<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="/rss20.xsl" media="screen"?>
<rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<atom:link href="http://syahidfam.blogspirit.com/curahan_hati/index.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<title>syahidfam - curahan_hati</title>
<description>Ahlan Wa Sahlan...</description>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/curahan_hati/</link>
<lastBuildDate>Wed, 11 Oct 2006 06:26:44 +0200</lastBuildDate>
<generator>blogSpirit.com</generator>
<copyright>All Rights Reserved</copyright>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/04/metro-tanah-abang.html</guid>
<title>Metro Tanah Abang</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/09/04/metro-tanah-abang.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Curahan Hati</category>
<pubDate>Mon, 04 Sep 2006 09:20:00 +0200</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;....&quot; Buat yang mau Action : Ditawarkan 10 kios gratis di Pusat Grosir Metro Tanah Abang, penawaran terbatas....&quot;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dezigh !! Seketika aku terpana melihat barisan kata-kata tersebut dalam sebuah milis komunitas TDA yang belakangan semakin akrab saja mengisi setiap detik demi detik berlalu disela-sela rutinitas pekerjaan. Komunitas inilah yang pelan namun pasti mengubah pola pikirku selama ini mengenai apa itu arti rejeki dan uang. Apa itu kebersamaan, sinergi dalam bisnis, sambil tak lupa memupuk semangat untuk saling membantu dan memberikan nilai lebih bagi orang lain. Setelah sebelumnya sempat gamang apa yang harus dilakukan setelah sempat 'terpuruk' dan stag sebentar karena gagal membangun cikal bakal imperium bisnis, alhamdulilah pada akhirnya kutemukan komunitas ini...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat itu juga langsung kuhubungi si pengirim email untuk info lebih lanjut. Ternyata yang ditawarkan adalah khusus kios sepatu. Wah ? Bukan saja pengalaman yang nol besar untuk ini, tapi juga modal, pasar, dsb aku sangat-sangat buta sama sekali dengan bisnis persepatuan ini. Ibarat masuk hutan belantara, kali ini gelap gulita, pekat...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, the show must go on. Keputusan harus segera diambil karena sayang jika kesempatan ini dilewatkan begitu saja. Bismillah saja, sambil terus berusaha tetap berdoa semoga Allah berkenan memberikan jalan dan kemudahan kepada kami. Kemudian tak lama kusimak di milis, namaku sudah terdaftar sebagai orang yang pertama berminat untuk kios tersebut. Bismillah...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sabtu pagi, aku, Istri plus Syahid anakku survey ke lokasi. Berboncengan bertiga, kami susuri jalanan Jakarta hingga sampai ke sebuah gedung putih di pojok jalan Wahid Hasyim Tanah Abang. Wah, ramai sekali kendaraan lalu lalang. Tanah Abang gitu lho...emang terkenal kan sebagai pusat grosir. Cari parkiran di dalam gedung, terus melaju hingga ke lantai tujuh...ck-ck..lumayan nih ngabisin bensin, batinku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lihat-lihat sekeliling, tempat parkir telah penuh dengan mobil dan motor. Wah, berarti pengunjungnya lumayan nih. Lalu kami cari tokonya Pak Hasan di lantai 4 yang sebelumnya sudah jualan produk jaket. Sudah ada peserta yang lain, hingga menjelang siang semua sudah berkumpul di tokonya Pak Hasan dan Mas Khairul. Hingga tibalah saatnya kami bertemu dengan Pak Haji Alay...