<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="/rss20.xsl" media="screen"?>
<rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<atom:link href="http://syahidfam.blogspirit.com/artikel_lepas/index.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<title>syahidfam - artikel_lepas</title>
<description>Ahlan Wa Sahlan...</description>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/artikel_lepas/</link>
<lastBuildDate>Wed, 11 Oct 2006 06:26:44 +0200</lastBuildDate>
<generator>blogSpirit.com</generator>
<copyright>All Rights Reserved</copyright>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/10/09/ramadhan-bulan-berbagi.html</guid>
<title>Ramadhan, Bulan Berbagi</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/10/09/ramadhan-bulan-berbagi.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Mon, 09 Oct 2006 05:15:00 +0200</pubDate>
<description>
Yap, benar. ( mestinya ) bulan penuh berkah ini menjadi ajang berbagi simpati dan peduli bagi sesama, lebih dari sekedar latihan menahan lapar dan dahaga. Karena apalah artinya berpuasa, namun masih tetap saja acuh pada lingkungan sekitar… Namun, alhamdulilah, banyak diantara kita yang sudah mulai tumbuh kesadaran untuk saling berbagi simpati. Ramadhan ini menjadi ajang perlombaan dalam berbuat kebaikan – berfastabiqul khairaat – demi mencapai derajat orang bertaqwa. Subhanallah, kita saksikan di setiap kesempatan di bulan ini, segelintir kelompok manusia berpeluh-peluh membagikan sebingkah kebahagiaan berupa pakaian-pakaian bekas, paket sembako, dan lainnya bagi kaum yang kurang beruntung. Merinding menyaksikan betapa masih banyak ( atau semakin banyak ? ) saudara-saudara kita yang malang nasibnya, bahkan untuk kebutuhan makan sekalipun…janda-janda miskin, anak-anak yatim, kaum dhuafa dan fuqara. Sungguh sebuah kenikmatan tersendiri jika bisa berbagi kebahagiaan Ramadhan dengan mereka, menyaksikan binar kebahagiaan terpancar di mata mereka. Yap, inilah sekilas gambaran yang dilakukan oleh tim Komunitas Tangan Diatas yang masih peduli akan penderitaan sesama. Karena itu, saya sedih jika menyaksikan masih ada segelintir kaum berpunya masih acuh dengan lingkungan sekitar, apalagi untuk kaum yang kurang beruntung. Padahal, konon kata seorang ustadz, sedekah membuka pintu rejeki…insyaAllah. Pernah ada kejadian di sutau kantor, giliran ada pengumpulan dana untuk hadiah ulangh tahun, gak sampe lima menit, sudah terkumpul uang hampir 1 juta. Kebalikannya, pas ada seorang rekan ngajuin proposal untuk infaq, sedekah, santunan anak yatim, dijamin pengumpulan dananya bisa makan waktu berminggu-minggu. Jalan sih jalan…Cuma hasil akhirnya tidak seperti kejadian pertama. Yah, begitulah fenomena. Kadang kita justru merasa, dengan bersedekah, harta kita akan berkurang, namun sesungguhnya tidak di mata Allah. Semoga Allah berkenan memberikan hidayah-Nya agar semakin banyak makhluk-Nya yang saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Amin. Ah, dibalik semua itu, tetap saya merasa sangat bersyukur untuk itu. Sungguh, ini belum ada seujung kukunya dibanding dengan segala kenikmatan yang saya peroleh. Nikmat iman, islam, kesehatan, istri dan anak yang sholeh…Saya harus lebih banyak lagi berbagi simpati…Rabbi, ijinkanlah hamba-Mu ini menjadi seorang muzakki, yang diberi keluasan rejeki dan waktu luang agar bisa lebih banyak lagi berkontribusi bagi sesama. Belumlah cukup amal-amal ini tertoreh, lebih banyak benih-benih dosa yang kami taburkan sengaja ataupun tidak. Ya Allah, ampuni kami dan beri maaflah kami…
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/20/toko-abinya.html</guid>
<title>TOKO ABINYA</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/20/toko-abinya.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 06:50:00 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://syahidfam.blogspirit.com/images/thumb_Model_Sepatu_Outlook-1.jpg&quot; alt=&quot;medium_Model_Sepatu_Outlook-1.jpg&quot; style=&quot;float: left; margin: 0.2em 1.4em 0.7em 0px; border-width: 0px&quot; /&gt;Alhamdulilah...akhirnya aku jadi buka toko juga. Toko Abinya ? hehe...it sounds nice and different. at least, menurut aku sendiri yang ngasih nama. Belum resmi sih, baru ancang-ancang saja mau dikasih nama apa toko itu. Paling nggak, aku bisa bernapas sedikit lega karena satu tahapan dari rencana jangka panjang telah berhasil kulewati....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rencana Jangka Panjang ? hehe...kayak pembangunan Indonesia aja. Gpplah, niru-niru dikit, tokh emang pada akhirnya kita mesti menentukan tujuan tertentu kan, mau dijadikan seperti apa kehidupan ekonomi ini nantinya, apa selamanya jadi pegawai kantoran atau pilih berwirausaha mandiri, itu adalah pilihan. Sudahlah, panjang ceritanya kalo membahas hal yangh satu ini. Back to toko Abinya...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buat yang pengen tahu, toko Abinya itu sebetulnya adalah singkatan dari nama saya, istri dan anak. Yah, dipas-pasin aja deh biar nyambung. Lagian nama itu kan jarang kedengeran. Untuk saat ini, toko Abinya menyediakan aneka produk sepatu dan tas yang dijual secara grosir juga eceran. Karena itu, hari-hari belakangan ini saya disibukkan juga dengan survey ke beberapa produsen sepatu untuk mendapatkan kualitas terbaik dan harga terjangkau.