09/29/2006
Tanpa Judul
09:00 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this
02/28/2006
Agar Cinta Tak Bertepuk Sebelah Tangan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima
ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima
pimpinan dan tidak begitu setiakawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban,
tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi
pemimpin agar pengikut menjadi agak segan
Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan
tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup
engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau
tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang
engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, tapi para tamu engkau abaikan,
anak isteri engkau lupakan dan ilmu berjuang engkau
tinggalkan
Engkau ingin berjuang, tapi pandangan engkau tidak
diselaraskan, rasa bertuhan engkau abaikan dan iman
taqwa engkau lupakan
- Qathrunnada -
Hudzaifah.org - Benarkah engkau seorang pejuang?
Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah,
sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak
mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid,
namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala sindir di dalam Al Qur'an, "Apakah
kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan 'kami
beriman' sedang mereka tidak di uji lagi?" (QS. Al
Ankaabut: 2-3)
Sang Pejuang Sejati
Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah
kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di
jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan
dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi
tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa. "Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabar." (QS. 3:142).
Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan
yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan
hukum ekonomi kapitalis, "Mendapatkan output yang
sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input
yang seminimal mungkin."
Aduhai., sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara
yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan
bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW
bersabda, "Generasi awal sukses karena zuhud dan
teguhnya keyakinan,sedang ummat terakhir hancur karena
kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah."
Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di
dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang.
Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada
dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya
lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang
nyata. Demi Allah., keimanan bukanlah dilihat dari
yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari
yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan
bukan pula dari yang
paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat
Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang
paling banyak simbol-simbol keagamaannya.
Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya
keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan
sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar
menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi
Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur'an.
Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal
akhir, surga.
Pengorbanan
Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda'wah,
sudah menganggap diri telah melakukan totalitas
perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan
da'wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana
dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5, "....Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang
dan malam." Pun dalam surat Al Muzzamil, "Hai orang
yang berkemul, bangunlah
lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah."
Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu
siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang
ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk
menegakkan Al Haq.
Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik
makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian.
Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton
sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar
lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak
tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap
mendapatkan syurga? Sangatlah jauh. bagaikan punduk
merindukan rembulan.
Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah
saw, Abu Bakar, Umar, Mush'ab bin Umair dan para
sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan
hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup.
Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela
menikmati dunia yang melalaikan.
Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan
dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah
lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan
yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga
dan neraka.
Ada amanah da'wah yang besar di pundaknya, lantas
bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak
bercanda?
Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan "keseriusan"
atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10
wasiatnya.
Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak
pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan.
Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa
jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah-
jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir.
Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak
ketika Al Qur'an dibacakan di dalam pembukaan ta'lim.
Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak
mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur'an itu
baru sampai di tenggorokan saja. "Akan tiba suatu masa
dalam ummat ketika orang
membaca Al Qur'an, namun hanya sebatas tenggorokannya
saja (tidak masuk ke dalam hatinya)." (HR. Muslim).
Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi.,
ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.
Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang
pergerakan dan
mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa
dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor
penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.
20 Muwashofat Sang Pejuang
Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki
pejuang, yang disarikan dari
Al Qur'an dan hadits, yaitu :
1. Aqidahnya bersih (saliimul 'aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I'baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun 'alal
kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun 'alal
waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi'un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar
(Ba'iidun 'anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul
lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun
filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara
kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul
'afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq,
Al-amanah-wasyja'ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun
fil'amal)
17. Rendah hati (Tawadhu')
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru
wal-bina')
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun
lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
(Asysyidda'u 'alal kuffar)
Penutup
Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita
belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria
(muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita
terkena hadits ini, "Akan datang suatu masa untuk
ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur'an
kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali
namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka
dengan nama ini
meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya."
(Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).
Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata
kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai
pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa
Ta'ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama
kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya
bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk
sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah
mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak,
maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu.
Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di
dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang
kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita
mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita. "Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka
dan merekapun mencintai-Nya.." (QS. Al Maidah : 54 -
56). []
by : Ayat Al- Akrash ( hudzaifah.org )
04:34 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this
02/17/2006
Membangun Masa Depan
Hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.