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Subhanallah, melihat pembawaan beliau yang tenang namun tegas, kami sungguh takjub dibuatnya. Kios-kios di gedung ini juga sebagian miliknya dan beliau tak segan-segan mengundang orang lain untuk bekerjasama dengannya. Sakah satunya lewat kios-kios di lantai basement ini...Memang sih, saat ini kios-kios tersebut masih sepi dan banyak yang kosong. Namun Pak Haji meyakinkan, jika kita tidak menciptakan gula untuk mendatangkan semut-semut, ya pasti akan tetap seperti ini jadinya. ( sepi maksudnya ). Karenanya, Pak Haji mengajak kami semua untuk turut serta meramaikan kios-kios ini dan mulai berjualan didalamnya. Tidak usah takut dengan kondisi sepi, modal, koneksi ke supplier,dsb...insyaAllah ada banyak jalan untuk itu. Kemudian beliau menyebut beberapa nama dan tempat yang bisa dijadikan referensi plus tips-tips seputar dunia dagang. Kata beliau, dagang itu sangat erat kaitannya dengan feeling/intuisi...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kurasa semua sepakat bahwa yang hadir saat itu langsung 'terbakar' dengan briefing singkat dari Pak Haji tersebut. Seseorang yang murah senyum, baik hati dan gemar berbagi...akhirnya, diadakanlah pengundian untuk menentukan masing-masing stand kios...aku kebagian stand kios nomor 4, tak apalah, yang penting kan bukan letaknya, namun kegigihan kita untuk jemput bola dari pengunjung-pengunjung yang ada. Lalu kami disarankan untuk segera berkoordinasi untuk menentukan kapan mau buka kios dan serah terima kunci. Untuk masalah teknis, insyaAllah 3 bulan pertama tidak dikenakan biaya apapun kecuali listrik. Karena sebagian besar masih terbilang baru di bisnis persepatuan, maka diputuskan untuk mengunjungi para produsen sepatu yang bisa menjadi supplier di kios.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yap, saatnya segera take double action...doakan semoga impian untuk segera memiliki kios sendiri dapat&amp;nbsp;menjadi kenyataan...:-). Amin. Ya ALLAH berkahilah usaha kami....&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/01/24/hujan-deras-semalam.html</guid>
<title>Hujan Deras Semalam</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/01/24/hujan-deras-semalam.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Curahan Hati</category>
<pubDate>Tue, 24 Jan 2006 07:35:00 +0100</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Musim hujan begini...mestinya menjadi berkah. Karena apa ? tidak usah banyak berdebat, turunnya hujan justru merupakan rejeki dan berkah tak terkira dari Allah karena dampak ikutannya yang sangat besar. Bagaimana tidak, jika dengan turunnya hujan tanah-tanah menjadi subur karena dialiri lagi dengan air yang deras, tumbuhan dan bunga-bunga juga kerap merekah di musim penghujan ini karena selalu basah oleh air. Lebih jauh lagi, persediaan air tanah juga akan meningkat karena curah hujan yang tinggi setiap hari sehingga kita tidak khawatir jika tiba-tiba mesin air mati tidak mampu menyedot air karena persediaan air tanah sudah habis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi sekarang segala hal yang ideal itu telah berubah. Turunnya hujan seolah menjadi bencana bagi sementara orang. Banjir terjadi dimana-mana, di kota juga di desa. Hal ini tak lain karena alam sudah kehilangan keseimbangannya. Hutan-hutan yang dulunya rindang sekarang sudah habis digunduli hingga tak mampu lagi menyerap dan menahan lajunya air hujan. Begitu juga lahan-lahan hijau di perkotaan nyaris tak bersisa hingga menyebabkan turunnya hujan sebentar saja banjir sudah menghadang. Banyak lagi jika mau disebut satu per satu. Turunnya hujan semestinya menjadi berkah...tapi karena keserakahan manusia untuk terus mengeksploitasi alam, jadinya ya seperti ini. Alam murka, manusia sengsara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terkecuali dengan pengalamanku semalam. Sehabis hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur kota Jakarta hampir satu hari penuh, pohon-pohon bertumbangan dimana-mana. Alhasil jalan-jalan protokol menjadi macet luar biasa. Sungguh menyebalkan. Perjalanan pulang kantor menjadi sangat tidak nyaman. Memang sih, jika dibandingkan tahun-tahun lalu, menurutku kondisi Jakarta tahun ini tidak begitu parah. Tapi yang namanya antisipasi dan siaga tetap perlu dong.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan banjir dan macet memang klise dan klasik. Mungkin sama tuanya dengan perjalanan kota ini. Tapi ya itu tadi, turunnya hujan mestinya membawa berkah dan kesejukan, bukan malah melahirkan makian dan kekecewaan karena macet yang mengular.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2005/12/19/senin-pagi.html</guid>