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beneran, toko Abinya berisi sepatu dan tas berkualitas dengan harga terjangkau. Bisa dibeli grosiran, eceran juga boleh. Bahan dan model bagus-bagus, fashioned banget deh. hehe...jadi promosi gini yah. Gpp kan sekalian, kan di blog sendiri ini...penasaran ? makanya datang ramai-rami ke Pusat Grosir Metro Tanah Abang Lt. LG ( Basement ) No. 78. Pokoke, deket pintu masuk Kebon Kacang I, ada tangga menuju basement, nah ubek-ubek deh toko-toko disitu...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi, kok sepatu dan tas sih ? Bukannya selama ini sudah nyemplung juga ke bazaar dan pameran berbisnis garmen/jilbab ? yap, hanya tekad dan semangat untuk berubah saja yang menentukan mengapa saya ambil keputusan ini. Seperti yang sering saya katakan sebelumnya, bahwa ibarat masuk hutan, kali ini benar-benar gelap gulita dan pekat. Tapi saya tidak ingin menjadikan itu halangan. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan dan strategi lho...kalo yang ini sih tetap penting kan. Ngapain juga nyebur ke jurang ? hehe.. semoga tidak...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pokoknya begitulah. Biarlah saat ini saya menikmati proses perubahan ini, perubahan pola pikir, perubahan paradigma dan mind set bahwa rejeki Allah itu Maha Luas. Saya percaya saja dengan usaha, doa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, insyaALLAH suatu saat akan ketemu jalannya. Saya tidak ingin selamanya 'stag' seperti saat ini. 'Stag' ? you know that lah...it's my private reason, not for public consume. hehe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/12/metro-tanah-abang-ii.html</guid>
<title>Metro Tanah Abang II</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/12/metro-tanah-abang-ii.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Tue, 12 Sep 2006 09:15:00 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Bikin cerita lagi ah...kali ini masih seputar kios di Metro Tanah Abang. Entah mengapa, akhir-akhir ini pikiranku terfokus pada hal yang satu ini...bukan apa-apa, aku pikir ini harus digarap serius jika ingin segera berproses dan menuju sukses...insyaAllah. Kupikir, ini hanyalah sebagian kecil ikhtiar untuk menjemput rejeki, tokh kita sendiri tidak tahu rejeki kita ada dimana. Yang penting, ikhtiar sambil terus berdoa....subhanallah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Karena ini&amp;nbsp;penawaran spesial -- tidak semua orang bisa mendapatkan akses informasi ada tawaran kios gratis di daerah tanahabang -- maka ada sejumlah&amp;nbsp;'konsekuensi' tertentu.&amp;nbsp;Mulai dari permodalan, tenaga hingga ke pembukaan kios. Adalah Pak Haji Alay -- yang telah lama dikenal sebagai seorang saudagar&amp;nbsp;kaya&amp;nbsp;yang cukup disegani karena kepiawaiannya berdagang bertahun-tahun ) menawarkan&amp;nbsp;bagi siapa saja dari komunitas TDA yang berminat untuk buka kios di Metro Tanah Abang. Dan kios ini diperuntukkan untuk produk sepatu, untuk awalnya hanya 10 kios dulu...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa pikir panjang, langsung kusambut tawaran ini dan mulailah aku bergelut dengan sejumlah kegiatan-kegiatan demi terwujudnya pembukaan kios tersebut dalam waktu dekat. Mulai dari pengundian nomor kios hingga survey ke produsen sepatu. Namun tampaknya, hal ini kurang diikuti oleh peserta yang lain.&amp;nbsp;Aku mafhum bahwa sebagian besar dari kita adalah masih bekerja formal, termasuk diri ini -- namun mestinya itu tidak bisa dijadikan ' excuse'. Okelah, masing-masing kita mempunyai jadwal yang sangat padat setiap pekannya, namun tentu semuanya ada skala prioritas. Mana yang bsia digeser, mana yang sebaiknya didahulukan. Dari awal aku sudah berkomitmen dalam diri, bahwa kali ini aku harus bisa...jauh sebelum ini aku sangat merindukan untuk memiliki kios sendiri yang bisa dijadikan sandaran usahaku kelak. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa ini adalah proses yang sangat panjang dan belum tentu sukses dalam perjalanannya. Namun, kukembalikan lagi bahwa semua ini hanyalah ikhtiar untuk menjemput rejeki dan berubah menjadi lebih baik lagi...insyaAllah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/30/bosan.html</guid>
<title>BOSAN</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/30/bosan.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Wed, 30 Aug 2006 11:10:00 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;AKU BOSAN...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;RUTINITAS YANG KUTEMUI, DEMI SESUAP NASI...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;HARI DEMI HARI BERLALU...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;BERTAMBAH TERUS UMURKU...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SEKETIKA KUTERSADAR...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;APA YANG TERJADI SELAMA INI...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TAK PUNYA VISI DAN MISI...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;HINGGA BEKERJA PUN HAMPIR TAK BERARTI...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TAK ADA KATA LAIN...