Orang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan, modal termahal dalam hidup adalah waktu. Dalam QS Al-'Asher [103] ayat 1-3, Allah SWT berfirman bahwa untung ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada di luar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ketiga.
Seburuk apa pun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan. Demikian pula dengan masa datang. Maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita tapi tidak melakukan apa pun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.
Belajar Menghitung
Saudaraku, kita harus mulai menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah sebuah jaminan. Kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Uang yang kita dapatkan sekarang adalah tabungan masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara tidak halal, niscaya aibnya akan segera kita rasakan.
Karena itu, terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran dan hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap. Tapi kalau kita bicara sepuasnya, berpikir sebebasnya, tak usah heran bila saat kematian menjadi saat paling menakutkan.
Menyongsong Masa Depan Cerah
Ada tiga cara agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari kita menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.
Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Di mana pun kita berada lakukan yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak dilihat kita jalan terus.
Ketiga, terus melatih diri agar mampu menasihati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, dan terus melatih diri untuk mampu menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Kita akan mampu memberi nasihat, kalau kita senang diberi nasihat. Wallahu a'lam.
Penulis : Aa Gym ( KH. Abdullah Gymnastiar )
Sumber : http://republika.co.id
10:42 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (1) | Email this
01/26/2006
Sahabat Sejati
KotaSantri.com : "Barangsiapa yang salah memilih tukang cukur, ia akan menyesal sebulan. Barangsiapa yang keliru memilih teman hidup, ia akan menyesal di dunia. Dan barangsiapa yang salah memilih agama, maka ia akan menyesal dunia akhirat."
Itulah untaian kata-kata yang masih terus terngiang dalam benak kita. Mutiara hikmah yang dipesankan leluhur, orang tua, dan guru ngaji di waktu kecil, agar kita lebih jeli dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, agar kita mantap menatap masa depan.
Kehadiran sahabat sejati menjadi dambaan setiap kita. Ia adalah pelita penerang dalam kehidupan. Ia bak bintang yang menemani sang rembulan di langit malam, bersama menghiasi panorama kegelapan. Ia selalu membawa keteduhan dan kesejukan dimana pun ia berada. Tak heran bila kepergiannya pun akan meninggalkan sejuta kenangan. Hari-hari kebersamaan dengannya selalu sulit untuk dilupakan, selamanya.
Ikatan ukhuwah bagi sahabat semacam ini tak akan putus diterjang badai kepentingan duniawi bernama materi, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Jarak yang jauh, perbedaan waktu dan ruang juga bukan menjadi penghalang, karena pancaran kasih sayangnya timbul dari lubuk hati yang dalam. Bukan dari lisan yang suka berbohong. Bukan pula dari titah nafsu yang penuh noda.
Dia mungkin tak sempat sekolah ke luar negeri, jangankan ke luar negeri melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi tidak mampu. Tidak dapat ke sana-ke mari sebebas kita-kita juga. Kehidupan dunianya pun kadang masih 'Senin - Kamis'. Tapi di tengah kondisi yang seperti itu ia masih sempat untuk selalu melemparkan senyum keakraban saat berpapasan. Ia masih punya waktu untuk menyediakan sapa mesra saat bertemu.
Tausyiahnya begitu menyentuh. Kata-katanya memberikan tetes embun kesejukan. Kondisi yang ada menjadikannya begitu tawadhu' dengan segala keagungan yang dimilikinya. Subhanallaah, kesabarannya membuat semua kekurangan yang dipunyainya menjadi nikmat yang tak terkira, menjadi pesona yang tak ternilai.
Ia memang tidak harus selalu mengiyakan semua tingkah laku kita. Ia tidak mesti selalu sependapat dan melulu memuji. Tidak pula harus selalu tampak sejalan dengan pikiran kita. Tapi ada kalanya ia laksana obat, pahit namun mampu mengusir penyakit yang mungkin hinggap di tubuh sahabatnya. Ia berani mengkritik bijak setiap kesalahan kita. Ia takut kekurangan dan kesalahan itu akan membuat sahabatnya tercela di mata orang lain. Baginya, biarlah ucapannya terasa pahit di depan sang sahabat, ketimbang sang sahabat cacat di mata Allah, di mata agamanya, di mata orang lain.