<title>Senin Pagi...</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2005/12/19/senin-pagi.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Curahan Hati</category>
<pubDate>Mon, 19 Dec 2005 04:35:00 +0100</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Senin lagi...rasanya begitu cepat waktu ini. Kembali ke rutinitas, berangkat pagi, pulang jelang malam. Begitu seterusnya sampai weekend menjelang. Weekend kelar, senin lagi menghadang...kok menghadang sih ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yap, gimana nggak ? biasanya awal pekan begitu lalu lintas macetnya luar biasa. Seandainya keong bisa ditumpangin, mendingan naek keong deh...hehe. Tapi, pagi ini sedikit beda. Keluar rumah, hawa segar langsung menerpa maklum sudah dua hari terakhir hujan terus jadi ya lumayan adem cuacanya. Yah, asal gak hujan terus-terusan aja coz efek 'multiplier'nya itu yang unpredicted. Alias banjir dimana-mana...nah, kalo yang ini murni akibat ulah manusia. Gak tahu kenapa, musim hujan banjir terus jadi masalah. Padahal ini kan siklus tahunan gitu loh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudahlah. Yang pasti cuaca pagi ini cukup adem. Dengan langkah mantap, aku menuju kantor...seperti biasa, kucoba 'menikmati' suasana perjalanan pagi itu. Kadang-kadang, untuk menghindari kejenuhan selama perjalanan, aku baca-baca buku sampai sedikit terlelap. hehe. Lumayan deh buat nyambung tidur semalam yang suka keganggu sama tangisan sang buah hati tercinta...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alhamdulilah, kali ini si Metro yang menjadi 'jemputan' setia tak susah kudapat. Langsung duduk manis dibelakang, tak lama kemudian seorang penumpang duduk disebelahku dan terus...ngajak ngobrol !. Pikirku, hmh, gak biasanya nih ada orang ramah di bis, hari gini gitu loh. Biasanya tampangnya pada jutek semua, maklum deh di Metro...penumpang kadang diperlakukan kayak tape. Berjubel hingga deket pintu. Padahal, bahaya kan...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama-tama si Bapak memperkenalkan diri. Dia seorang pensiunan PNS, punya anak dua, lagi ngurus SIM-nya yang hilang di Polsek Jaksel. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Batinku, wah, ini menyita waktu 'tidur' di bis nih. hehe. Yap, untuk mengurangi dampak bete selama di jalan yang macet dan crowded, aku sering berharap bisa tidur di bis. Tapi kali ini lain, si Bapak terus menceritakan pengalamannya selama jadi PNS, soal KKN sampai partai Golkar...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku masih tak acuh. Dia terus saja ngomong...hingga tanpa sadar, si Metro sudah hampir melewati Pertigaan Fatmawati- H. Nawi alias sudah dekat Dutamas-ITC !!! Kok gak nyadar ya ? Padahal tadi lumayan macet seperti biasa awal pekan...tapi ini kok lain ? Olala...ternyata sepanjang perjalanan tadi si Bapak terus saja ngobrol dan aku ikut larut dalam pembicaraannya. Alhasil, kemacetan Fatmawati pagi itu tak begitu kurasakan...Kalo tiap hari kayak gini, asyik juga ya ? hehe. Tapi, bisa-bisa mulut jadi garing karena ngobrol terus sepanjang jalan...:-)&lt;/p&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2005/12/14/live-happily-now.html</guid>
<title>Cerita Seru dari Makassar</title>
<link>http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2005/12/14/live-happily-now.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (syahidfam)</author>
