09/01/2006

INGATLAH SELALU

Apa kabar sahabatku... ??
Lama nian kita tak jumpa dan tak bertegur sapa
Saya yakin bukan karena kebencian diantara kita
Sayapun yakin bukan karena apa - apa...
Tapi rutinitas kesibukan yang tlah menjebak kita

Satu hal sebagai bahan renungan kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa

Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang
Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak
saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok kita....
Itulah jasad kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih Kain
itu ...jarang orang
memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan Wewangian
ditaburkan ke baju
kita...
Bagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana
keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga Serta rasa
haru para handai
taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air
mawar..pengantar akhir kerinduan

dan akhirnya.... .
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan

Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan... .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu..
Menetapkanmu ke syurga.. Atau melemparkan dirimu ke
neraka..
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sudah pantaskah sikap kita selama
ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga ?????????

Sahabat...mohon maaf...jika malam itu aku tak
menemanimu
Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat.. ..
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Tapi
percayalah.. .aku pasti kan mendo'akanmu. ..
Karena ...aku sungguh menyayangimu. ..
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo'a...semoga kau jadi ahli syurga. Amien

Sahabat..... , jika ini adalah bacaan terakhirmu Jika
ini adalah renungan
peringatan dari Kekasihmu Ambillah hikmahnya... ..
Tapi jika ini adalah salahku...maafkan aku....
Terlebih jika aku harus mendahuluimu. ...
Ikhlaskan dan maafkan seluruh khilafku
Yang pasti pernah menyakiti atau mengecewakanmu. ....
kalau tulisan ini ada manfaatnya.. ..
Silakan di print ou dan kau simpan sebagai renungan...
Siapa tahu ...suatu saat kau ingat padaku Dan...aku
tlah di alam lain....
Satu pintaku padamu...
Tolong do'akan aku....-

01/06/2006

Saatnya Peduli

Saatnya Peduli

Musibah Dimana-mana

Di kota juga di desa

Tua Muda

Kaya Miskin

 

Saatnya Peduli

Peringatan dari Allah

Telah datang

Sudahkah kita mempersiapkan

Bekal kita pulang ?

Hujan Di Sore Hari

Hujan di Sore Hari

Aku gak jadi pulang

Terkatung-katung

Aku di kantor

Hujan di sore hari...

 

 

 

01/02/2006

Tersenyum

Hari ini aku akan tersenyum menatap masa depan
Sebagai bukti hari ini aku akan tersenyum pada orang yang kutemui
Aku akan tersenyum pada keluargaku
Aku akan tersenyum pada teman-teman sejawat
Aku akan tersenyum pada istri dan anakku
Aku akan tersenyum pada pekerjaanku…

Aku optimis akan masa depanku
Karena aku punya impian
Karena aku focus pada bidang dan tujuanku
Karena aku tekun dan sabar
Karena aku percaya Allah besertaku
Karena aku yakin rizkiku
Karena aku menerapkan hukum pertambahan
Yaitu hukum dimana aku harus bertindak untuk semakin mendekati impianku
Tiap hari aku berbuat untuk melangkah
Aku takkan gagal karena banyak yang bisa kujadikan contoh
Aku bangga akan diriku, bukan karena tidak pernah jatuh atau gagal
Tapi aku selalu bangkit dari kegagalan
Mari tersenyum bersama penuh optimisme
Songsong hari depan yang lebih baik

 

12/02/2005

Kisah Dari Negeri Yang Menggigil

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL

 (untuk adinda: Khaerunisa)


      Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam

yang membayangi dan terus mengikuti

hinggap pada kata-kata

yang tak pernah sanggup kususun

juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu

yang membuat tangis seakan tak berarti

saat para bayi yang tinggal belulang

mati dikerumuni lalat karena busung lapar

: aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi

ada anak-anak kecil

memilih bunuh diri

hanya karena tak bisa bayar uang sekolah

karena tak mampu membeli mie instan

juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu

dari berbagai penjuru

menancapi hati

mengiris sendi-sendi diri

sampai aku hampir tak sanggup berdiri

: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil

Pada suatu hari yang terik

      nadimu semakin lemah

tapi tak ada uang untuk ke dokter

atau membeli obat

sebab ayahmu hanya pemulung

kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo

tak makan, tak minum

sebab uang tinggal enam ribu saja

mereka tuju stasiun

sambil mendorong gerobak kumuh

kau tergolek di dalamnya

berselimut sarung rombengan

pias terpejam kaku

Airmata bercucuran

peluh terus bersimbahan

Ayah dan abangmu

akan mencari kuburan

tapi tak akan ada kafan untukmu

tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah

hanya matahari mengikuti

memanggang luka yang semakin perih

tanpa seorang pun peduli

: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda

biar kulihat senyummu

katakan ini hanya mimpi buruk

ini tak pernah terjadi di sini

sebab ini negeri kaya, negeri karya.

Ini negeri melimpah, gemerlap.

Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka

aku pun sedang terjaga

sambil menyesali

mengapa kita tak berjumpa, Adinda

dan kau taruh sakit dan dukamu

pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam

semakin membayangi

kulihat para koruptor

menarik ulur benangnya

sambil bercerita

tentang rencana naik haji mereka

untuk ketujuh kalinya

 Aku putuskan untuk tak lagi bertanya

 pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun

sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.


       : aku memang sedang berada di negeriku

yang semakin pucat dan menggigil

 

(Abdurahman Faiz,  7 Juni 2005)

12/01/2005

"KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM"

"KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM"


                                                     oleh Prof. Winarno Surahman


"Tanpa sebuah kepalsuan,
guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.

Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"

"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"

"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"

"Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"