08/23/2006
Memiliki dan Menjadi
Oleh: Nur Cholis Huda
Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah
dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga
megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah
satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.
Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru
yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun
Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan
uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang
memiliki villa itu.
Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar
kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan
karena tidak ikut memiliki.
Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Maka
ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu
dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius.
Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan
biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan
terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.
Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di
kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang
lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi
hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.
"Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin
saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang
yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik
buahnya," kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi
karena dapat memberi.
Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan
menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat
memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi
hidup yang berbeda, yaitu orientasi "Memiliki" dan orientasi "Menjadi".
Perbedaan
Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba
memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang
tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya "To Have or
To Be" yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang
lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu
orientasi Memiliki dan Menjadi.
Ciri utama dari orientasi "Memiliki" ialah kecenderungan memperlakukan
setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan
memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau
diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi "Memiliki" tidak bisa
hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang
menjadi miliknya.
Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang.
Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan
lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar
simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka
keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa
kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang
rasa percaya diri.
"Masyarakat yang serakah merupakan basis modus "Memiliki" kata Fromm.
Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be).
Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari
dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang
berguna secara sosial. "Modus Menjadi menuntut agar kita membuang
egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri," kata Fromm.
Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan
berkorban.
Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut
Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu
yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak
melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada
contoh di atas, dia melakukan aktivitas.
Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan
keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak
disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.
Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi
"Memiliki" akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat
menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi
Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan
memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.
Bukan Pemilik
Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan
yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan
apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki
berarti jalan menurun.
Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan.
Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti
ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan
mendaki.
Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun,
maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang
berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya,
jika itu terjadi pada orang-orang "di atas", maka krisis yang ditimbulkan
akan meluas dan mencakup banyak dimensi.
Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita
lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan
segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.
Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa,
karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita.
Dalam kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun", sangat jelas bahwa kita
dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan
akan kembali kepada-Nya.
Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat
kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan
hidup Mendaki. "Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain.
Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain," kata psikolog.
Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara
mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan
orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang
lain menjadi korban.
Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi
Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura,
membungkus motif yang sesungguhnya.
Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin
memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik
disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya.
Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat,
bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut
lagi. Manusia pandai berpura-pura.
Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga
daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.
Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari
orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari
jalan mendaki.*
Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur
05:32 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this
08/22/2006
Akhirnya...
Hik-hik...untuk kesekian kalinya, aku kehilangan password di blog. Setelah lama tak ditengok karena beberapa kesibukan ( aslinya sih pura-pura sibuk, hehe ), jadilah blog-ku sendiri terbengkalai. Lama tak diisi dengan siraman-siraman yang menyejukkan hati...cieeee.
Entahlah, enaknya nulis apa ya. Banyak sih yang berseliweran di kepala, tapi muter-muter aja...ya udah deh mengalir aja, kalo dipaksain juga jadi jelek nanti hasilnya. Segini dulu kali yaaa...thanks sudah baca tulisan yang tidak berguna ini. hehe.
11:11 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this
04/27/2006
Saya adalah Ibu Rumah Tangga
Oleh: Lizsa Anggraeny
21 Apr 2006 06:48 WIB
Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order,
meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,
saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu
rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda
biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar
belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke
pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier;
sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua
saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan
rumah.
Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja
dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan
rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan
keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya
hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja,
ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya
wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus
pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai
semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur
yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.
Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah
tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui.
Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi
wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah
benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya
berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak
sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.
Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat
kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk
mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak
berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan,
meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang
berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk
mengayomi rumah tangga.
Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat
mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah
dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah
tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.
Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi
tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen
saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan
diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan
perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi
berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas
dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt.
Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.
Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru
dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam
mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus
Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah
berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat
mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu
rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum
kepenulisan.
Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra.,
seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang
suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya
begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah
ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun
membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu
karena sering menyapu.
Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,
"Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum
untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh
buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir
rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan
baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang
lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan
mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk
suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit
(malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan
sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang."
Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang
tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri - ibu rumah tangga.
Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang
bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, "Saya
adalah ibu rumah tangga."
Renungan diri, aishliz et yahoo.com.sg, FLP Jepang
08:30 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (1) | Email this