<category>Curahan Hati</category>
<pubDate>Wed, 14 Dec 2005 08:00:00 +0100</pubDate>
<description>
&lt;p&gt;Makassar...here we go&amp;nbsp;!!! Akhirnya...tiba juga aku di kota ini. Kotanya seru, jalanannya lebar-lebar, warganya cukup ramah walau aksen ngomongnya cukup keras dan cepat. Aku kesini dalam rangka tugas juga untuk acara road show launching buku Perspektif Baru. Yap, setelah menuai sukses di dua kota, Jakarta dan Yogya, kali ini Makassar yang kena giliran. Orang-orangnya terkenal kritis, lugas, dan spontan. Pasti seru ngadain acara di kota ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dugaanku tidak meleset. Sekitar jam 5 sore tanggal 10 Des 05, pengunjung mulai memadati area launching buku di Gramedia Mall Ratu Indah Makassar. Acara pertama, Wimar Witoelar selaku host acara ini menjelaskan sekilas sejarah dan perjalanan Perspektif Baru yang dilanjutkan dengan penjelasan website Perspektif baru dari Satya. Sedetik kemudian baru sesi tanya jawab. Tampaknya sesi inilah yang ditunggu-tunggu dari pengunjung. Beragam pertanyaan dari mulai yang sederhana hingga kritis 'berhamburan' keluar.&amp;nbsp; Dari mulai pengalaman Wimar menjadi jubir jaman Gusdur, soal politik dan demokrasi, masalah pengelolaan negara yang tidak beres-beres hingga tanggapan Wimar terhadap ICMI.&amp;nbsp;Pokoknya seru deh, sampai-sampai tim Perspektif agak kewalahan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan door prize coz semua pertanyaan yang masuk bagus-bagus. Tapi, memang Wimar yang pakar komunikasi, semua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan diplomatis khas Wimar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Acara berikut tak kalah serunya. Yaitu foto session with Wimar. Wah, jadi terharu juga nih. Ternyata,&amp;nbsp; Wimar masih menyisakan fans fanatiknya di masa lalu. Terbukti, dengan antusiasme pengunjung untuk berfoto bareng Wimar. ( Tapi gak tahu juga deh, apa karena mereka orang daerah yang rindu kehadiran orang 'pusat' yang bisa menyuarakan aspirasi mereka ? Entahlah ). Yang jelas, aku dan tim senang banget acara sore itu sukses. Sip deh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selesai acara, kami rehat sebentar untuk kemudian makan malam dengan Ibu Triyatni di Istana Karang Laut. Ini lagi sessi yang seru...kali ini makanannya itu lho gak nahan. Kalo gak ingat-ingat aku gak ada riwayat alergi, udah kuhabisin deh itu lobster...hehe. Tapi gak papa. Menu lain oke juga kok. Pokoknya puas banget malam itu. Ditambah dengan alunan merdu dari penyanyi 'biasa' yang luar biasa...wow, seru banget.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tibalah acara 'bebas'. Yap, kali ini betul-betul bebas. Aku dan tim Makassar, Susy,Maro, Astrid, mas Neil ( org gramedia ), mas Satya, mbak Sari, memutuskan untuk nonton The Chronicle of Narnia yang baru diputar di Jakarta. Maro sih yang minta abis dia penasaran banget gak kebagian tiket di PI...Ya udah, ikut aja daripada di hotel gitu lho...hehe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kirain emang bener-bener bagus. Coz pas ngelihat intronya, boleh juga nih. Adegan perang-perangan...wah, pasti seru kelanjutannya. Gak taunya...walah, walah, ini cuma film khayalan di negeri dongeng yang gak ketahuan ujung ceritanya. Gak nyambung gitu. So what gitu lho ? aku dah duduk manis di bioskop, ya ikutin aja ceritanya walau dengan mata yang sudah 5 watt. Hehe. Untung aja, animasi komputer dan efek gambarnya cukup oke, jadi ya lumayanlah untuk menghibur diri. :-)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selesai nonton sekitar jam 1 pagi dinihari. Anak-anak pada mutusin naek becak aja karena murah. Ya gak papalah sekali-sekali naek becak di kota orang. Lagian, jarang-jarang kan coz Jakarta becak udah gak ada. Aku dan Maro satu becak. Astrid dan