan.

Sekarang aku cenderung lebih berhati-hari dalam mengambil keputusan terutama masalah dana, gak ada deh ceritanya lagi pinjam modal dulu ambil dari kartu kredit. Sudah kapok. Bisnisnya belum jalan, eh tagihan sudah segunung. Panik kan ? mendingan slowly but sure, sambil ngatur strategi. Gak usah pusing pontang-panting cari pinjaman modal...hubungi saja rekanan yang bisa dipercaya dan sudi meminjamkan produknya, pelan-pelan bangun aset. insyaAllah.

Tempo hari aku memutuskan ikutan join di sebuah bazaar. Hasilnya ? alhamdulilah, cukup sukses, at least menutupi operational cost-lah. Profit lumayan...walau masih belum ada yang bisa ditabung, setidaknya ada repeat order dikit-dikit. Doakan saja semoga ini berlanjut. Aku juga akan intens menghubungi produsen-produsen garment atau apalah yang sekiranya bisa menghasilkan. Semua ini kulakukan hanya dengan satu niat, " mencari rejeki halal di jalan Allah dan membuka pintu manfaat seluas-luasnya bagi orang lain...". amin.

Bener kata orang, silaturahmi akan mendatangkan banyak rejeki. Banyak yang kuperoleh semenjak bergabung dengan komunitas ini. Setidaknya motivasi untuk selalu berubah dan berubah kearah yang lebih baik akan selalu terjaga, insyaAllah. Apalagi aku senantiasa mendapati lingkungan yang senantiasa membuatku berpikir positif dan selalu mengingat Allah hingga kondisi apapun terasa lebih tenteram. "..Amin ya Allah atas nikmat-Mu yang terbesar ini, jangan jadikan hamba termasuk orang yang berputus asa karena kesulitan hidup yang kian menghimpit..."

Go to resign ? Ini dia...insyaAllah jika timingnya sudah tepat arahnya akan kesana. Tapi saat ini terus terang masih belum berani buat timetable-nya, khawatir tidak tercapai coz masih ada 'tanggungan' di kantor. Tau kan...:-). Pokoknya, aku berazzam dalam hati, semoga dengan usaha dan ikhtiar maksimal sambil terus memohon pada Sang Khalik...suatu saat aku harus menjadi seorang yang Tangan Diatas. Memberi dan selalu memberi manfaat sekecil apapun bagi orang lain. " Ya Allah kabulkanlah hajatku ini..."

Wallahu'alam Bisshowab.

04/07/2006

Bukan Sekedar Memberi

Kita sesungguhnya patut bersyukur jika di tengah semakin tingginya individualisme masyarakat, di tengah gencarnya arus hedonisme dunia, ternyata “memberi” masih berada dalam daftar aktivitas kita sehari-hari. Entah sekedar memberikan salam atau memberikan sebagian harta benda. Akan tetapi, mungkin kita tak pernah mengukur bagaimana derajat pemberian kita. Dengan kata lain, mungkin kita terlupa bahwa ternyata kita seringkali hanya sekedar memberi, memberikan apa yang sudah tidak lagi kita inginkan, memberikan apa yang sudah tak lagi kita butuhkan. Sungguh terpaut jauh dengan kualitas pemberian oleh para sahabat pendahulu Islam.

Dahulu Fatimah r.a rela memberikan kalung yang dimilikinya kepada seorang fakir yang datang kepadanya. Kita tentu juga tidak asing lagi bagaimana QS. Al-Hasyr:9 melukiskan kemuliaan kaum Anshar yang dengan senang hati memberikan pertolongan terbaik kepada kaum muhajirin. Bercermin pada kehidupan para sahabat, betapa kita melihat untaian kisah indah mereka yang bisa menjadi para pemberi kaliber dunia, yang bukan saja bisa memberi di saat senggang dan sempit, tetapi juga bisa memberikan bagian terbaik dari diri mereka.

Sungguh besar kemuliaan yang terpancar dari pemberian mereka. Memberikan yang terbaik adalah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan. Memberikan yang terbaik berarti juga wujud keyakinan kita kepada janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 272 bahwa tak akan pernah dirugikan sedikitpun orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Memberikan yang terbaik pun berarti mensyukuri nikmat Allah SWT serta mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi diri untuk bisa memberikan manfaat buat orang lain. Dan tentu, memberikan yang terbaik adalah bukti nyata cinta seorang muslim kepada saudaranya. Lihatlah, betapa semua keutamaan ini tercermin dalam kualitas pemberian mereka yang begitu tinggi.

Sementara bagi kita agaknya jerat-jerat kehidupan dunia mungkin masih begitu kuat membekap sehingga kita lebih sering memberi sekedarnya, memberikan seperlunya. Sepertinya, logika akhirat para sahabat itu masih di luar rasio kita sehingga teramat susah bagi kita untuk bisa meniru perilaku generasi terbaik itu. Akan tetapi, bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk bisa mengambil sedikit dari keteladanan para sahabat, sehingga kita bisa mempersembahkan setiap hal terbaik yang ada dalam diri kita.

Bukanlah mustahil jika suatu saat kita tak lagi sibuk mencari-cari uang recehan tatkala ada pengemis meminta, sementara berlembar-lembar ribuan masih terselip di dompet kita. Semoga kita bukanlah orang yang sibuk membongkar pakaian usang di pojok lemari ketika banjir melanda saudara kita. semoga kita bukanlah orang yang hanya membagi makanan kepada tetangga saat makanan bersisa. Semoga kita bukan lagi termasuk orang yang menjawab salam seadanya, bukan lagi termasuk orang yang berkata seadanya tanpa hendak berpikir mendalam ketika ada seseorang meminta pendapat kita. Sungguh patut kita renungkan perkataan Fudhail bin Iyadh yang mengatakan sudah selayaknyalah kita bersyukur ketika masih ada seseorang yang meminta kepada kita, ketika kita masih bisa memberikan manfaat buat orang lain. Ataukah memang sesungguhnya kita termasuk orang yang tidak pernah bersyukur?


Bumi Pesagi 2006, ikesari_2304@yahoo.com

02/15/2006

Something to ponder about...

Tuhan yang Mahabaik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk
mendapatkannya.
Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak
akan pernah mulai.
Mulailah sekarang, mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi
sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak
memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan
mata kamu setengah terpejam sesudahnya.
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama
seperti membeli rumah karena lapisan catnya.
Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah....
hati seorang wanita .

Begitu juga Persahabatan,
Persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga. Persahabatan sejati layaknya
kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.
Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan
menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.
Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.
Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah
menyesal untuk bertemu dengan orang lain...tapi menyesal-lah jika orang itu
menyesal bertemu dengan kamu.
Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala
kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah   .
Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan
seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa
melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa
melihat keduanya.

Begitu juga Kebijakan,
Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak  pada penerapan yang
benar.
Orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal.
Sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.
Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga
berdasarkan pada perasaan dan fakta.
Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti
salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita
adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu....tetapi dapat menghancurkan masa kini
dengan mengkhawatirkan masa depan.
Bila Kamu mengisi hati kamu dengan penyesalan untuk masa lalu dan
kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri
.
Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok
tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju
sukses.

All the posts