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;BANGKIT DAN TETAP OPTIMIS...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PERJALANAN MASIH PANJANG...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TUK MENUJU TERMNAL TERAKHIR...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PERJUMPAAN DENGAN ILAHI RABBI...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KARENANYA, TETAPLAH TERSENYUM...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KARENANYA, TETAPLAH BEKERJA...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KARENANYA, TETAPLAH HIDUP...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KARENA MEMANG HIDUP ITU HANYALAH&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SEBUAH TEMPAT PERSINGGAHAN YANG FANA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;DAN UJIAN DEMI UJIAN PASTILAH&lt;/p&gt; &lt;p&gt;AKAN TERUS MENDERA...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jakarta, 30 Agustus 2006&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/23/memiliki-dan-menjadi.html</guid>
<title>Memiliki dan Menjadi</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/23/memiliki-dan-menjadi.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Wed, 23 Aug 2006 05:32:05 +0200</pubDate>
<description>
&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Oleh: Nur Cholis Huda&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah&lt;br /&gt; dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga&lt;br /&gt; megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah&lt;br /&gt; satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru&lt;br /&gt; yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun&lt;br /&gt; Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan&lt;br /&gt; uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang&lt;br /&gt; memiliki villa itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar&lt;br /&gt; kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan&lt;br /&gt; karena tidak ikut memiliki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Maka&lt;br /&gt; ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu&lt;br /&gt; dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius.&lt;br /&gt; Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan&lt;br /&gt; biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan&lt;br /&gt; terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di&lt;br /&gt; kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang&lt;br /&gt; lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi&lt;br /&gt; hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin&lt;br /&gt; saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang&lt;br /&gt; yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik&lt;br /&gt; buahnya,&quot; kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi&lt;br /&gt; karena dapat memberi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan&lt;br /&gt; menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat&lt;br /&gt; memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi&lt;br /&gt; hidup yang berbeda, yaitu orientasi &quot;Memiliki&quot; dan orientasi &quot;Menjadi&quot;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perbedaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba&lt;br /&gt; memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang&lt;br /&gt; tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya &quot;To Have or&lt;br /&gt; To Be&quot; yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang&lt;br /&gt; lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu&lt;br /&gt; orientasi Memiliki dan Menjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ciri utama dari orientasi &quot;Memiliki&quot; ialah kecenderungan memperlakukan&lt;br /&gt; setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan&lt;br /&gt; memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau&lt;br /&gt; diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi &quot;Memiliki&quot; tidak bisa&lt;br /&gt; hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang&lt;br /&gt; menjadi miliknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang.&lt;br /&gt; Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan&lt;br /&gt; lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar&lt;br /&gt; simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka&lt;br /&gt; keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa&lt;br /&gt; kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang&lt;br /&gt; rasa percaya diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;Masyarakat yang serakah merupakan basis modus &quot;Memiliki&quot; kata Fromm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be).&lt;br /&gt; Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari&lt;br /&gt; dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang&lt;br /&gt; berguna secara sosial. &quot;Modus Menjadi menuntut agar kita membuang&lt;br /&gt; egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri,&quot; kata Fromm.