Susy di becak satunya. Sementara mas Satya dan mbak sari sudah melaju juga dengan becaknya jauh mendahului kami berempat. Kami masih sempat tuh foto-fotoan di atas becak...ketawa-ketiwi, tengok kanan-kiri, menikmati perjalanan dan dinginnya malam kota Makassar. Wah, pokoknya seru deh. Hingga ketika sampai di kelokan jalan...swing-swing...brrreeer...brreeeerr. Bunyi apaan tuh ? loh, kok banyak orang berkerumun kayak ada konser gitu ? olala...ternyata disitu sedang berlangsung Balapan Liar. Tapi karena sudah terlanjur, becak kami sudah masuk kedalam track Balapan...jadilah sepanjang jalan di tepi pantai Losari kami disoraki oleh warga yang nonton Balapan liar itu. Becak kami terus melaju dengan cepat seolah tak mau kalah dengan para 'pembalap' liar itu yang kebanyakan ABG. Ditengah keriuhan suasana karena ada becak berpacu balap dengan motor di arena trek-trekan liar itu....tiba-tiba....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;GUBBRAKKKK !!! Kurasakan ada benda keras menghantam kepala. Becakku tertabrak motor di arena balap !. Dalam&amp;nbsp;keadaan setengah sadar, kucoba berlari ke pinggir. Gak peduli dengan kerumunan orang. Duh, sakit&amp;nbsp; sekali pergelangan tangan. Tapi kucoba bangkit dan melangkah. Kuraba kantong belakang. Oh, ternyata dompet dan HP masih aman tersimpan di celana. Lalu kulihat Susy lalu Astrid berlari-lari berusaha mencari tahu keberadaan kami berdua. Untunglah tak lama kemudian Maro ditemukan dalam keadaan selamat. Susy-Astrid langsung sibuk kasak-kusuk cari UGD dan angkot sementara kami berdua malah sibuk cari...SENDAL !!!. hehe. bukan apa-apa, setelah full tersadar, kami terpikir kok ada yang kurang ya ? oh, ternyata sandal kesayangan...beruntung, Maro akhirnya menemukan sendalnya, sementara aku mesti rela berjalan-jalan tertatih dengan satu sendal di sebelah kiri. Kadang lucu juga, ditengah suasana panik kayak gitu, sempet-sempetnya mikirin hal remeh kayak gitu....hihihi. Kami juga kan manusia...hehe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam keadaan panik, akhirnya kami berhasil juga menemukan UGD terdekat. Hmm...sebenarnya aku agak males ke UGD. Bukannya meremehkan dengan kondisi luka-luka di tangan dan kepala, tapi membayangkan pelayanan di UGD itu lho...belum lagi, pemandangan korban-korban kecelakaan di UGD...hiks. Cukup bikin bergidik. Alhamdulilah, sebenarnya luka di tangan gak parah-parah amat, hanya benturan di kepala yang mesti diperiksa lebih lanjut. begitu juga Maro, lukanya ditangan tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu pemeriksaan lanjutan besok-besok. Kupikir, cukuplah dibaluri Betadine untuk pertolongan pertama. Hiks...benar saja. Pas sampai gerbang UGD, kamar penuh pasien. Pintu kamar UGD sedikit terbuka dan kusaksikan...ada 2 orang&amp;nbsp;korban kecelakaan -- entah karena Balapan itu atau bukan -- sedang berjuang menahan sakit...salah satu kelingkingnya putus lalu sekujur tubuhnya berlumuran darah...betul-betul mengerikan. Alhasil, masuk ke kamar, aku hanya minta dibaluri Betadine di sekujur tangan setelah itu...cabut !!! Daripada kebayang-bayang korban yang lagi 'sekarat'...mendingan keluar duluan deh. Idem ditto dengan Maro, dia juga gak lama-lama di dalam kamar UGD. Hari gini lihat lumuran darah....wih, gak janji deh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelar 'pemeriksaan' di UGD, kami berempat ke Apotik terdekat untuk membeli obat-obatan yang diperlukan. Setelah itu, balik ke hotel. Disana, aku dan Maro jadi 'pasien' dadakan Susy dan Astrid. Hmmm...gak nyangka juga ya, ternyata mereka berdua cukup telaten menangani luka...hehe. Usut punya usut, ternyata Susy pernah aktif di Palang Merah. hehe..pantes aja. Coba dari tadi kita balik ke hotel...pelayanan lebih memuaskan. :-)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya...'petualangan' kami berakhir