Ia juga setia mengingatkan di saat sang sahabat lalai. Ia memang tak hanya piawai membuat kita ceria dibuai hiburan dan pujian tulusnya, tapi juga mahir membuat kita menangisi kekeliruan, menyadari segenap kesalahan, menginsyafi segala kelalaian. Lalu ia membimbing dengan ikhlas, mengajak berjalan bersama, berjuang bersama. Dan yang terpenting, ia selalu mendukung, mengarahkan, dan memberi gagasan-gagasan cerdas untuk mengarungi kehidupan ini menuju muara cinta-Nya yang hakiki.
Ia akan mencintai kita sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Merasa gembira dengan kegembiraan kita, turut bersedih kala duka menyapa kita. Ia hafal benar bunyi hadits : "Tidak sempurna iman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri." Ia juga selalu ingat sabda Rasul SAW : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
"Islam hanya akan bisa bangkit kembali dengan cara seperti ini. Bukankah Rasulullah SAW telah mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin hingga persaudaraan mereka sampai melebihi saudara kandung?" Begitu jawabnya setiap ditanya tentang urgensi persaudaraan.
Ia pun sering membacakan hadits tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Ia juga tidak pernah bosan melantunkan hadits tentang syarat merasakan manisnya iman. Saling mencintai demi keridaan Allah, itulah prinsip hidup pegangannya. "Engkau membutuhkan sesuatu dariku dan aku bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu," kata-katanya yang selalu menghiasi lisannya yang sederhana.
Merekalah yang digambarkan Rasulullah SAW sebagai sekelompok hamba Allah di akhirat. Mereka bukan dari golongan nabi dan syuhada, akan tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat mulia, bahkan cahaya benderang dari wajah mereka membuat para nabi dan syuhada merasa iri. Mereka tidak merasa takut ketika orang lain merasa takut, dan mereka tidak merasa khawatir ketika orang lain dilanda kekhawatiran.
Sosok seperti inilah yang mampu menjadikan persahabatan sebagai jembatan menuju ridha Ilahi. Berbahagialah mereka yang sempat mendapatkan makhluk yang satu ini. Merasakan keindahan hakiki ditemani sosok mulia ini, sang pujaan hati, sahabat sejati. (Nur Sidi)
08:23 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (1) | Email this
01/19/2006
Majelis Manasik
Berikut adalah kumpulan materi manasik yang didapat dari SMS Manasik Haji. Point-point yang tercatat antara lain :
1. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Haji hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijma'.
2. Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka datang padamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh. ( QS. 22:27 )
3. Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah... ( QS. 2:196 )
4. Islam didirikan atas lima dasar yaitu bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikan shalat, Menunaikan puasa ramadhan, Menunaikan zakat dan berhaji. ( hadits )
5. Bersegeralah kalian melaksanakan haji, karena sesungguhnya seseorang tidak ada yang tahu sesuatu yang menghalanginya. ( HR. Ahmad ).
6. Rasulullah SAW ditanyakan tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab iman kepada Allah dan rasul-Nya, jihad di jalan Allah, dan haji yang mabrur.
7. Jihad orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan wanita adalah berhaji. ( HR. An-Nasa'i ).
8. Aisyah ra bertanya tentang mengapa wanita tidak boleh berjihad. Nabi SAW menjawab " Bagi kamu wanita ada jihad yang paling utama, yaitu haji mabrur."
9. Aisyah ra. bertanya apakah wanita punya kewajiban jihad. Beliau SAW menjawab, " Ya. Bagi mereka ada kewajiban jihad tanpa perang yaitu haji dan umrah. " ( hadits ).
10. Barangsiapa mengerjakan haji tapi tidak rafats ( berbuat/berkata cabul ) dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan ibunya. ( hadits ).
11. Mereka yang haji dan umrah adalah duta Allah. Bila mereka berdoa pasti dikabulkan dan bila mohon ampun pasti diampuni. ( Hadits ).
12. Anak-anak yang berhaji lalu mencapai usia balig, maka wajib berhaji lagi. Demikian pula budak yang berhaji lalu ia merdeka maka wajib berhaji lagi. ( Hadits ).
13. Seorang wanita bertanya apakah ia boleh menghajikan yang sudah tua hingga ia tak sanggup lagi berkendaraan. Nabi SAW menjawab, " Boleh.". ( Hadits ).
