02/06/2006
Kebahagiaan
Tetangganya bertanya " Jarumnya jatuh dimana ?"
" Jarumnya jatuh didalam" Jawab nasrudin
" kalau Jarumnya jatuh didalam, kenapa mencari diluar ?" Tanya tetangganya
Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasrudin menjawab, "karena didalam gelap, diluar terang"
Begitulah perjalanan kita mencari kebahagiaan.
seringkali kita mencarinya di luar dan tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagian dan keindahan, sebenarnya adalah daerah didalam diri. justru letak 'sumur" kebahagiaan yang tak pernah kering, berada didalam, tak perlu mencarinya jauh-jauh, karena "sumur" itu berada di dalam semua orang.
Sayangnya, karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu diluar, Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau rumah indah. tetapi kenyataannya setiap pencarian di luar tersebut akan berujung pada bukan apa-apa, karena semua itu tidak akan berlangsung lama, kulit misalnya, akan keriput karena termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model baru, jabatan juga akan hilang karena pensiun.
Setiap perjalanan mencari kebahagian diluar akan selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan & kebahagian, berangkat dari mencarinya diluar.
Untuk mencapai tingkatan Kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan sesorang harus melalui lima buah "pintu" yang menuju k e tempat tersebut.
Pintu Pertama adalah STOP COMPARING, START FLOWING.
" Stop membandingkan dengan yang lain, seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain, karena setiap perbandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagian di luar"
Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, di mulai dari membandingkan.
Contoh, Micahel Jakson, sebagai orang yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain. " Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan yang lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang Michael Jackson, Leads you nowhere."
Karena itu saya mengajak pembaca ke sebuah titik mengalir ( Flowing) menuju ke kehidupan paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri, apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja. kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita. ketika kita mulai belajar menerimanya, Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.
" tidak ada kehidupan yang paling indah dengan menjadi diri sendiri, itulah keindahan yang sebenar-benarnya "
Pintu kedua menuju keindahan dan kebahagian adalah MEMBERI.
Sebab utama kita berada di bumi ini kata Gede Prama adalah untuk memberi " Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak, Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan , I intend good, I do good and I am good.
Saya berniat baik, saya melakukan yang baik, kemudian saya menjadi orang baik.
"Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi, muka orang itu keringnya minta ampun. orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya, apa rahasia kehidupan yang penting yang bisa saya bagi kedia, Saya bilang " Sleep well, eat well." artinya memang, ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. hanya saja orang sering memperumit hal yang sudah rumit, kalau kita sederhanakan sleep well, eat well akan menjadi lebih mudah jika diikuti kegiatan memberi " tak perlu khawatir, setiap pemberian itu ada yang mencatat, jika atasan anda dikantor, tidak mencatat pemberian anda, ada " Atasan Tertinggi" yang mencatatnya, mirip dengan petani, orang-orang yang suka memberi akan memanen hasil-hasil yang diharapkan"
Cahaya didalam pintu ketiga menuju kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup anda, semakin terang cahaya Anda didalam.
Perhatikan bintang dimalam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap, sedangkan lilin disebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangan nya gelap.
artinya semakin anda berhadapan dengan masalah dan cobaan hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam. Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan & kebahagiaan, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan, semakin banyak kesulitan yang kita hadapi semakin diri kita bercahaya dari dalam. Mengutip perkataan Jalaludin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan " Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna. Gunanya adalah karena ada orang jelek, orang cantik, terlihat jadi tambah cantik. jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya2 beauty & happines"
Pintu keempat adalah surga yang bukanlah suatu tempat melainkan rangkaian sikap.
Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatu, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be allright.
Pintu Kelima menuju keindahan & kebahagiaan yakni kita tahu diri kita dan kita tahu kehidupan.
Burung hanya tetap bisa terbang, ikan tetap hanya bisa berenang dan srigala tetap hanya bisa berlari, akhirnya mereka sampai pada kesimpulan , bahwa mereka harus tahu diri, ikan mesti tau diri hanya bisa berenang, burung mesti tau diri hanya bisa terbang sedangkan srigala harus tau diri hanya bisa berlari.
Ada sebuah kalimat bijak :
"Sumur kehidupan yang tak pernah kering berada didalam, Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri". Seandainya diri sendiri telah ditemukan , maka artinya kita kemudian mengetahui kehidupan.
-Sumber unknown-
10:17 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this
02/03/2006
Silaturahmi Itu...