malam itu. Setelah bersih-bersih sebentar trus aku masih ngobrol ngalor ngidul dengan Maro. Apalagi kalo bukan membahas kejadian barusan. Pembicaraan fokus ke ' misteri sendal yang hilang'. hehe...kayak gak ikhlas gitu. Bukan apa-apa, soalnya itu kan sendal hotel dan menjadi satu-satunya sendal yang kupake selama di Makassar. Jadi penasaran banget...sampe kubilang ke Maro, &quot; besok kita harus jelajahi lagi sepanjang pantai Losari untuk mencari sendal...!!! &quot;. Maro bilang, &quot; Siapa takut ??? &quot; hehe. Dasar manusia, materi terus dipikirin. Eits, tapi kami sangat bersyukur lho selamat dari kejadian itu. It's really-really miracle. Kubilang, kejadian tadi benar-benar diluar dugaan dan memang ada kekuasaan diluar kemampuan manusia. Yap, benar sekali. Allah Maha Berkehendak, Maha Segalanya. Gampang saja bagi-Nya untuk mencabut nyawaku pas kejadian tadi...karena secara logika awam, benturan antara becak dan motor kami cukup keras. Kebayang kan, atap becak sampe remuk dan motor itu terpelanting beberapa meter...gak tau deh gimana nasib abang becak dan si 'pembalap liar' itu. Kutambahkan ke Maro, sudahlah kita petik hikmahnya saja. Ini peringatan supaya masing-masing kita lebih mendekat kepada-Nya. &amp;nbsp;Subhanallah. Akhirnya kami pun terlelap....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keesokan paginya, aku terjaga. Duh, serasa remuk badan ini. Tapi, aku harus bangun karena sore ini kami semua harus pergi meninggalkan Makassar. Jadilah dengan kondisi seadanya, aku mandi, beres-beres, trus keluar kamar menghirup udara segar. Oh, indahnya pagi di Makassar...hingga kemudian pandanganku tertubruk ke sebuah benda dibawah kursi kamar...SENDAL !!!. Kucoba mendekat lalu kucocokkan dengan sebelah sandal yang kubawa semalam...lho, cocok ???. Ya Allah, keinginanku terkabul...sebelah sendal telah kembali. Tapi siapa ya orangnya yang 'menyembunyikan' sebelah sendal di bawah meja ? Susy ? gak mungkin, ngapain juga dia pagi-pagi buta ngubek-ngubek tepi pantai Losari hanya demi sebuah sendal. Atau tamu hotel yang ketinggalan sendal ? atau petugas hotel yang kelupaan bersihin kamar ? wallahu'alam deh...sementara masih jadi teka-teki di hari itu sampai akhirnya ternyata si Astrid yang punya 'ulah'. hehe...sebelumnya, dia dan Susy yang menempati kamar itu, terus ada sendal sebelah sengaja ditinggalkan dibawah kursi kamar....hiks, gak jadi cerita misteri deh. :-)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari Minggu yang cerah itu, lebih banyak waktu&amp;nbsp;aku habiskan di hotel. Kebetulan ada jadwal wawancara PB dengan salah satu aktivis LSM disini dengan host Faisol Riza. Yap, awak tim tinggal kami berempat plus Mas Riza. Akhirnya, tepat jam 2 siang, kami check out dan langsung cari tempat makan buat lunch. Oya, pagi itu tim PB kedatangan tamu yang lama dinanti yaitu Sena, aktivis merangkap jurnalis juga. Orangnya lumayan asyik diajak ngobrol. Tak lama, kami dijemput Mas Neil untuk 'keliling' kota sebentar sambil cari oleh-oleh. Makan siang di Mie Titi...trus putar balik nganter Sena, kemudian baru cari toko yang pas deh buat beli oleh-oleh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak lama ngubek-ngubek isi toko...akhirnya waktu pulalah yang memisahkan. Sekitar jam 3 sore, aku, Susy, Astrid, Maro plus Mas Riza dan Mas Neil harus meluncur ke Bandara lewat jalan tol yang cuma semenit...lancar banget. Ternyata pesawat sudah menunggu. Hanya satu doaku : &quot;...Ya Allah selamatkanlah perjalanan pulang kami...&quot;. Makassar oh Makassar...aku&amp;nbsp;pasti akan kembali. Jakarta...tunggu aku di kotamu. :-)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dikisahkan oleh,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;-Yassin Hidayat-&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</description>
</item>
</channel>
</rss>