14. Ditanyakan kepada Nabi SAW tentang orang yang belum pernah haji, apakah boleh berhutang untuk berhaji. Beliau menjawab, " Tidak boleh.". ( Hadits ).
15. Orang yang telah mampu untuk berhaji tapi ia enggan melaksanakannya, maka janganlah orang tersebut mati seperti matinya orang Yahudi atau Nasrani. ( Imam Ali ).
04:40 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this
11/30/2005
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah
KH. Rahmat Abdullah (alm)
AlDakwah.org--Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai
akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling
bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang
disampaikan Kanjeng Nabi SAW :
"Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan
menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara
proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau
cintai."
(Hadist Sahih Riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi,
Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal.
Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i
yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq".
Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada
Alkhaliq. (Hadist Sahih Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya
pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu
adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah
garis rahabatus'shadr (lapang hati) dan batas tertinggi (upper) tidak
melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya,
maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan
da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan
oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang
lebih baik. "Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan
kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang
sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah
terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh
urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang
bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'wah dan
menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat
seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah, Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari
kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan
lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman
menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak
sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung
di wajah pengantinku tercinta", tuturnya.
Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung,
seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi
yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi
hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang
kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu.
"Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?"
Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau
da'wahku ?".
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu
nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang
pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00.
Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita
menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan
kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya
tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan
pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun
membaik setelah beberapa hari.
Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan
menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa
tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah
tersebut sudah menikmati berkah da'wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah.
Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap
ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absent
dalam pertemuan rutin. Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai
menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna
waahluna": "kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11).
Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya
harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan
harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang
sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?".
Maka ia pun absen lagi dan di muhasabah lagi sampai dan menangis-nangis
lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai,
mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika
harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak
hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah.
Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki
komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki
kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, yang penuh berkah.
Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain
pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati
ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, "in
lam takun bihim falan takuna bighoirihim".
Di Titik Lemah Ujian Datang
Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu
simpul.
Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163:
"Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka
melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan
buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak
ber-sabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena
kefasikan mereka".
Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi
munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini
terkait dengan ujian.
Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar,
tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hari
hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan,
keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai
kenikmatan hidup yang kita rasakan.
Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya,
maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian
kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah
rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini
tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.
Seorang Ustadz, ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah,
mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan
alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan
kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka
bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Ustadz tersebut.
Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena
sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada
titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang
seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50
datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang
menyibukkan mereka dengan berbagai cara.
Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti
kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika
kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos
segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum
tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada
tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.
Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam
berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban
liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu,
pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari
kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan.
Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan: "Seandainya para raja
dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir
dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita
dengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti,
dihayati dan diperjuangkan. Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah
nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama
ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka
menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang
menipu dan impian yang tak kunjung putus.
Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah
di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di
bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang
keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah
di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi
popularitas, riya' mungkin -dimasa ujian- akan menemukan orang yang
terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin
diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun
(klarifikasi).Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara
yang membuat dia hanya 'selamat' dengan berdusta lagi. Dan itu arti
pembesaran bencana.
Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah
(dahulu
Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia
tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya.
Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan
akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah
SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang
ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan
kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan
penyesalan.
Seni Membuat Alasan
Perlu kehati-hatian -sesudah syukur- karena kita hidup di masyarakat
Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas
tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan
baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak
berhak atas kemuliaan itu.
Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. "Ya ALLAH, jadikan daku lebih
baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka
dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih.
Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ?
"Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal
engkau tahu betapa diri kamu jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman
Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para
hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu
mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan
lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman
maaf, "Afwan ya Akhi".
Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar
Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita 'menyumbangkan' karya kecil kita,
memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan
kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita,
tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah. "Mereka
membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan :
'Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi
kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu
karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang
jujur" (Qs. 49;17).
ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah
karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu
-karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia
yang tidak maksum dan sempurna- menunggu musibah dan kegagalan, untuk
kemudian mengatakan : "Nah, rasain !" Sepantasnya bayangkan, bagaimana
rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.
Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi
mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak
motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya
dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : "Untukmu pun hak
seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah
dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling
mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan
cinta fi'Llah.
Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan
cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.
10:46 Posted in Tausyiah | Permalink | Comments (0) | Email this