Hujan di bulan Januari benar-benar telah menjadi hujan sehari-hari. Seperti hari itu, sebuah ahad dengan langit yang pekat. Mendung menggantung di setiap ujung langit, menghias segala lintas cakrawala. Sepanjang waktu ia menumpahkan bebannya. Beberapa saat merintik, kemudian menderas dan kadang mengguyur. Namun laki-laki itu tetap tak jeri. Tenang dan mantap dia mengendarai motornya, dengan kecepatan rata-rata, meski sesekali digebernya juga. Sesosok perempuan yang menggelendot di punggungnya tak sekalipun membuatnya mengeluh pegal dan sejenisnya. Istrinya. Ini adalah perjalanan berikutnya, setelah sebelumnya mereka menyusuri jalanan Jakarta nyaris 1,5 jam lamanya. Ini adalah perjalanan ke tujuan selanjutnya, setelah sebelumnya bercengkerama selama hampir dua jam bersama sebuah keluarga salah satu kerabatnya.
Hujan di bulan Januari sungguh memang berarti hujan sehari-hari. Seperti siang itu, sebuah siang dengan mendung gelap. Genangan air meriak di sepanjang jalan. Angin basah berkesiur, menebarkan hawa dingin menggigilkan. Suasana yang membuat nyaris semua orang enggan meninggalkan rumah. Namun laki-laki itu tak merasa perlu untuk membatalkan perjalanan selanjutnya. Sejak matahari belum lagi sepenggalah, mereka telah meninggalkan rumah. Di rumah keluarga pertama, mereka telah sekalian beristirahat sejenak sambil mengeringkan badan serta shalat dzuhur dan makan siang. Maka kini tiba saatnya mereka menuju tempat berikutnya, 45 menit lamanya naik motor dengan kecepatan rata-rata.
Perempuan di boncengan motor itu termenung. Betapa adil Allah yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki ini. Di masa lajangnya, ia amat jarang bertandang ke kaum kerabatnya. Bukan, bukan karena ia tak punya kerabat di Jakarta, namun aktifitasnya yang sangat padat telah membuatnya nyaris tak punya waktu untuk bersilaturahmi, bahkan untuk dirinya sendiri. “Kapan terakhir kali kau berkunjung ke rumah bude-mu (sepupu ibunya) di Tebet?” pernah suaminya bertanya. “Hmm, mungkin dua atau tiga tahun lalu,” jawab perempuan itu ragu. “Kalau begitu, bude-mu mendapat jatah giliran silaturahmi pertama, oke?” saran sang suami.
Air kembali tumpah saat mereka tiba di sebuah komplek perumahan yang cukup elit. Sepasang anak kembar berceloteh riang menyambut mereka, bahkan kemudian menantang sang suami bermain catur. Seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu, bercengkerama dan bercanda gembira. Kadang-kadang, cengkerama itu diselingi diskusi seru tentang pekerjaan dan kondisi Indonesia kontemporer. Selesai shalat ‘asar, mereka kembali memacu kendaraan ke tujuan ketiga. Lagi-lagi, rintik hujan kembali menghalangi pandangan mata. Kali ini, tak sampai tiga puluh menit mereka telah sampai di tujuan. Sayang, sang tuan rumah sedang jalan-jalan ke mall. “Kita tunggu saja, paling sebentar lagi pulang!” demikian simpul si laki-laki. Sang istri tak terkejut. Ini bukan yang pertama kali. Beberapa pekan sebelumnya mereka pernah mengunjungi seorang kerabat di Pasar Rebo yang jauhnya lebih dari dua puluh kilo meter dari rumah mereka. Sayang sekali, rumah yang mereka kunjungi tak berpenghuni. Mereka kembali pulang dalam gerimis, setelah menitip pesan ke tetangga. Pekan depannya, laki-laki itu kembali mengajak sang istri untuk mengunjungi keluarga itu. ‘Kemarin kan kita belum ketemu mereka?” demikian alasannya. Meski merasa aneh, sang istri hanya mengangguk saja. Ini adalah pelajaran untuk sebuah ketulusan, demikian batinnya.
Air bagai dicurahkan dari langit ketika keluarga yang dikunjungi tiba di rumah. Sesosok balita laki-laki menghambur ke pelukan istri pria itu dan berceloteh riang, ”Tante, tadi aku ke Ramayana!” Hingga setelah shalat magrib dan hujan tak lagi mengguyur, mereka kembali menyusuri jalanan, menempuh jarak nyaris 40km. Pulang. Namun belum jauh mereka meninggalkan rumah yang dikunjungi, laki-laki itu membelokkan motornya ke jalan yang berlawanan arah dengan jalan menuju rumah. “Kita mampir sebentar ke kost-an temenku. Sudah lama dia tak berkabar dan belum juga memenuhi janjinya berkunjung ke rumah kita,” tanpa ditanya, dia menjelaskan kepada istrinya.