&lt;br /&gt; Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan&lt;br /&gt; berkorban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut&lt;br /&gt; Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu&lt;br /&gt; yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak&lt;br /&gt; melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada&lt;br /&gt; contoh di atas, dia melakukan aktivitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan&lt;br /&gt; keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak&lt;br /&gt; disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi&lt;br /&gt; &quot;Memiliki&quot; akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat&lt;br /&gt; menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi&lt;br /&gt; Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan&lt;br /&gt; memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bukan Pemilik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan&lt;br /&gt; yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan&lt;br /&gt; apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki&lt;br /&gt; berarti jalan menurun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan.&lt;br /&gt; Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti&lt;br /&gt; ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan&lt;br /&gt; mendaki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun,&lt;br /&gt; maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang&lt;br /&gt; berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya,&lt;br /&gt; jika itu terjadi pada orang-orang &quot;di atas&quot;, maka krisis yang ditimbulkan&lt;br /&gt; akan meluas dan mencakup banyak dimensi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita&lt;br /&gt; lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan&lt;br /&gt; segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa,&lt;br /&gt; karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita.&lt;br /&gt; Dalam kalimat &quot;Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun&quot;, sangat jelas bahwa kita&lt;br /&gt; dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan&lt;br /&gt; akan kembali kepada-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat&lt;br /&gt; kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan&lt;br /&gt; hidup Mendaki. &quot;Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain.&lt;br /&gt; Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain,&quot; kata psikolog.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara&lt;br /&gt; mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan&lt;br /&gt; orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang&lt;br /&gt; lain menjadi korban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi&lt;br /&gt; Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura,&lt;br /&gt; membungkus motif yang sesungguhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin&lt;br /&gt; memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik&lt;br /&gt; disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya.&lt;br /&gt; Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat,&lt;br /&gt; bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut&lt;br /&gt; lagi. Manusia pandai berpura-pura.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga&lt;br /&gt; daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari&lt;br /&gt; orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari&lt;br /&gt; jalan mendaki.*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur&lt;br /&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/22/akhirnya.html</guid>
<title>Akhirnya...</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/08/22/akhirnya.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Tue, 22 Aug 2006 11:11:30 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Hik-hik...untuk kesekian kalinya, aku kehilangan password di blog. Setelah lama tak ditengok karena beberapa kesibukan ( aslinya sih pura-pura sibuk, hehe ), jadilah blog-ku sendiri terbengkalai. Lama tak diisi dengan siraman-siraman yang menyejukkan hati...cieeee.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Entahlah, enaknya nulis apa ya. Banyak sih yang berseliweran di kepala, tapi muter-muter aja...ya udah deh mengalir aja, kalo dipaksain juga jadi jelek nanti hasilnya. Segini dulu kali yaaa...thanks sudah baca tulisan yang tidak berguna ini. hehe.&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/27/saya-adalah-ibu-rumah-tangga.html</guid>
<title>Saya adalah Ibu Rumah Tangga</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/27/saya-adalah-ibu-rumah-tangga.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Thu, 27 Apr 2006 08:30:06 +0200</pubDate>
<description>