Malam telah cukup jauh beranjak saat mereka tiba kembali di istana mungil mereka. Masih dengan kostum lengkap, sang istri langsung merebahkan diri di pembaringan. “Aku meluruskan badan sebentar, ya. Punggungku pegal sekali dan pantatku panas,” seringainya lucu. Dia bertanya-tanya jika ia yang hanya membonceng di belakang saja secapek itu, seperti apa lelah suaminya yang menyetir di depan dengan beban dirinya di punggung, plus terpaan angin dan hujan dari depan? Tapi laki-laki itu hanya tersenyum, mengusap keningnya dan berkata,”Pekan depan kita ke rumah Bulik Nur di Tambun, yuk, Dek?”
Dalam deraan penat dan dengan mata tertutup, perempuan itu mengangguk mantap. Di benaknya terbayang sambutan hangat kaum kerabat dan sahabat-sahabat suaminya saat ia dan suaminya mengunjungi mereka. Di telinganya terngiang kembali komentar beberapa kerabat lain,”Suamimu itu dari dulu terkenal kenceng silaturahminya, makanya dia disayang oleh saudara-saudaranya.” Dia membuka mata saat sang suami menyentuh lengannya. “Kita sudah seminggu lebih nggak main ke rumah Mbak Nik, ya Dek?” tanya suaminya retoris. “Besok malam, insyaAllah,” jawabnya pendek. Padatnya pekerjaan telah melewatkan jadwal mingguan mereka berkunjung ke salah satu kerabat yang rumahnya hanya terpisah jarak dua gang dari rumah mereka itu. Perempuan itu kembali mengatupkan kelopak matanya. Di benaknya kini terlintas kata bijak para ulama, silaturahmi itu memanjangkan umur dan melapangkan rizki. Di benaknya kini terlintas sabda rasul agar setiap anak menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tuanya. (@Azimah Rahayu)
# Lt. 8, hujan sore-sore, 26/01/06
08:40 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this
01/30/2006
Nikmat Mana Lagi ?
Saat itu kami; aku, bapak dan Shafiya sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kami baru saja pulang dari menikmati semangkuk Soto Lamongan Cak Har *slruup* yang terkenal itu. Tepat di traffic light menuju ke arah Margorejo, mobil berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Aku melayangkan pandangan ke seberang jalan. Nampak olehku sosok ibu pengemis dan anaknya yang sedang mesra bersenda gurau. Si anak rupanya haus dan alhamdulillah saat itu sang ibu ada rezeki untuk membelikan sekantung plastik es teh bagi si anak.
Dengan penuh rasa kasih sayang kantung plastik es teh itu dibuka dari ikatannya dan diminumkan ke si anak dengan menggunakan sedotan. Tampak si anak sangat menikmatinya, kehausan barangkali. Setelah si anak puas, ibu itu pun mencicipi es teh itu sedikit dan ternyata walaupun es teh itu hanya bersisa sangat sedikit, mungkin hanya satu tegukan lagi sisanya, sang ibu itu tetap menyimpan sisa itu dengan hati-hati dengan mengikat kembali kantung plastik es teh itu.. Subhanallah! Betapa orang seperti mereka sangat menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka serta menjaganya dengan sangat hati-hati.
Dadaku terasa sesak, bersamaan dengan itu air mata mulai menetes.. Teringat akan percakapanku dengan Shafiya di depot soto itu, "Nak, udah deh, ice tea-nya nggak usah dihabiskan. Ayo.. cepetan, Bapak sudah menunggu di mobil." Betapa bodohnya aku yang malah mengajarkan anakku untuk berbuat suatu hal yang mubazir yang mencerminkan rasa tidak bersyukur padaNya. Astagfirullah.
Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi saya memaknainya lain. Alhamdulillah.Allah memberi saya petunjuk untuk selalu mensyukuri nikmatNya dalam ketaatan kepadaNya. Syukur Alhamdulillah. Ibu pengemis itu telah mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai nikmatNya.
Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya. Dalam studi dan karir insya Allah saya selalu lancar. Ketika saya berdoa agar mendapat pendamping hidup yang sholeh, Allah dengan cepat mengabulkan permintaan saya. Ketika saya berdoa agar dikarunai anak yang menyejukkan pandangan orang tuanya, Allah dengan berbaik hati mengabulkan permohonan saya itu.. Namun.dari banyak nikmat yang ada, sedikit sekali saya mampu menyentuhkan dahi bersujud pada Allah untuk menyampaikan rasa terima kasih saya.
Nikmat.. begitu banyak yang saya lewatkan tanpa mensyukurinya. Ya Allah.. janganlah golongkan saya menjadi orang-orang yang merugi karena kufur terhadap nikmatMu... (Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNya. Dan Allah meninggikan langit dan Dia melektakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluknya, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bungaan yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar Rahman: 1-13)
by : Bunda Shafiya
07:35 Posted in Artikel Lepas | Permalink | Comments (0) | Email this