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: Lizsa Anggraeny&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 21 Apr 2006 06:48 WIB&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order,&lt;br /&gt; meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,&lt;br /&gt; saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu&lt;br /&gt; rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda&lt;br /&gt; biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar&lt;br /&gt; belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke&lt;br /&gt; pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier;&lt;br /&gt; sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua&lt;br /&gt; saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan&lt;br /&gt; rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja&lt;br /&gt; dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan&lt;br /&gt; rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan&lt;br /&gt; keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya&lt;br /&gt; hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja,&lt;br /&gt; ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya&lt;br /&gt; wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus&lt;br /&gt; pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai&lt;br /&gt; semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur&lt;br /&gt; yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah&lt;br /&gt; tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui.&lt;br /&gt; Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi&lt;br /&gt; wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah&lt;br /&gt; benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya&lt;br /&gt; berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak&lt;br /&gt; sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat&lt;br /&gt; kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk&lt;br /&gt; mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak&lt;br /&gt; berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan,&lt;br /&gt; meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang&lt;br /&gt; berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk&lt;br /&gt; mengayomi rumah tangga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat&lt;br /&gt; mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah&lt;br /&gt; dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah&lt;br /&gt; tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi&lt;br /&gt; tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen&lt;br /&gt; saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan&lt;br /&gt; diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan&lt;br /&gt; perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi&lt;br /&gt; berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas&lt;br /&gt; dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt.&lt;br /&gt; Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru&lt;br /&gt; dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam&lt;br /&gt; mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus&lt;br /&gt; Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah&lt;br /&gt; berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat&lt;br /&gt; mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu&lt;br /&gt; rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum&lt;br /&gt; kepenulisan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra.,&lt;br /&gt; seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang&lt;br /&gt; suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya&lt;br /&gt; begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah&lt;br /&gt; ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun&lt;br /&gt; membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu&lt;br /&gt; karena sering menyapu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,&lt;br /&gt; &quot;Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum&lt;br /&gt; untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh&lt;br /&gt; buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir&lt;br /&gt; rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan&lt;br /&gt; baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang&lt;br /&gt; lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan&lt;br /&gt; mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk&lt;br /&gt; suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit&lt;br /&gt; (malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan&lt;br /&gt; sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang.&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang&lt;br /&gt; tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri - ibu rumah tangga.&lt;br /&gt; Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang&lt;br /&gt; bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, &quot;Saya&lt;br /&gt; adalah ibu rumah tangga.&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Renungan diri, aishliz et &lt;a href=&quot;http://yahoo.com.sg/&quot; target=&quot;_blank&quot; defanged_onclick=&quot;return top.js.OpenExtLink(window,event,this)&quot;&gt;yahoo.com.sg&lt;/a&gt;, FLP Jepang&lt;br /&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/25/go-to-resign.html</guid>
<title>Go to Resign ?</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/25/go-to-resign.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Tue, 25 Apr 2006 09:55:27 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Entah kenapa, semenjak ikutan milis TDA - Tangan Di Atas -- gejolak untuk segera take action berbisnis itu selalu menggelegak. Apalagi jika melihat teman-teman yang sudah sukses lebih dulu...terus memutuskan resign dari pekerjaannya yang sekarang. Rasanya pengen dehhh...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang sih dunia bisnis itu ibarat kita memasuki hutan belantara. Jika tidak pandai-pandai membaca situasi bisa-bisa tersesat, apalagi kalo cuma sekedar ikut-ikutan trend. Jadi nyasar gak tentu arah. Bener, ini pengalamanku juga beberapa waktu lalu. Bahkan mungkin traumanya masih membekas sampai sekarang. Sempat down banget waktu itu, gak tahu lagi mau ngapain. Beruntung, masih ada pekerjaan yang setia menemani. Yah, mungkin dulu itu aku kurang menggali informasi dari orang lain terutama yang telah pengalaman berbisnis, cenderung jalan aja sendiri...ya sudahlah. tokh itu pengalaman yang berharga untuk menentukan langkah kedepan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang aku cenderung lebih berhati-hari dalam mengambil keputusan terutama masalah dana, gak ada deh ceritanya lagi pinjam modal dulu ambil dari kartu kredit. Sudah kapok. Bisnisnya belum jalan, eh tagihan sudah segunung. Panik kan ? mendingan slowly but sure, sambil ngatur strategi. Gak usah pusing pontang-panting cari pinjaman modal...hubungi saja rekanan yang bisa dipercaya dan sudi meminjamkan produknya, pelan-pelan bangun aset. insyaAllah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tempo hari aku memutuskan ikutan join di sebuah bazaar. Hasilnya ? alhamdulilah, cukup sukses, at least menutupi operational cost-lah. Profit lumayan...walau masih belum ada yang bisa ditabung, setidaknya ada repeat order dikit-dikit. Doakan saja semoga ini berlanjut. Aku juga akan intens menghubungi produsen-produsen garment atau apalah yang sekiranya bisa menghasilkan. Semua ini kulakukan hanya dengan satu niat, &quot; mencari rejeki halal di jalan Allah dan membuka pintu manfaat seluas-luasnya bagi orang lain...&quot;. amin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bener kata orang, silaturahmi akan mendatangkan banyak rejeki. Banyak yang kuperoleh semenjak bergabung dengan komunitas ini. Setidaknya motivasi untuk selalu berubah dan berubah kearah yang lebih baik akan selalu terjaga, insyaAllah. Apalagi aku senantiasa mendapati lingkungan yang senantiasa membuatku berpikir positif dan selalu mengingat Allah hingga kondisi apapun terasa lebih tenteram. &quot;..Amin ya Allah atas nikmat-Mu yang terbesar ini, jangan jadikan hamba termasuk orang yang berputus asa karena kesulitan hidup yang kian menghimpit...&quot;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Go to resign ? Ini dia...insyaAllah jika timingnya sudah tepat arahnya akan kesana. Tapi saat ini terus terang masih belum berani buat timetable-nya, khawatir tidak tercapai coz masih ada 'tanggungan' di kantor. Tau kan...:-). Pokoknya, aku berazzam dalam hati, semoga dengan usaha dan ikhtiar maksimal sambil terus memohon pada Sang Khalik...suatu saat aku harus menjadi seorang yang Tangan Diatas. Memberi dan selalu memberi manfaat sekecil apapun bagi orang lain. &quot; Ya Allah kabulkanlah hajatku ini...&quot;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wallahu'alam Bisshowab.&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/07/bukan-sekedar-memberi.html</guid>
<title>Bukan Sekedar Memberi</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/07/bukan-sekedar-memberi.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Fri, 07 Apr 2006 04:55:00 +0200</pubDate>
<description>
&lt;address&gt;Kita sesungguhnya patut bersyukur jika di tengah semakin tingginya individualisme masyarakat, di tengah gencarnya arus hedonisme dunia, ternyata “memberi” masih berada dalam daftar aktivitas kita sehari-hari. Entah sekedar memberikan salam atau memberikan sebagian harta benda. Akan tetapi, mungkin kita tak pernah mengukur bagaimana derajat pemberian kita. Dengan kata lain, mungkin kita terlupa bahwa ternyata kita seringkali hanya sekedar memberi, memberikan apa yang sudah tidak lagi kita inginkan, memberikan apa yang sudah tak lagi kita butuhkan. Sungguh terpaut jauh dengan kualitas pemberian oleh para sahabat pendahulu Islam.&lt;/address&gt; &lt;p&gt;Dahulu Fatimah r.a rela memberikan kalung yang dimilikinya kepada seorang fakir yang datang kepadanya. Kita tentu juga tidak asing lagi bagaimana QS. Al-Hasyr:9 melukiskan kemuliaan kaum Anshar yang dengan senang hati memberikan pertolongan terbaik kepada kaum muhajirin. Bercermin pada kehidupan para sahabat, betapa kita melihat untaian kisah indah mereka yang bisa menjadi para pemberi kaliber dunia, yang bukan saja bisa memberi di saat senggang dan sempit, tetapi juga bisa memberikan bagian terbaik dari diri mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh besar kemuliaan yang terpancar dari pemberian mereka. Memberikan yang terbaik adalah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan. Memberikan yang terbaik berarti juga wujud keyakinan kita kepada janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 272 bahwa tak akan pernah dirugikan sedikitpun orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Memberikan yang terbaik pun berarti mensyukuri nikmat Allah SWT serta mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi diri untuk bisa memberikan manfaat buat orang lain. Dan tentu, memberikan yang terbaik adalah bukti nyata cinta seorang muslim kepada saudaranya. Lihatlah, betapa semua keutamaan ini tercermin dalam kualitas pemberian mereka yang begitu tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara bagi kita agaknya jerat-jerat kehidupan dunia mungkin masih begitu kuat membekap sehingga kita lebih sering memberi sekedarnya, memberikan seperlunya. Sepertinya, logika akhirat para sahabat itu masih di luar rasio kita sehingga teramat susah bagi kita untuk bisa meniru perilaku generasi terbaik itu. Akan tetapi, bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk bisa mengambil sedikit dari keteladanan para sahabat, sehingga kita bisa mempersembahkan setiap hal terbaik yang ada dalam diri kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bukanlah mustahil jika suatu saat kita tak lagi sibuk mencari-cari uang recehan tatkala ada pengemis meminta, sementara berlembar-lembar ribuan masih terselip di dompet kita. Semoga kita bukanlah orang yang sibuk membongkar pakaian usang di pojok lemari ketika banjir melanda saudara kita. semoga kita bukanlah orang yang hanya membagi makanan kepada tetangga saat makanan bersisa. Semoga kita bukan lagi termasuk orang yang menjawab salam seadanya, bukan lagi termasuk orang yang berkata seadanya tanpa hendak berpikir mendalam ketika ada seseorang meminta pendapat kita. Sungguh patut kita renungkan perkataan Fudhail bin Iyadh yang mengatakan sudah selayaknyalah kita bersyukur ketika masih ada seseorang yang meminta kepada kita, ketika kita masih bisa memberikan manfaat buat orang lain. Ataukah memang sesungguhnya kita termasuk orang yang tidak pernah bersyukur?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;i&gt;Bumi Pesagi 2006,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ikesari_2304@yahoo.com&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/02/15/something-to-ponder-about.html</guid>
<title>Something to ponder about...</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/02/15/something-to-ponder-about.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Artikel Lepas</category>
<pubDate>Wed, 15 Feb 2006 07:45:00 +0100</pubDate>
<description>
Tuhan yang Mahabaik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk&lt;br /&gt; mendapatkannya.&lt;br /&gt; Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak&lt;br /&gt; akan pernah mulai.&lt;br /&gt; Mulailah sekarang, mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.&lt;br /&gt; Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi&lt;br /&gt; sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak&lt;br /&gt; memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan&lt;br /&gt; mata kamu setengah terpejam sesudahnya.&lt;br /&gt; Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama&lt;br /&gt; seperti membeli rumah karena lapisan catnya.&lt;br /&gt; Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah....&lt;br /&gt; hati seorang wanita .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Begitu juga Persahabatan,&lt;br /&gt; Persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga. Persahabatan sejati layaknya&lt;br /&gt; kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.&lt;br /&gt; Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan&lt;br /&gt; menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.&lt;br /&gt; Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.&lt;br /&gt; Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah&lt;br /&gt; menyesal untuk bertemu dengan orang lain...tapi menyesal-lah jika orang itu&lt;br /&gt; menyesal bertemu dengan kamu.&lt;br /&gt; Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala&lt;br /&gt; kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah&amp;nbsp;&amp;nbsp; .&lt;br /&gt; Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan&lt;br /&gt; seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa&lt;br /&gt; melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya&lt;br /&gt; tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa&lt;br /&gt; melihat keduanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Begitu juga Kebijakan,&lt;br /&gt; Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak&amp;nbsp;&amp;nbsp;pada penerapan yang&lt;br /&gt; benar.&lt;br /&gt; Orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal.&lt;br /&gt; Sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.&lt;br /&gt; Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga&lt;br /&gt; berdasarkan pada perasaan dan fakta.&lt;br /&gt; Tak seorang pun sempurna.&lt;br /&gt; Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.&lt;br /&gt; Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti&lt;br /&gt; salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita&lt;br /&gt; adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kamu tak bisa mengubah masa lalu....tetapi dapat menghancurkan masa kini&lt;br /&gt; dengan mengkhawatirkan masa depan.&lt;br /&gt; Bila Kamu mengisi hati kamu dengan penyesalan untuk masa lalu dan&lt;br /&gt; kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt; Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok&lt;br /&gt; tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju&lt;br /&gt; sukses.&lt;br /&gt;
</description>
</item>
</channel>
</rss>